Dubai – Sebuah kapal berbendera Liberia bernama Magic Seas ditinggalkan oleh awaknya setelah diserang dan terbakar di Laut Merah pada Minggu malam (6/7/2025). Insiden ini menjadi serangan serius pertama terhadap jalur perdagangan strategis tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Kecurigaan langsung mengarah pada kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Mereka selama ini kerap melancarkan serangan terhadap kapal dagang sebagai bentuk dukungan terhadap Hamas dalam konflik Israel-Palestina. Meski media milik Houthi telah memberitakan kejadian tersebut, kelompok Houthi belum secara resmi mengklaim serangan. Mereka biasanya membutuhkan waktu beberapa jam, bahkan hari, sebelum mengakui adanya serangan.
Menurut firma keamanan maritim Ambrey, kapal milik Yunani itu awalnya diserang dengan senjata ringan dan granat berpeluncur roket. Serangan kemudian berlanjut dengan dua kapal drone bermuatan bom yang menabrak kapal tersebut. Sementara dua lainnya berhasil dihancurkan oleh tim keamanan bersenjata di atas kapal.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi bahwa kapal mengalami kebocoran parah dan awak memutuskan untuk mengevakuasi diri. Insiden itu terjadi sekitar 100 kilometer barat daya pelabuhan Hodeidah, yang berada di bawah kendali Houthi.
Sementara itu, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan telah mengetahui insiden tersebut namun belum memberikan keterangan lebih lanjut.
Serangan di Tengah Ketegangan Kawasan
Serangan terhadap Magic Seas terjadi di tengah upaya negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas serta konflik program nuklir Iran. Analis Timur Tengah, Mohammad al-Basha, menyebut serangan ini sebagai “pesan bahwa Houthi masih memiliki kemampuan dan kemauan menyerang target maritim strategis.”
Militer Israel menanggapi situasi dengan mengeluarkan peringatan kepada tiga pelabuhan di bawah kendali Houthi: Hodeidah, Ras Isa, dan Salif. Mereka juga menegaskan bahwa serangan udara akan segera dilancarkan terhadap lokasi-lokasi tersebut.
Jalur Perdagangan Global Terancam
Laut Merah merupakan jalur vital perdagangan global. Jalur laut ini biasanya menjadi jalur bagi pergerakan barang senilai 1 triliun dolar setiap tahunnya. Sejak November 2023 hingga Januari 2025, Houthi telah menyerang lebih dari 100 kapal dagang, menenggelamkan dua kapal dan menewaskan empat pelaut. Aktivitas pelayaran sempat menurun drastis sebelum kembali meningkat beberapa pekan terakhir.
Menteri Informasi pemerintahan Yaman, Moammar al-Eryani, menuding Iran sebagai dalang di balik serangan ini. Dia menyatakan bahwa Houthi hanyalah “alat dari skema Iran untuk mengganggu stabilitas kawasan dan dunia.”
Ketegangan Regional Semakin Mengkristal
Serangan terhadap Magic Seas menggarisbawahi betapa rentannya Laut Merah terhadap eskalasi konflik bersenjata dan terorisme maritim. Selain Houthi, kawasan ini juga rawan terhadap aksi pembajakan oleh perompak Somalia. Meskipun para perompak umumnya tidak menggunakan kapal drone dalam operasinya.