Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Jerman Kembangkan Kecoa Mata-mata untuk Pengintaian Militer

badge-check


					Ilustrasi digital yang dirilis oleh Swarm Biotactics menunjukkan apa yang mereka sebut sebagai kecoak cyborg, yang dilengkapi dengan ransel khusus yang memungkinkan pengumpulan data secara real-time melalui kamera. Perbesar

Ilustrasi digital yang dirilis oleh Swarm Biotactics menunjukkan apa yang mereka sebut sebagai kecoak cyborg, yang dilengkapi dengan ransel khusus yang memungkinkan pengumpulan data secara real-time melalui kamera.

Munich – Medan perang masa depan akan berubah, terutama bagi Jerman yang sedang mengembangkan pasukan robot, kapal selam nirawak, hingga kecoa mata-mata. Invasi Rusia ke Ukraina telah mengubah peta industri pertahanan Eropa, dan salah satu bukti nyatanya datang dari Jerman. Gundbert Scherf, pendiri Helsing, kini menjadi wajah dari kebangkitan militer berbasis teknologi yang tengah digerakkan Berlin.

Perusahaan yang berbasis di Munich itu mengembangkan drone tempur dan kecerdasan buatan (AI) untuk medan perang. Pada bulan lalu, perusahaan tersebut baru saja menggandakan valuasinya menjadi USD 12 miliar. “Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, Eropa menggelontorkan dana lebih besar dari Amerika Serikat untuk pengadaan teknologi pertahanan,” kata Scherf.

Helsing hanyalah satu dari banyak startup pertahanan Jerman yang tengah mengembangkan teknologi mutakhir. Inovasi yang mereka kembangkan mencakup robot tempur berbasis AI, kapal selam mini nirawak, hingga kecoa siber untuk misi mata-mata.

Dari Pacifisme ke Ambisi Militer

Selama puluhan tahun, Jerman tersandera oleh trauma sejarah militer Nazi dan kebijakan pertahanan yang cenderung hati-hati.

Namun kini, seiring dengan dukungan militer AS yang semakin tidak pasti, pemerintah Kanselir Friedrich Merz bersiap menaikkan anggaran pertahanan. Angkanya naik menjadi sekitar 162 miliar euro per tahun pada 2029. Nilai itu naik hampir tiga kali lipat dari saat ini.

Merz bahkan telah menyetujui rancangan undang-undang pengadaan baru untuk memangkas birokrasi dan mempermudah startup mendapat pembayaran di muka serta kontrak terbatas untuk perusahaan dalam Uni Eropa.

“Pemerintah menyadari bahwa AI dan teknologi startup adalah kunci,” kata Marc Wietfeld, CEO ARX Robotics, setelah bertemu Menteri Pertahanan Boris Pistorius. “Beliau berkata, ‘Uang bukan lagi masalah.’ Itu titik baliknya.”

Bangkitnya Ekosistem Inovasi

Langkah ini mempercepat transformasi industri yang sebelumnya didominasi perusahaan besar seperti Rheinmetall dan Hensoldt. Kini, startup juga turut terlibat dalam perencanaan strategis. Bahkan, ide-ide yang dulunya terdengar seperti fiksi ilmiah — seperti kecoa mata-mata yang bisa dikendalikan manusia untuk mengumpulkan data musuh — mulai diuji di lapangan.

“Kami melengkapi serangga hidup dengan sensor dan modul komunikasi untuk beroperasi secara mandiri atau dalam kawanan,” ujar Stefan Wilhelm, CEO Swarm Biotactics.

Mengejar Ketertinggalan 

Berbeda dengan Amerika Serikat yang sudah lama mendukung startup pertahanan seperti Anduril atau Palantir sejak 2015, Eropa baru mulai mengejar ketertinggalan. Analisis Aviation Week memperkirakan bahwa pada 2024, 19 negara Eropa akan menghabiskan EUR 180,1 miliar untuk pengadaan militer. Angka itu melampaui AS yang mengalokasikan USD 175,6 miliar.

Namun pasar yang terfragmentasi dan standar pengadaan yang beragam masih menjadi tantangan di Eropa. Di sisi lain, Jerman kini disebut sebagai pemimpin baru dalam dorongan pertahanan benua.

“Jerman sedang diberi tekanan untuk memimpin pertahanan Eropa,” kata Sven Kruck dari Quantum Systems.

Inovasi Jadi Jalan Keluar Ekonomi

Dengan ekonomi Jerman yang tengah lesu akibat harga energi tinggi dan persaingan dari China, sektor pertahanan bisa menjadi motor baru pertumbuhan. “Pertahanan yang kuat sama dengan ekonomi kuat dan inovasi tanpa batas,” ujar Markus Federle dari Tholus Capital.

Data menunjukkan, dana modal ventura untuk startup pertahanan Eropa mencapai USD 1 miliar pada 2024 — melonjak tajam dari USD 373 juta pada 2022. Dari jumlah itu, startup Jerman menyerap USD 1,4 miliar dalam lima tahun terakhir.

Jack Wang dari Project A menyebut Jerman memiliki banyak talenta teknisi terbaik dan mampu membangun sistem yang terintegrasi. “Tak ada negara lain yang memiliki kualitas SDM seperti Jerman,” katanya.

Bahkan sektor otomotif, yang tengah melemah, kini menjadi sumber tenaga kerja baru. “Kami menerima 3-5 lamaran kerja setiap hari dari pekerja industri mobil,” ungkap Stefan Thumann dari startup Donaustahl.

Dengan otak dari kalangan startup dan otot dari Mittelstand — sektor UKM industri Jerman — negara ini tampak serius ingin menghidupkan kembali tradisi inovasi militernya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.

Gencatan Dagang China – AS Dorong Optimisme Investor Asing

31 Oktober 2025 - 09:41 WIB

Gencatan dagang China - AS menghapus kekhawatiran investor global dan memicu optimisme baru di pasar saham China.
Trending di Internasional