Kiev, 13 Agustus 2025 – Pasukan Rusia bergerak lebih jauh ke wilayah timur Ukraina, Selasa (12/8/2025), hanya beberapa hari sebelum pertemuan puncak antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Alaska. Sejumlah pemimpin Eropa khawatir pertemuan itu dapat menghasilkan kesepakatan damai yang merugikan Ukraina secara teritorial.
Dalam salah satu serangan terbesar tahun ini, tentara Rusia maju mendekati kota tambang batu bara Dobropillia di wilayah Donetsk. Militer Ukraina mengerahkan pasukan cadangan dan menyebut pertempuran berlangsung sengit.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan damai dapat mencakup “pertukaran wilayah” yang menguntungkan kedua pihak. Namun, karena semua wilayah yang diperebutkan berada di Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskiy dan Uni Eropa khawatir Kiev akan dipaksa menyerahkan wilayah lebih luas daripada yang dilepas Rusia.
Pertemuan di Alaska
Putin dan Trump dijadwalkan bertemu pada Jumat di Pangkalan Angkatan Udara Elmendorf, Anchorage, Alaska. Ini akan menjadi pertemuan puncak pertama kedua negara sejak 2021.
Gedung Putih merendahkan ekspektasi terkait peluang tercapainya gencatan senjata, menyebut pertemuan tersebut sebagai “latihan mendengarkan”. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Trump ingin menilai langsung sikap Putin dalam pertemuan tatap muka.
Zelenskiy bersama para pemimpin Eropa menegaskan bahwa perdamaian hanya dapat tercapai jika Ukraina ikut duduk di meja perundingan, dengan kesepakatan yang menghormati hukum internasional, kedaulatan, dan integritas wilayah Ukraina.
“Pembicaraan substantif tentang kami tanpa kami tidak akan berhasil,” kata Zelenskiy dalam wawancara dengan NewsNation.
Perkembangan di Medan Perang
Meski kekurangan pasukan, militer Ukraina mengklaim berhasil merebut kembali dua desa di wilayah Sumy, Senin lalu. Langkah ini menjadi sedikit kemajuan setelah lebih dari setahun Rusia meraih keuntungan perlahan di bagian tenggara.
Sejak awal tahun, Rusia melancarkan serangan baru di Sumy, wilayah yang disebut Presiden Putin sebagai “zona penyangga” yang harus dikuasai.
Mantan penasihat Kremlin, Sergei Markov, menyebut kemajuan militer Rusia dapat meningkatkan tekanan pada Ukraina untuk menyerahkan wilayah dalam negosiasi. “Terobosan ini seperti hadiah bagi Putin dan Trump saat perundingan,” ujarnya.
Kekhawatiran Eropa
Lebih lanjut, para pemimpin Eropa menegaskan Ukraina harus tetap mampu membela diri jika perdamaian ingin terjamin. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menegaskan, “Tidak ada pihak yang berhak menekan Ukraina untuk menyerah.”
Satu-satunya pemimpin Eropa yang tidak mendukung pernyataan bersama Uni Eropa adalah Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban. Ia menilai Rusia telah memenangkan perang.
Trump belakangan meningkatkan tekanan terhadap Rusia, termasuk persetujuan pengiriman senjata tambahan ke Ukraina dan ancaman tarif besar pada pembeli minyak Rusia, meski ultimatum tersebut kini sudah berakhir.