Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Pemilu Australia 2025: Albanese Unggul, Dutton Tersingkir dari Parlemen

badge-check


					Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, memenangkan masa jabatan kedua setelah unggul dalam hitung cepat Pemilu Australia 2025.
Perbesar

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, memenangkan masa jabatan kedua setelah unggul dalam hitung cepat Pemilu Australia 2025.

Jakarta – Pemilu Australia 2025 menjadi momen bersejarah bagi politik Negeri Kanguru. Perdana Menteri petahana, Anthony Albanese, berhasil memenangkan masa jabatan kedua secara meyakinkan, mengamankan mayoritas suara untuk Partai Buruh. Di sisi lain, pemimpin oposisi Peter Dutton mengalami kekalahan telak yang mengakhiri 24 tahun kiprahnya di parlemen.

Kemenangan Albanese menegaskan dukungan publik terhadap stabilitas di tengah tantangan ekonomi global dan krisis biaya hidup. Sebaliknya, hasil ini mencerminkan penolakan luas terhadap gaya politik Dutton yang dinilai terlalu keras dan terinspirasi oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kampanye yang Gagal Baca Pemilih

Pemilu kali ini diawali dengan prediksi keunggulan Dutton. Ia tampil percaya diri dengan kritik tajam terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Albanese. Namun, seiring berjalannya kampanye, daya tarik itu memudar. Koalisi Liberal-Nasional yang dipimpinnya gagal menawarkan alternatif yang jelas dan meyakinkan.

Serangkaian kebijakan yang membingungkan, seperti rencana pemotongan 40.000 pekerjaan sektor publik, pelarangan kerja dari rumah, hingga sikap mendua soal pemotongan pajak dan pengeluaran besar negara, membuat publik ragu. Dutton bahkan sempat membatalkan sendiri beberapa rencananya, menyebutnya sebagai “kesalahan”.

“Orang tidak paham arah kebijakan Dutton,” ujar seorang anggota Koalisi di Dickson, daerah pemilihan Dutton yang kini direbut Partai Buruh.

Efek Trump dan Koalisi Kanan

Salah satu isu paling mencolok dalam kampanye adalah citra Dutton yang terlalu dekat dengan gaya politik Trump. Retorika keras terhadap Tiongkok, dukungan terhadap kebijakan penahanan imigran, serta pengangkatan Jacinta Nampijinpa Price sebagai “menteri bayangan efisiensi” — yang sempat tampil mengenakan topi bertuliskan “MAGA” — memperkuat persepsi publik tentang kemiripan itu.

“Pesan mereka seolah mendukung Trump dan anti-demokrat AS,” kata Frank Mols, dosen ilmu politik University of Queensland. Hal ini justru menimbulkan kecemasan, apalagi di tengah ketegangan geopolitik dan ancaman perang dagang AS–Tiongkok.

Koalisi juga memperbesar risiko dengan menggandeng Partai One Nation yang ekstrem kanan. Strategi ini gagal menarik suara moderat dan justru mempersempit basis dukungan. “Mereka salah membaca suasana pemilih,” kata Ben Wellings dari Monash University.

Isu Biaya Hidup Jadi Penentu Pemilu Australia 2025

Di tengah berbagai kontroversi dan inkonsistensi Koalisi, Partai Buruh tampil lebih solid. Kampanye mereka fokus pada isu konkret: penguatan layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan masyarakat dari dampak krisis biaya hidup.

“Dutton tampak lebih sibuk menyerang lawan daripada menawarkan solusi,” kata Jacob Broom dari Murdoch University.

Kesalahan-kesalahan kecil, seperti menyebut harga telur dengan separuh dari harga pasar, atau insiden menendang bola ke kameramen, menambah buruk citra Dutton dalam pemilu yang sangat sensitif terhadap isu ekonomi rakyat.

Penolakan dan Evaluasi

Dutton mengakui kekalahan ini sebagai luka besar bagi Koalisi. “Keluarga besar Liberal sedang terluka malam ini, termasuk di daerah pemilihan saya, Dickson… Kami akan bangkit kembali,” ucapnya.

Seorang pendukung di Brisbane memberikan evaluasi tajam, “Partai harus kembali ke akar, dan bicara tentang isu nyata seperti perumahan dan biaya hidup. Itu yang dibutuhkan rakyat.”

Sementara itu, Albanese, yang sempat diragukan menjelang pemilu, kini melangkah lebih kuat dengan mandat baru. Ia menghadapi tantangan besar, namun hasil pemilu menunjukkan bahwa rakyat Australia masih percaya padanya sebagai pilihan paling stabil di masa yang tidak pasti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional