Manila – Mantan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, ditangkap pada hari Selasa (11/3/2025) di Bandara Internasional Ninoy Aquino setelah kembali dari Hong Kong. Penangkapan ini dilakukan berdasarkan surat perintah dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan selama masa kepresidenannya.
Duterte dituduh bertanggung jawab atas pembunuhan ribuan pelaku dan bandar narkoba di Filipina.
Ditangkap Setelah Satu Bulan Putrinya Dimakzulkan
Penangkapan Duterte terjadi hanya satu bulan setelah putrinya, Wakil Presiden Sara Duterte, dimakzulkan oleh Senat Filipina. Pemakzulan ini dilakukan atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Sara Duterte, yang sebelumnya menjabat sebagai walikota Davao City, telah menjadi tokoh kontroversial dalam politik Filipina.
Sebagaimana berita yang sudah beredar, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Filipina memakzulkan Duterte pada Rabu bulan Februari lalu (5/2/2025). Sara Duterte dimakzulkan atas tuduhan “pelanggaran konstitusi, pengkhianatan terhadap kepercayaan publik, korupsi, dan kejahatan besar lainnya.”
Tuduhan terhadap Sara Duterte termasuk rencana untuk membunuh Presiden “Bongbong” Marcos Jr, Ibu Negara Liza Marcos, dan Ketua DPR Martin Romualdez, sepupu Marcos.
Senat Filipina nantinya akan memutuskan apakah Sara Duterte perlu dicopot dari jabatannya melalui sidang pada 2 Juni mendatang.
Jika terbukti bersalah dalam sidang Senat, dia akan dilarang untuk mencalonkan diri dalam jabatan publik di masa depan.
Termasuk larangan untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028.
Dengan demikian “Bongbong” Marcos Jr (incumbent) diperkirakan tak akan mendapatkan lawan sepadan mencalonkan lagi sebagai Presiden Filipina.
Reaksi Masyarakat
Penangkapan dan pemakzulan ini menimbulkan reaksi beragam di kalangan masyarakat Filipina. Kelompok hak asasi manusia dan keluarga korban perang melawan narkoba menyambut baik langkah ini sebagai langkah menuju akuntabilitas dan keadilan. Namun, pendukung Duterte menganggap tindakan ini sebagai bentuk penindasan dan penganiayaan terhadap keluarga Duterte.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Rodrigo Duterte menyatakan bahwa ia siap menghadapi tuduhan tersebut dan akan membela dirinya di pengadilan. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak menyesali apa pun yang dilakukannya selama menjabat sebagai Presiden Filipina.
Penangkapan dan pemakzulan ini menjadi babak baru dalam dinamika politik Filipina yang penuh gejolak. Bagaimana nasib dinasti politik Duterte selanjutnya? Hanya waktu yang akan menjawab.