Elmedia – Dalam gemuruh dunia maya yang tak pernah hening, Gita Savitri Devi, atau yang akrab disapa Gitasav, melangkah dengan keyakinan yang teguh.
Keputusannya untuk menjalani hidup tanpa anak, atau yang dikenal dengan istilah childfree, menjadi sorotan tajam masyarakat. Pilihan hidupnya ini menuai beragam reaksi, dari dukungan hingga hujatan yang mengiris perasaan.
Jejak Langkah Gitasav
Lahir di Palembang pada 27 Juli 1992, Gitasav menempuh pendidikan tinggi di Freie Universität Berlin, Jerman, dengan mengambil jurusan Kimia Murni untuk jenjang S1 dan S2.
Sebelum berangkat ke Jerman, Gitasav mempersiapkan diri dengan mengikuti kursus bahasa Jerman di Goethe-Institut Jakarta. Di negeri asing itulah, pandangannya tentang kehidupan semakin terbuka, termasuk mengenai keputusan untuk tidak memiliki anak.
Pilihan Childfree dan Badai Kritik
Keputusan Gitasav untuk childfree bukanlah tanpa alasan. Bersama sang suami, Paul Partohap, mereka sepakat bahwa memiliki anak adalah tanggung jawab besar yang harus dipersiapkan dengan matang.
Namun, di tengah masyarakat yang memandang anak sebagai anugerah dan penerus generasi, pilihan ini dianggap tabu. Tak pelak, hujatan dan kritik pun menghampiri Gitasav dari berbagai penjuru.
Tekanan Mental dan Titik Terendah
Gelombang kritik yang datang bertubi-tubi membawa Gitasav ke dalam pusaran tekanan mental yang hebat. Dalam sebuah unggahan di Instagram Story, ia mengungkapkan bahwa dirinya hampir melakukan tindakan nekat akibat perundungan daring yang diterimanya.
“Aku hampir melakukan ini (bunuh diri) lho. Gw di-harass-nya GILA-GILAAN sama orang-orang ini,” tulisnya.
Ia merasa dihakimi dan disalahkan oleh mereka yang mengaku lebih agamis dan Islami. “Apalagi, yang bikin berat itu dihakimi dan disalah-salahkan sama orang yang ngakunya lebih agamis dan lebih Islami,” ungkapnya.
Kondisi ini membuatnya frustasi dan mengalami pergulatan batin yang mendalam.
Ancaman dan Keteguhan Sikap
Tak berhenti pada hujatan, ancaman pembunuhan pun menghampiri Gitasav. Melalui unggahan di Instagram Story pada 14 Maret 2025, ia mengungkapkan bahwa dirinya menerima ancaman dari kelompok yang mengklaim sebagai paling damai, merujuk pada kaum muslim konservatif. Namun, di tengah badai ancaman dan kritik, Gitasav tetap teguh pada pendiriannya.
Refleksi dan Pesan untuk Masyarakat
Kisah Gitasav adalah cermin bagi kita semua tentang bagaimana perbedaan pilihan hidup dapat memicu reaksi yang beragam. Ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi perbedaan dan tidak mudah menghakimi pilihan hidup orang lain.
“Melihat gimana nasty-nya behavior mereka, at the same time mereka bawa-bawa ayat (Al-Qur’an). Wah, itu rasanya campur aduk,” ungkapnya.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih menghargai pilihan hidup setiap individu dan menciptakan ruang diskusi yang sehat tanpa harus menjatuhkan satu sama lain.