Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Sports

AS Larang Atlet Transgender Tampil di Kelas Perempuan

badge-check

AS Larang Atlet Transgender Tampil di Kelas Perempuan Perbesar

Washington – Komite Olimpiade dan Paralimpiade Amerika Serikat (USOPC) memperbarui peraturannya agar sejalan dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang melarang atlet perempuan transgender bertanding di olahraga perempuan.

Dalam pembaruan kebijakan yang diumumkan pekan ini, USOPC menyatakan akan terus bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti Komite Olimpiade Internasional (IOC), Komite Paralimpiade Internasional (IPC), dan federasi olahraga nasional (NGBs), demi menjamin lingkungan kompetisi yang adil dan aman bagi atlet perempuan.

“USOPC akan terus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki kewenangan untuk memastikan bahwa perempuan memiliki lingkungan kompetisi yang adil dan aman, sesuai dengan Perintah Eksekutif 14201 dan Undang-Undang Olahraga Olimpiade dan Amatir Ted Stevens,” demikian pernyataan USOPC dalam dokumen pembaruan kebijakan.

Dalam memo internal kepada komunitas Team USA, Presiden USOPC Gene Sykes dan CEO Sarah Hirshland mengutip perintah eksekutif Trump tersebut. “Sebagai organisasi yang mendapat piagam federal, kami memiliki kewajiban untuk mematuhi kebijakan pemerintah pusat,” tulis mereka.

Trump Larang Atlet Transgender Bertanding di LA28

Kebijakan “Keeping Men Out of Women’s Sports” oleh Trump pada Februari lalu menginstruksikan pelarangan atlet transgender bertanding di olahraga perempuan. Kebijakan itu berlaku baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi.

Lebih jauh, kebijakan itu juga mencakup larangan pemberian visa bagi atlet transgender perempuan yang berniat bertanding di Amerika Serikat. Trump bahkan menegaskan bahwa ia tidak akan mengizinkan atlet transgender berkompetisi dalam Olimpiade Los Angeles 2028 (LA28).

Perintah ini juga meminta Departemen Luar Negeri untuk menekan IOC agar mengubah kebijakan inklusif mereka terhadap atlet transgender. Saat ini, IOC mengizinkan atlet transgender bertanding selama pertandingan berjalan adil.

Dampak Terbatas, Kritik Muncul

Walau tampaknya hanya akan berdampak pada sejumlah kecil atlet, kebijakan ini menuai pro dan kontra. Pendukung kebijakan menilai langkah tersebut akan mengembalikan keadilan dalam kompetisi perempuan, sementara kelompok hak asasi manusia menilai perintah tersebut mencederai hak minoritas.

Presiden Asosiasi Atletik Perguruan Tinggi Nasional (NCAA) menyatakan kepada panel Senat pada Desember lalu bahwa dari 530.000 atlet di 1.100 sekolah, hanya ada kurang dari 10 atlet transgender.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari IOC maupun IPC terkait tekanan dari pemerintah AS terhadap kebijakan inklusivitas mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

F1 GP Kembali ke Afrika, Rwanda Siapkan Sirkuit 2030-an

14 Okt 2026 - 09:16 WIB

F1 GP Kembali ke Afrika, Rwanda Siapkan Sirkuit 2030-an

Netflix Pegang Hak Siar Piala Dunia 2030 di Spanyol

14 Okt 2026 - 08:21 WIB

Netflix Pegang Hak Siar Piala Dunia 2030 di Spanyol

Jersey Michael Jordan dari Final NBA 1998 Terjual Rp 228 Miliar

14 Okt 2026 - 07:55 WIB

Jersey Michael Jordan dari Final NBA 1998 Terjual Rp 228 Miliar

Lewis Hamilton Absen dari Sesi Wawancara Usai F1 GP Singapura

12 Okt 2026 - 06:47 WIB

Lewis Hamilton Absen dari Sesi Wawancara Usai F1 GP Singapura

Max Verstappen Juara F1 GP Singapura 2026, Kimi Finish Ketiga

11 Okt 2026 - 21:56 WIB

Max Verstappen Juara F1 GP Singapura 2026, Kimi Finish Ketiga
Trending di Sports