Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Drone Tempur Ramaikan Paris Airshow, Tandai Era Baru Perang Udara

badge-check


					Bayraktar Akinci, sebuah kendaraan tempur udara tak berawak (UCAV) dengan daya tahan terbang tinggi yang dikembangkan oleh produsen drone asal Turki, Baykar, dipamerkan dalam ajang Paris Airshow ke-55 di Bandara Le Bourget, dekat Paris, Prancis, pada 16 Juni 2025. (foto: REUTERS/Benoit Tessier) Perbesar

Bayraktar Akinci, sebuah kendaraan tempur udara tak berawak (UCAV) dengan daya tahan terbang tinggi yang dikembangkan oleh produsen drone asal Turki, Baykar, dipamerkan dalam ajang Paris Airshow ke-55 di Bandara Le Bourget, dekat Paris, Prancis, pada 16 Juni 2025. (foto: REUTERS/Benoit Tessier)

Paris – Pameran dirgantara terbesar di dunia, Paris Airshow, tahun ini dipenuhi oleh unjuk gigi teknologi drone tempur terbaru. Para raksasa industri pertahanan hingga perusahaan rintisan teknologi militer berlomba memamerkan drone jenis baru yang dijuluki “wingmen” — pesawat nirawak canggih yang dirancang terbang bersama jet tempur generasi terbaru.

Drone “wingmen” ini bukan sekadar pendamping, melainkan mitra tempur yang siap melakukan misi pengintaian, peperangan elektronik, hingga serangan langsung. Kehadiran mereka menandai perubahan mendasar dalam doktrin pertempuran udara modern. Apalagi setelah efektivitas drone terbukti dalam konflik Ukraina dan kekhawatiran meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China di kawasan Pasifik.

Kolaborasi Manusia dan Mesin

Sejak April tahun lalu, Angkatan Udara AS resmi menggandeng dua perusahaan, Anduril dan General Atomics, untuk mengembangkan armada pertama drone wingmen di bawah program Collaborative Combat Aircraft (CCA). Salah satu yang mencuri perhatian di Paris adalah Fury, drone sepanjang 5 meter buatan Anduril. Perusahaan ini berencana memproduksi drone itu mulai tahun 2027.

“Proyek ini berjalan sangat cepat,” kata Jason Levin, Wakil Presiden Senior Teknik di Anduril, kepada Reuters. “Kami belum bisa membocorkan semua spesifikasi, tapi drone ini punya kemampuan layaknya jet tempur.”

Anduril, yang berbasis di California dan telah memasok drone kecil ke Ukraina, mengumumkan rencana pembangunan fasilitas produksi seluas 47 hektar di Ohio. Pembangunan ini dijadwalkan akan dimulai tahun depan. Perusahaan ini juga menandatangani kontrak senilai Rp600 milyar dengan Inggris untuk memasok drone Altius ke Ukraina — drone serbaguna yang bisa diluncurkan dari darat atau udara untuk misi serangan, pengelabuan, hingga perang siber.

Sementara itu, General Atomics menampilkan prototipe drone YFQ-42A, pesaing dari Fury. General Atomics mempersiapkan drone ini untuk potensi konflik di Asia Timur, khususnya jika terjadi invasi China ke Taiwan.

Drone Tempur Dari Amerika hingga Eropa dan Asia di Paris Airshow

Boeing, yang bekerja sama dengan Angkatan Udara Australia, juga memamerkan pencapaian penting dalam uji coba antara drone dan pilot manusia. Dua drone Ghost Bat berhasil melakukan simulasi misi tempur bersama pesawat pengintai E-7A Wedgetail.

“Ghost Bat bisa mengubah satu jet tempur menjadi satu tim tempur lengkap, dengan sensor canggih bagaikan ratusan mata di langit,” ujar Menteri Industri Pertahanan Australia, Pat Conroy.

Tak ketinggalan, Eropa juga gencar mengembangkan teknologi serupa. Saab dari Swedia bekerja sama dengan konsorsium tiga negara — Dassault Aviation dari Prancis, Airbus dari Eropa, dan Indra Sistemas dari Spanyol — dalam proyek Future Combat Air System (FCAS). Program ambisius ini bertujuan menyatukan jet tempur berawak dan drone otonom dalam satu sistem tempur generasi mendatang.

Turki pun unjuk gigi. Baykar, produsen drone yang naik daun dalam konflik global, untuk pertama kalinya memamerkan dua model andalannya: Akinci dan TB3. Yang terakhir memiliki keunikan sayap lipat, memungkinkan lepas landas dan mendarat di kapal induk berbasis landasan pendek. Baykar juga mengumumkan kerja sama strategis dengan perusahaan pertahanan Italia, Leonardo, untuk mengembangkan sistem nirawak bersama.

Di sisi lain, raksasa pertahanan Jerman, Rheinmetall, menjalin kemitraan dengan Anduril untuk memproduksi versi Fury dan Barracuda bagi pasar Eropa.

Masa Depan Pertempuran Udara

Kehadiran banyaknya jumlah drone tempur dalam Paris Airshow menjadi sinyal kuat bahwa lanskap peperangan udara sedang mengalami transformasi besar. Di masa depan, langit bukan hanya milik pilot dan pesawat berawak, tapi juga para wingmen tanpa awak yang gesit, cerdas, dan mematikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tragedi Rio de Janeiro: Operasi Polisi Tewaskan 121 Orang

31 Oktober 2025 - 08:32 WIB

Operasi polisi di Rio de Janeiro menewaskan 121 orang, menjadikannya yang paling mematikan dalam sejarah Brasil.

Pencurian Mahkota Kerajaan di Louvre Prancis, Pakar Sebut Barang Curian Akan Hilang Selamanya

22 Oktober 2025 - 09:22 WIB

Pencurian mahkota Kerajaan di Louvre jadi aib nasional Prancis. Polisi buru geng spesialis perhiasan lintas Eropa.

Industri Film Dunia Tetap Melaju di Tengah Ancaman Tarif Trump

19 Oktober 2025 - 10:29 WIB

Ancaman tarif 100 persen dari Donald Trump tak hentikan produksi global seperti Star Wars: Starfighter. Industri film tetap melaju.

Aksi ‘No Kings’ di AS, Ribuan Warga Protes Kebijakan Trump

19 Oktober 2025 - 07:59 WIB

Ribuan warga AS turun ke jalan dalam aksi No Kings memprotes kebijakan Donald Trump yang dinilai mengancam demokrasi dan kebebasan sipil.

Tercatat Sejarah: Trump Umumkan Perang Gaza Berakhir

14 Oktober 2025 - 08:34 WIB

Hamas bebaskan sandera terakhir, Trump nyatakan perang Gaza berakhir. Dunia sambut babak baru perdamaian Timur Tengah.
Trending di Internasional