Washington – Badan intelijen Amerika Serikat (AS) nyatakan program pengembangan senjata nuklir Iran tidak ada. Ini bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Donald Trump kepada Kongres, bahwa lokasi yang dibom oleh AS di Iran adalah tempat pengembangan senjata nuklir.
Dalam suratnya kepada Ketua DPR AS, Trump menulis “Pasukan Amerika Serikat melakukan serangan presisi terhadap tiga fasilitas nuklir Iran yang digunakan oleh Pemerintah Republik Islam Iran untuk program pengembangan senjata nuklirnya.” Surat yang dipublikasikan di situs resmi Gedung Putih itu bertanggal Senin (23/6/2025).
Namun, Tulsi Gabbard, menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, belum memerintahkan dimulainya kembali upaya pengembangan senjata nuklir yang telah dihentikan sejak tahun 2003. Tulsi Gabbard yang menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional AS, menyampaikan pernyataan ini langsung di depan Kongres pada bulan Maret yang lalu.
Seorang sumber yang memiliki akses ke laporan intelijen AS mengatakan bahwa tidak ada perubahan dalam penilaian tersebut sejak Maret sampai saat ini. Bahkan, lembaga pengawas nuklir PBB juga menyatakan bahwa Iran belum menguasai seluruh teknologi untuk membuat senjata nuklir, meskipun memiliki kapasitas teknis untuk melakukannya di masa depan.
Saling Bertolak Belakang
Trump meragukan laporan intelijen terkait program nuklir Iran pada pekan lalu, ketika ia menolak penilaian yang disampaikan Gabbard kepada Kongres. Dalam pernyataannya kepada pers, ia mengatakan, “Saya tidak peduli apa yang dia (Gabbard) katakan. Saya pikir mereka (Iran) sangat dekat untuk memilikinya (senjata nuklir).”
Anehnya, pada hari Jumat (20/6) Gabbard sendiri juga ikut membantah pemberitaan media terkait pernyataannya pada bulan Maret. Gabbard mengatakan bahwa laporan intelijen AS menunjukkan Iran dapat membuat senjata nuklir “dalam hitungan minggu hingga bulan.”
Serang Natanz, Isfahan, dan Fordow
Amerika Serikat menyerang tiga situs nuklir utama Iran: Natanz, Isfahan, dan Fordow. Serangan di Fordow menggunakan bom penghancur bunker yang menargetkan fasilitas bawah tanah. Fasilitas tersebut digunakan untuk pengayaan uranium tingkat tinggi yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar reaktor maupun hulu ledak nuklir.
Trump dan sejumlah pejabat senior menyebut serangan itu “menghancurkan” situs-situs tersebut. Namun, menurut tiga sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS, serangan itu kemungkinan hanya menunda program nuklir Iran selama beberapa bulan.
Ingatkan Invasi Irak 2003
Serangan ini mengingatkan pada keputusan invasi Irak tahun 2003 oleh Presiden George W. Bush, yang kala itu juga mengklaim adanya senjata pemusnah massal. Faktanya, klaim tersebut belakangan terbukti tidak akurat dan menimbulkan kecaman politik luas.
Iran sendiri bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai, seperti pembangkitan listrik dan riset medis.