Berlin – Friedrich Merz resmi terpilih sebagai Kanselir Jerman pada Selasa (6/5/2025) setelah melalui pemungutan suara putaran kedua di parlemen yang mencerminkan awal yang tidak mulus bagi koalisi pemerintah barunya.
Merz (69), pemimpin blok konservatif CDU/CSU yang memenangkan pemilu federal pada Februari lalu, memperoleh 325 suara dalam pemungutan suara rahasia Bundestag, sembilan suara lebih banyak dari batas mayoritas mutlak. Kemenangan ini diraih setelah ia gagal mendapatkan dukungan yang cukup pada putaran pertama, di mana ia hanya meraup 310 suara.
Kekalahan di Putaran Pertama Munculkan Sinyal Ketegangan Internal
Kegagalan awal ini mengejutkan publik Jerman dan memperlihatkan retaknya kepercayaan internal di dalam koalisi yang baru dibentuk bersama Partai Sosial Demokrat (SPD) yang berhaluan tengah-kiri. Setidaknya 18 anggota koalisi diketahui tidak memberikan suara dukungan bagi Merz dalam putaran pertama, memunculkan pertanyaan serius mengenai stabilitas pemerintahan yang baru.
“Seluruh Eropa hari ini memandang Berlin dengan harapan Jerman kembali menjadi jangkar stabilitas dan kekuatan pro-Eropa,” kata Jana Puglierin, Direktur Kantor Berlin dari European Council on Foreign Relations. “Harapan itu kini pupus.”
Meski begitu, Merz memilih tidak memperpanjang polemik seputar penyebab kekalahan awal tersebut. “Saya lebih memilih mulai bekerja daripada memikirkan motif para anggota yang tidak mendukung saya,” ujarnya kepada penyiar ARD. Ia menambahkan, prioritas utamanya adalah menjaga kebebasan negara dan memulihkan daya saing ekonomi Jerman.
Merz menghadapi tantangan besar di tengah upaya Eropa menegosiasikan jaminan keamanan untuk Ukraina dan menyelesaikan kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat. Langkah ini diperumit oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang mengancam menambah tekanan pada ekonomi Jerman, yang telah terpukul sejak berakhirnya pasokan gas murah dari Rusia pada 2022 dan meningkatnya persaingan dengan China.
Reformasi Pajak dan Energi Jadi Prioritas
Dalam kesepakatan koalisi Februari lalu, pemerintah berkomitmen untuk merangsang pertumbuhan ekonomi melalui pemotongan pajak korporasi dan penurunan harga energi. Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan dukungan militer serta solidaritas terhadap Ukraina.
“Kami berharap sungguh-sungguh bahwa kita akan melihat lebih banyak kepemimpinan Jerman dalam urusan Eropa dan transatlantik,” tulis Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di platform X.
Setelah pemungutan suara, Merz langsung menuju Istana Bellevue untuk menerima penunjukan resmi dari Presiden Frank-Walter Steinmeier. Ia kemudian kembali ke Gedung Reichstag untuk mengucapkan sumpah jabatan, menjadikannya kanselir ke-10 Jerman sejak Perang Dunia II.
Rabu ini, Merz dijadwalkan melakukan kunjungan luar negeri pertamanya sebagai kanselir Jerman ke Prancis dan Polandia. Tujuannya adlah menunjukkan bahwa Jerman kembali aktif di panggung global setelah runtuhnya pemerintahan sebelumnya dan negosiasi koalisi yang berlangsung berbulan-bulan.
Ia juga dikabarkan akan berbicara via telepon dengan Presiden Trump pada Kamis. Bahkan ada kemungkinan untuk bertemu sebelum KTT NATO akhir Juni mendatang.
Kabinet Baru Dominan Diisi Tokoh Berpengalaman Sektor Swasta
Namun, catatan awal Merz diwarnai kritik. Ia dikenal dengan gaya yang tegas dan kadang kontroversial. Kegagalannya dalam putaran pertama merupakan preseden baru di era Jerman pascaperang.
“Meski suara parlemen bersifat rahasia, besar kemungkinan beberapa anggota dari CDU/CSU ingin menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan fiskal Merz yang berbalik arah,” ujar Carsten Brzeski, Kepala Riset Makro Global di ING Research.
Menurut lembaga survei Forsa, satu-satunya pihak yang diuntungkan dari drama politik ini adalah Partai Alternatif untuk Jerman (AfD). Partai tersebut dikenal berhaluan kanan jauh dan mengalami peningkatan dukungan. AfD tampil kuat di pemilu Februari dan kini memuncaki beberapa jajak pendapat terbaru.
Kabinet yang dibentuk Merz mencerminkan pendekatan teknokratis dengan mayoritas anggotanya berasal dari kalangan profesional berpengalaman di sektor swasta. Namun, Menteri Pertahanan Boris Pistorius tetap dipertahankan dari pemerintahan sebelumnya.
Meski awal pemerintahannya terguncang, sebagian pengamat tetap optimistis. “Selamat atas pelantikanmu, Kanselir Friedrich Merz,” tulis Presiden Prancis Emmanuel Macron. “Kini tanggung jawab kita bersama memastikan mesin Franco-Jerman bekerja lebih kuat dari sebelumnya.”