Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Bersejarah! Tiga Musuh Bebuyutan ini Duduk Bareng Bahas Kerjasama

badge-check


					Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Tae-yul, Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba, dan Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo, Jepang. Perbesar

Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Tae-yul, Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba, dan Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo, Jepang.

Tokyo – Para menteri luar negeri dari Jepang, China, dan Korea Selatan menggelar pertemuan di Tokyo pada Sabtu (22/3/2025), membahas isu-isu keamanan dan ekonomi di Asia Timur di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

“Menghadapi situasi internasional yang semakin kompleks, saya percaya kita berada di titik balik sejarah yang penting,” ujar Menteri Luar Negeri Jepang, Takeshi Iwaya, dalam pembukaan pertemuan trilateral bersama Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Tae-yul.

Dalam pertemuan tersebut, ketiga negara sepakat untuk mempercepat persiapan KTT trilateral di Jepang tahun ini. Mereka juga membahas tantangan demografi yang dihadapi ketiga negara, termasuk angka kelahiran yang menurun dan populasi yang menua.

Upaya Meningkatkan Kerja Sama di Tengah Rivalitas Global

Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak 2023 dan berlangsung dalam konteks perubahan dinamika global. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang semakin tidak menentu membuka peluang bagi China untuk mempererat hubungan dengan negara-negara yang selama ini lebih dekat dengan Washington.

“Tiga negara kita memiliki populasi gabungan hampir 1,6 miliar jiwa dan output ekonomi lebih dari 24 triliun dolar AS. Dengan pasar yang luas dan potensi besar, kita dapat memberikan pengaruh yang signifikan,” ujar Wang Yi.

China juga mendorong dilanjutkannya pembicaraan perdagangan bebas dengan Jepang dan Korea Selatan serta memperluas keanggotaan dalam Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang terdiri dari 15 negara.

Namun, berbagai tantangan tetap menjadi hambatan bagi kerja sama yang lebih erat. Beijing masih berselisih dengan Tokyo dan Seoul terkait dukungannya terhadap Korea Utara, peningkatan aktivitas militernya di sekitar Taiwan, serta hubungannya dengan Rusia dalam perang di Ukraina.

Isu Keamanan dan Perdagangan dalam Agenda

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Tae-yul, mendesak China untuk menggunakan pengaruhnya guna membujuk Korea Utara agar meninggalkan program nuklirnya.

“Saya juga menegaskan bahwa kerja sama militer ilegal antara Rusia dan Korea Utara harus segera dihentikan, dan Korea Utara tidak boleh diberi imbalan atas tindakan-tindakannya dalam proses penyelesaian perang di Ukraina,” kata Cho.

Sementara itu, Iwaya juga menggelar pertemuan bilateral dengan Wang Yi, yang menjadi dialog ekonomi tingkat tinggi pertama antara Jepang dan China dalam enam tahun terakhir. Salah satu isu utama yang dibahas adalah larangan impor produk perikanan Jepang oleh China sejak pelepasan air limbah dari pembangkit nuklir Fukushima pada 2023.

“Saya menegaskan kembali komitmen China yang dibuat pada September lalu untuk mengizinkan impor produk laut tertentu, dan saya juga meminta perluasan impor produk pertanian Jepang seperti daging sapi dan beras,” kata Iwaya.

Ketiga negara berjanji untuk terus menjajaki cara-cara guna meningkatkan kerja sama di tengah tantangan geopolitik yang semakin kompleks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional