Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Hakim AS Kembalikan Kendali Garda Nasional ke California

badge-check


					Para pengunjuk rasa yang menentang penggerebekan imigrasi oleh pemerintah federal berkumpul di luar Pusat Penahanan Metropolitan, Rabu, 11 Juni 2025, di Los Angeles. (foto: AP/Damian Dovarganes) Perbesar

Para pengunjuk rasa yang menentang penggerebekan imigrasi oleh pemerintah federal berkumpul di luar Pusat Penahanan Metropolitan, Rabu, 11 Juni 2025, di Los Angeles. (foto: AP/Damian Dovarganes)

San Francisco – Seorang hakim federal di Amerika Serikat pada Kamis (12/6/2025) waktu setempat mengeluarkan perintah penahanan sementara (temporary restraining order) yang memerintahkan Presiden Donald Trump untuk mengembalikan kendali atas pasukan Garda Nasional kepada negara bagian California.

Putusan yang mulai berlaku Jumat siang itu menyatakan bahwa pengerahan sekitar 4.000 anggota Garda Nasional ke Los Angeles merupakan tindakan ilegal. Keputusan tersebut dianggap melanggar Amandemen Kesepuluh Konstitusi AS dan melebihi kewenangan presiden yang diatur dalam hukum federal.

Gugatan Newsom dan Putusan Hakim Breyer

Gubernur California, Gavin Newsom mengajukan gugatan yang menentang pengerahan pasukan tanpa persetujuannya. Dalam pengajuan daruratnya ke pengadilan, Newsom juga meminta agar pasukan Garda tidak digunakan untuk mendukung penggerebekan imigrasi, karena dinilai hanya akan memperkeruh situasi dan memicu ketegangan sipil.

“Pasukan itu semula dikirim untuk melindungi gedung-gedung federal, bukan untuk ikut serta dalam operasi penggerebekan terhadap komunitas imigran,” ujar Newsom.

Hakim Distrik Charles Breyer, yang menangani perkara ini, menyatakan Presiden Trump telah melampaui batas kewenangannya. Dalam persidangan, Breyer bahkan mengangkat salinan Konstitusi dan mengatakan, “Kita berbicara tentang seorang presiden yang harus tunduk pada batasan konstitusional. Itulah bedanya antara pemerintahan yang sah dan kekuasaan absolut seperti Raja George.”

Pemerintah federal langsung mengajukan banding atas putusan ini ke Pengadilan Banding Sirkuit Kesembilan. Namun, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih mengenai hasil sidang tersebut.

Kontroversi Pasal Title 10 dan Batas Kewenangan Presiden

Sementara itu, Mayor Jenderal Scott Sherman, komandan Task Force 51 yang memimpin operasi Garda Nasional di Los Angeles, menyebut bahwa sekitar 500 personel terlatih bertugas untuk mendampingi agen imigrasi dalam operasi di lapangan. Foto-foto yang menunjukkan pasukan Garda memberikan pengamanan pada agen imigrasi telah beredar di berbagai media.

Pihak pemerintah membela tindakan Trump dengan mengutip pasal Title 10, yang memungkinkan presiden memfederalisasi Garda Nasional dalam situasi tertentu. Namun, hakim menolak argumen ini dengan alasan tidak melibatkan gubernur.

Dalam dokumen hukum sebelumnya, Departemen Kehakiman menegaskan bahwa tindakan Trump seharusnya tidak dapat ditinjau oleh pengadilan. Mereka membandingkan langkah Trump dengan preseden sebelumnya, seperti ketika Presiden Eisenhower mengerahkan militer untuk mengawal integrasi sekolah atau ketika Presiden Nixon mengirim militer untuk mengantarkan surat saat terjadi pemogokan pos.

Namun, Breyer menolak logika tersebut.

“Presiden tidak berada di atas hukum,” tegasnya.

Protes Meluas ke Kota Lain

Situasi di lapangan menunjukkan bahwa kehadiran pasukan federal justru memperburuk ketegangan. Protes terhadap kebijakan imigrasi Trump yang ketat meluas dari Los Angeles ke kota-kota besar lain seperti Boston, Chicago, dan Seattle. Di tengah operasi yang gencar, agen federal melakukan penangkapan di tempat parkir Home Depot dan berbagai lokasi umum lainnya. Tindakan ini menimbulkan ketakutan di kalangan komunitas migran.

Hingga Kamis malam, puluhan wali kota di wilayah Los Angeles telah menandatangani petisi bersama yang menuntut dihentikannya penggerebekan serta penarikan seluruh pasukan federal dari kota mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional