Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

AS Akan Ambil Alih Gaza! Ini Skenarionya

badge-check


					AS Akan Ambil Alih Gaza! Ini Skenarionya Perbesar

Jerusalem – Amerika Serikat dan Israel tengah membahas kemungkinan pembentukan pemerintahan sementara yang dipimpin oleh Washington untuk mengelola Jalur Gaza setelah perang, menurut keterangan lima sumber yang mengetahui langsung pembicaraan tersebut.

Konsultasi tingkat tinggi ini masih bersifat awal dan mencakup rencana pembentukan otoritas transisi yang dipimpin pejabat AS. Badan ini akan bertugas menstabilkan Gaza, mendemiliterisasi wilayah tersebut, serta membuka jalan bagi munculnya pemerintahan Palestina yang dianggap layak dan representatif.

Tidak disebutkan batas waktu pasti berapa lama otoritas sementara itu akan berlangsung. Durasi mandat akan bergantung pada perkembangan situasi di lapangan.

Model yang diusulkan disebut-sebut menyerupai Otoritas Provisional Koalisi (Coalition Provisional Authority) yang pernah didirikan AS di Irak pasca-penggulingan Saddam Hussein tahun 2003. Namun, otoritas tersebut kala itu dipandang oleh banyak rakyat Irak sebagai kekuatan pendudukan dan gagal menekan perlawanan yang terus membesar. Akhirnya, mereka menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan sementara Irak pada 2004.

Menurut sumber, beberapa negara akan diajak terlibat dalam pemerintahan sementara Gaza ini. Namun, tidak disebutkan negara mana saja. Pemerintahan tersebut rencananya akan melibatkan teknokrat Palestina, namun mengecualikan kelompok Hamas serta Otoritas Palestina (PA) yang kini hanya berkuasa terbatas di Tepi Barat.

Perang Berkepanjangan, Tantangan Kompleks

Kelompok Hamas, yang telah menguasai Gaza sejak 2007, memicu konflik saat menyerbu wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Serangan balasan Israel hingga kini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 52.000 warga Palestina, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza.

Kementerian Luar Negeri AS menolak mengonfirmasi secara langsung keberadaan pembicaraan dengan Israel terkait otoritas transisi ini. “Kami menginginkan perdamaian dan pembebasan sandera sesegera mungkin,” kata juru bicara, sembari menegaskan bahwa posisi Amerika tetap mendukung Israel dan solusi damai.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menolak memberikan komentar atas laporan tersebut.

Dalam wawancara bulan lalu dengan Sky News Arabia, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyatakan keyakinannya bahwa akan ada masa transisi pasca-konflik yang diawasi oleh dewan internasional, termasuk negara-negara Arab moderat. “Kami tidak berniat mengatur kehidupan sipil di Gaza. Kepentingan kami semata adalah keamanan,” ujar Saar.

Penolakan dari Hamas dan Ketegangan Diplomatik

Ismail Al-Thawabta, juru bicara kantor media pemerintah Hamas, menolak tegas wacana pemerintahan yang dipimpin pihak asing, termasuk AS. “Rakyat Palestina di Gaza berhak memilih pemimpinnya sendiri,” ujarnya.

Otoritas Palestina belum memberikan pernyataan resmi.

Usulan ini juga menyimpan risiko besar bagi AS, yang akan semakin dalam terlibat dalam konflik Israel-Palestina. Dua sumber menyatakan bahwa langkah tersebut bisa memicu reaksi negatif dari sekutu dan lawan di kawasan. Hal itu dapat terjadi jika Washington dianggap sebagai kekuatan pendudukan baru di Gaza.

Uni Emirat Arab, yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada 2020, disebut telah mengusulkan pembentukan koalisi internasional untuk mengelola Gaza pasca-perang. Namun, partisipasi Abu Dhabi dikabarkan bergantung pada keterlibatan Otoritas Palestina dan komitmen nyata terhadap pembentukan negara Palestina.

Opsi-opsi Lain

Meski secara terbuka menolak kehadiran PA, sejumlah pejabat Israel diam-diam tengah mengevaluasi berbagai skenario terkait masa depan Gaza. Usulan-usulan yang beredar meliputi pembagian wilayah Gaza ke dalam zona keamanan, pembatasan rekonstruksi, hingga pembangunan pangkalan militer permanen.

Sementara itu, beberapa anggota koalisi kanan dalam pemerintahan Netanyahu terang-terangan menyerukan relokasi besar-besaran warga Palestina dari Gaza secara “sukarela.” Selain itu, mereka juga mengusulkan pembangunan kembali permukiman Yahudi di wilayah tersebut—sebuah gagasan yang menuai kritik internasional.

Dengan diskusi yang masih terus berlangsung di balik layar, belum ada kepastian apakah skenario pemerintahan sementara ini akan benar-benar terwujud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional