Jakarta – Pemilu Australia 2025 menjadi momen bersejarah bagi politik Negeri Kanguru. Perdana Menteri petahana, Anthony Albanese, berhasil memenangkan masa jabatan kedua secara meyakinkan, mengamankan mayoritas suara untuk Partai Buruh. Di sisi lain, pemimpin oposisi Peter Dutton mengalami kekalahan telak yang mengakhiri 24 tahun kiprahnya di parlemen.
Kemenangan Albanese menegaskan dukungan publik terhadap stabilitas di tengah tantangan ekonomi global dan krisis biaya hidup. Sebaliknya, hasil ini mencerminkan penolakan luas terhadap gaya politik Dutton yang dinilai terlalu keras dan terinspirasi oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kampanye yang Gagal Baca Pemilih
Pemilu kali ini diawali dengan prediksi keunggulan Dutton. Ia tampil percaya diri dengan kritik tajam terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Albanese. Namun, seiring berjalannya kampanye, daya tarik itu memudar. Koalisi Liberal-Nasional yang dipimpinnya gagal menawarkan alternatif yang jelas dan meyakinkan.
Serangkaian kebijakan yang membingungkan, seperti rencana pemotongan 40.000 pekerjaan sektor publik, pelarangan kerja dari rumah, hingga sikap mendua soal pemotongan pajak dan pengeluaran besar negara, membuat publik ragu. Dutton bahkan sempat membatalkan sendiri beberapa rencananya, menyebutnya sebagai “kesalahan”.
“Orang tidak paham arah kebijakan Dutton,” ujar seorang anggota Koalisi di Dickson, daerah pemilihan Dutton yang kini direbut Partai Buruh.
Efek Trump dan Koalisi Kanan
Salah satu isu paling mencolok dalam kampanye adalah citra Dutton yang terlalu dekat dengan gaya politik Trump. Retorika keras terhadap Tiongkok, dukungan terhadap kebijakan penahanan imigran, serta pengangkatan Jacinta Nampijinpa Price sebagai “menteri bayangan efisiensi” — yang sempat tampil mengenakan topi bertuliskan “MAGA” — memperkuat persepsi publik tentang kemiripan itu.
“Pesan mereka seolah mendukung Trump dan anti-demokrat AS,” kata Frank Mols, dosen ilmu politik University of Queensland. Hal ini justru menimbulkan kecemasan, apalagi di tengah ketegangan geopolitik dan ancaman perang dagang AS–Tiongkok.
Koalisi juga memperbesar risiko dengan menggandeng Partai One Nation yang ekstrem kanan. Strategi ini gagal menarik suara moderat dan justru mempersempit basis dukungan. “Mereka salah membaca suasana pemilih,” kata Ben Wellings dari Monash University.
Isu Biaya Hidup Jadi Penentu Pemilu Australia 2025
Di tengah berbagai kontroversi dan inkonsistensi Koalisi, Partai Buruh tampil lebih solid. Kampanye mereka fokus pada isu konkret: penguatan layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan masyarakat dari dampak krisis biaya hidup.
“Dutton tampak lebih sibuk menyerang lawan daripada menawarkan solusi,” kata Jacob Broom dari Murdoch University.
Kesalahan-kesalahan kecil, seperti menyebut harga telur dengan separuh dari harga pasar, atau insiden menendang bola ke kameramen, menambah buruk citra Dutton dalam pemilu yang sangat sensitif terhadap isu ekonomi rakyat.
Penolakan dan Evaluasi
Dutton mengakui kekalahan ini sebagai luka besar bagi Koalisi. “Keluarga besar Liberal sedang terluka malam ini, termasuk di daerah pemilihan saya, Dickson… Kami akan bangkit kembali,” ucapnya.
Seorang pendukung di Brisbane memberikan evaluasi tajam, “Partai harus kembali ke akar, dan bicara tentang isu nyata seperti perumahan dan biaya hidup. Itu yang dibutuhkan rakyat.”
Sementara itu, Albanese, yang sempat diragukan menjelang pemilu, kini melangkah lebih kuat dengan mandat baru. Ia menghadapi tantangan besar, namun hasil pemilu menunjukkan bahwa rakyat Australia masih percaya padanya sebagai pilihan paling stabil di masa yang tidak pasti.