Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Pertemuan Amerika Serikat dan China di Swiss: Perang Dagang Siap Reda?

badge-check


					Pertemuan Amerika Serikat dan China di Swiss: Perang Dagang Siap Reda? Perbesar

Beijing/Washington – China dan Amerika Serikat memulai pertemuan besar pertama mereka dalam babak baru perang dagang yang dimulai Sabtu (10/5/2025), di tengah harapan untuk meredam ketegangan yang telah mengguncang pasar global, memutus rantai pasok, dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi dunia.

Pertemuan yang berlangsung di Swiss ini mempertemukan Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dan negosiator utama Jamieson Greer dengan kepala ekonomi China He Lifeng. Namun, para analis menilai ekspektasi untuk tercapainya terobosan konkret masih sangat rendah.

“Yang realistis saat ini hanyalah menyusun agenda dan menyepakati apakah akan ada proses lanjutan,” kata Scott Kennedy dari Center for Strategic and International Studies di Washington.

Jalan Terjal Menuju Kesepakatan

Di balik meja perundingan, kedua negara membawa visi ekonomi yang saling bertolak belakang. Washington ingin memangkas defisit perdagangan dengan Beijing dan mendorong China untuk meninggalkan model ekonomi yang dinilai “merkantilis.” Selain itu, Washington berharap China juga berkontribusi lebih besar terhadap konsumsi global. Hal ini akan menuntut reformasi domestik besar di China.

Sebaliknya, Beijing menolak campur tangan asing terhadap jalur pembangunannya. Bagi China, kemajuan industri dan teknologi adalah kunci untuk keluar dari “jebakan pendapatan menengah”. China meminta AS mencabut tarif dan memperjelas jenis barang apa yang ingin dibeli lebih banyak. Selain itu, China juga menghendaki perlakuan sebagai mitra setara di panggung global.

Namun, dibandingkan dengan periode pertama Presiden Trump, perbedaan posisi saat ini terlihat lebih mencolok dan risiko kegagalannya lebih besar.

Tarik-Ulur Tarif dan Isu Non-Perdagangan

Tarif dua arah yang kini berada di atas 100 persen menjadi simbol utama perang dagang ini.

Trump sempat memberi isyarat bahwa tarif hukuman AS sebesar 145% terhadap Beijing kemungkinan akan diturunkan. Pada hari Jumat, ia untuk pertama kalinya mengusulkan angka alternatif di platform media sosialnya, dengan menyatakan bahwa 80% “terlihat tepat.” Meski begitu, angka tersebut masih 20 poin lebih tinggi dari tarif yang ia janjikan dalam kampanye tahun lalu terhadap barang-barang China.

Selain tarif, isu-isu non-perdagangan turut memperkeruh suasana, mulai dari fentanyl, pembatasan teknologi, hingga geopolitik seperti perang di Ukraina. Menariknya, China dilaporkan mengirim pejabat tinggi keamanan publik dalam pertemuan ini, menandakan luasnya spektrum isu yang akan dibahas.

Harapan Akan Penurunan Eskalasi

Bagi pasar, sinyal de-eskalasi sekecil apa pun — seperti penurunan tarif atau kesepakatan untuk melanjutkan pembicaraan — akan dianggap sebagai perkembangan positif. “Gencatan senjata sementara atau pelonggaran tarif yang simetris akan membuka jalan menuju negosiasi lebih menyeluruh,” ujar Bo Zhengyuan, mitra di konsultan Plenum yang berbasis di Shanghai.

Namun, akar persoalannya adalah: ketimpangan dalam sistem perdagangan global, di mana produksi bergantung pada China dan konsumsi bertumpu pada AS. Masalah ini tidak bisa diatasi dalam waktu singkat.

Menurut Lynn Song, kepala ekonom ING untuk China Raya, level tarif 60 persen — sebagaimana dijanjikan Trump sebelum pemilu — masih cukup tinggi untuk menyaring produk-produk tertentu, namun tetap memberikan ruang bagi arus perdagangan yang lebih sehat.

Retorika dan Persepsi

Sebelum pertemuan akhir pekan ini, pembicaraan di balik layar sempat tersendat oleh isu fentanyl dan perbedaan tingkat senioritas pejabat negosiator. Selain itu, nada keras dalam retorika AS juga menjadi faktor penghambat diskusi. Media pemerintah China bahkan sempat memperingatkan tentang “perjuangan panjang”.

Meski demikian, sinyal dari Beijing mulai melunak. Sebuah blog yang terafiliasi dengan media negara menyebut bahwa pembicaraan “tidak menimbulkan kerugian saat ini” dan dapat menjadi sarana untuk “mengamati dan memahami niat sejati AS”.

“Sekarang bukan soal siapa yang berkedip lebih dulu, tapi siapa yang bisa memutar narasi bahwa pihak lawan yang berkedip lebih dulu,” ujar seorang diplomat yang berbasis di Beijing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional