London – Amerika Serikat (AS) dan China sepakat pada sebuah kerangka kerja baru yang bertujuan menghidupkan kembali gencatan senjata dagang dan menghapus pembatasan ekspor mineral tanah jarang (rare earth) oleh Beijing. Meski demikian, harapan terciptanya penyelesaian menyeluruh atas ketegangan dagang jangka panjang masih tampak jauh dari kenyataan.
Kesepakatan itu dicapai setelah dua hari perundingan intensif di London yang berakhir Selasa (10/6/2025) malam waktu setempat. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyebut kerangka tersebut sebagai “daging di atas tulang” dari kesepakatan awal yang dirintis bulan lalu di Jenewa.
“Intinya, kami akan kembali dan berbicara kepada Presiden Trump untuk mendapat persetujuannya. Mereka (delegasi China) juga akan berbicara kepada Presiden Xi,” kata Lutnick dalam konferensi pers.
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan China, Li Chenggang, dalam pernyataan terpisah mengatakan bahwa kerangka kerja yang disepakati “secara prinsip” akan disampaikan kepada para pemimpin kedua negara untuk disetujui.
Kerangka, Bukan Kesepakatan Final
Kesepakatan kerangka kerja di London menjadi upaya konkret untuk mencegah keruntuhan kesepakatan Jenewa akibat duel pengendalian ekspor antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia itu. Namun, perbedaan mendasar tetap terasa lebar, terutama terkait penerapan tarif sepihak oleh AS.
Josh Lipsky dari GeoEconomics Center, Atlantic Council, menyebut bahwa meski tampaknya kembali ke titik awal, “itu lebih baik ketimbang tidak ada kesepakatan sama sekali.”
Jika tak ada kesepakatan komprehensif sebelum 10 Agustus, tarif yang telah turun saat ini—sekitar 30% di pihak AS dan 10% di pihak China—akan kembali melonjak ke level semula, yakni masing-masing 145% dan 125%.
Pasar Merespons Hati-hati
Indeks saham MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,57% pada Selasa. Namun, reaksi pasar tergolong datar karena pasar menilai hasil negosiasi sudah sesuai ekspektasi.
“Setan ada di dalam rinciannya,” kata Chris Weston dari Pepperstone. “Yang penting adalah seberapa besar volume rare earth ke AS, serta seberapa bebas chip buatan AS bisa kembali masuk ke China.”
AS menegaskan bahwa pencabutan pembatasan ekspor mineral tanah jarang oleh China merupakan “bagian fundamental” dari kesepakatan baru tersebut.
“Langkah balasan dari AS, termasuk pembatasan terhadap desain semikonduktor dan peralatan aviasi, juga akan dicabut secara seimbang,” kata Lutnick.
Ketegangan Masih Membayangi
Sejak April, China menghentikan ekspor berbagai mineral penting, menyebabkan gangguan global pada rantai pasok, terutama untuk industri kendaraan listrik. Sebagai respons, AS menahan ekspor perangkat lunak desain chip dan bahan kimia penting.
Tekanan terhadap pasar semakin meningkat setelah Mahkamah Banding AS memutuskan untuk mempertahankan tarif dagang Trump. Sementara itu, Mahkamah juga sedang mengkaji ulang putusan yang lebih rendah, yang menyebut kebijakan tersebut melebihi wewenang presiden.
Sementara itu, data bea cukai China menunjukkan ekspor ke AS anjlok 34,5% pada Mei, penurunan terdalam sejak awal pandemi COVID-19. Di sisi lain, keyakinan konsumen dan bisnis AS juga terguncang, meski inflasi dan pasar tenaga kerja belum terdampak signifikan.
Intervensi dari Atas
Pertemuan di London ini mendapatkan dorongan besar dari panggilan telepon langka antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pekan lalu. Isi pembicaraan mereka lantas menjadi pedoman dalam merumuskan kerangka kerja baru.
Kesepakatan ini membuka peluang untuk deeskalasi. Namun, pengamat memperingatkan bahwa tanpa komitmen nyata dari kedua pihak, kebijakan saling balas akan terus menghantui pemulihan ekonomi global.
Bank Dunia pada Selasa memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 akan melambat menjadi 2,3%, turun 0,4 poin dari proyeksi sebelumnya. Ketidakpastian akibat tarif dan tensi geopolitik menjadi penyebab utama.