Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Ukraina dan Eropa Tolak Proposal Damai AS

badge-check


					Ukraina dan Eropa Tolak Proposal Damai AS Perbesar

Paris – Upaya diplomatik Amerika Serikat untuk mengakhiri perang Rusia Ukraina menghadapi hambatan signifikan pekan ini. Para pejabat Ukraina dan Eropa menolak sejumlah poin dalam proposal Washington, dan mengajukan serangkaian usulan tandingan. Perselisihan itu mencakup isu-isu sensitif mulai dari pengakuan wilayah hingga mekanisme sanksi terhadap Rusia.

Dua dokumen yang berbeda, berasal dari pertemuan diplomatik tertutup di Paris pada 17 April dan London pada 23 April, mengungkap ketegangan dalam pembahasan. Proposal awal disampaikan oleh utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, sementara dokumen tandingan dirumuskan dalam pertemuan Ukraina dan perwakilan Eropa di London.

Perbedaan Tajam dalam Proposal Damai

Dalam dokumen pertama yang disebut sebagai “tawaran final dari Amerika Serikat”, AS mengusulkan pengakuan resmi atas aneksasi Krimea oleh Rusia serta pengakuan de facto atas wilayah selatan dan timur Ukraina yang kini dikuasai Moskow. Sebaliknya, dokumen tandingan dari Eropa dan Ukraina menunda pembahasan soal wilayah hingga setelah gencatan senjata tercapai, tanpa menyebut pengakuan atas kendali Rusia di wilayah mana pun.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menegaskan sikapnya pada Kamis (24/4/2025), bahwa Kyiv tidak akan pernah mengakui Krimea sebagai milik Rusia. Pernyataan ini memicu kritik dari Trump, yang dalam wawancaranya dengan Time menyatakan bahwa “Krimea akan tetap bersama Rusia” dan bahwa ia tidak yakin Ukraina bisa bergabung dengan NATO.

Jaminan Keamanan dan Keanggotaan NATO

Soal keamanan jangka panjang, versi AS menawarkan “jaminan keamanan kuat” dari negara-negara sahabat Eropa, namun dengan syarat bahwa Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO.

Sebaliknya, dokumen tandingan Ukraina dan Eropa lebih tegas, menyatakan tidak ada batasan pada kekuatan militer Ukraina dan membuka kemungkinan penempatan pasukan asing dari negara sekutu di tanah Ukraina. Bahkan, mereka mengusulkan mekanisme jaminan mirip Pasal 5 NATO.

Sanksi dan Kompensasi Ekonomi

Perbedaan mencolok juga muncul dalam hal ekonomi. Proposal Witkoff mencantumkan pencabutan sanksi AS yang diberlakukan sejak 2014 terhadap Rusia sebagai bagian dari kesepakatan damai. Namun, usulan Eropa dan Ukraina mengusulkan pelonggaran bertahap setelah perdamaian tercapai secara berkelanjutan, dan penjatuhan ulang sanksi jika Rusia melanggar perjanjian.

Terkait kompensasi, dokumen Ukraina menyebut bahwa dana pemulihan harus bersumber dari aset Rusia yang dibekukan di luar negeri, sementara dokumen AS hanya menyebut kompensasi tanpa merinci sumbernya.

Tekanan Diplomatik dan Kunjungan ke Moskow

Witkoff dilaporkan tiba di Moskow pada Jumat (25/4/2025) untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, memperkuat kesan bahwa Washington ingin mempercepat proses damai.

Beberapa diplomat Eropa menyatakan kekhawatiran bahwa tekanan terhadap delegasi AS untuk mencapai kemajuan, telah menimbulkan kekhawatiran bahwa Ukraina dan Eropa akan didorong ke arah kompromi yang prematur.

Meski begitu, Zelenskiy menyebut pembicaraan di London sebagai “konstruktif”, walau tidak mudah. Pertemuan itu menghasilkan dokumen baru yang kini disebut-sebut telah berada di meja Presiden Trump.

Diplomasi ini menandai upaya paling serius sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada Februari 2022. Saat ini, hampir seperlima wilayah Ukraina masih berada di bawah kendali pasukan Rusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional