KIGALI, 14 Oktober 2026 – Formula 1 (F1) akan kembali menggelar balapan di Afrika pada awal dekade 2030-an melalui Grand Prix (GP) Rwanda. Kepastian tersebut diumumkan F1 bersama Presiden Rwanda Paul Kagame pada Selasa (13/10), menyusul kesepakatan kerja sama selama 10 tahun untuk menyelenggarakan balapan di negara tersebut.
Balapan itu akan digelar di sirkuit baru yang direncanakan dibangun di Bugesera, sekitar 40 kilometer di sebelah tenggara Kigali, ibu kota Rwanda. Namun, tanggal pasti penyelenggaraan balapan perdana belum diumumkan.
Kesepakatan ini mengakhiri penantian panjang untuk membawa kembali F1 ke Afrika setelah terakhir kali menggelar balapan di benua tersebut pada 1993 melalui Grand Prix Afrika Selatan.
“Kerja sama ini sudah lama tertunda. Namun, ini merupakan sebuah keberhasilan dan tonggak penting bagi seluruh benua, terutama bagi penggemar di Afrika,” kata Kagame dalam acara peluncuran di Kigali.
Ia berharap kehadiran Grand Prix Rwanda dapat membuka jalan bagi penyelenggaraan balapan F1 lainnya di negara-negara Afrika.
Sirkuit Baru Akan Dibangun di Bugesera
F1 menyatakan sirkuit khusus untuk balapan tersebut diperkirakan selesai dibangun pada awal dekade berikutnya. Lokasinya berada di dekat bandara baru yang sedang dibangun untuk melayani ibu kota Rwanda.
Lintasan dirancang untuk memanfaatkan kondisi alam di sekitarnya, termasuk perbukitan dan perubahan elevasi, guna menghadirkan tantangan bagi para pebalap.
Presiden sekaligus CEO F1 Stefano Domenicali menyebut kesepakatan tersebut sebagai momen penting bagi olahraga balap mobil itu.
“Dengan Rwanda bergabung dalam kalender mulai dekade berikutnya, olahraga kami akan menggelar balapan di setiap benua berpenghuni, sehingga kejuaraan dunia semakin dekat dengan penggemar di seluruh dunia,” ujar Domenicali.
Rwanda menjadi negara tuan rumah baru pertama yang dikonfirmasi F1 sejak Qatar dan Arab Saudi masuk kalender balapan pada 2021.
Kehadiran Rwanda juga memenuhi ambisi panjang Lewis Hamilton, juara dunia tujuh kali asal Inggris sekaligus satu-satunya pebalap kulit hitam di F1. Hamilton telah bertahun-tahun mendorong agar kejuaraan tersebut kembali diselenggarakan di Afrika.
Rwanda Bidik Pariwisata dan Investasi
Pemerintah Rwanda berharap penyelenggaraan F1 dapat memperkuat infrastruktur olahraga di dalam negeri. Selain itu, ajang balap ini diharapkan mampu meningkatkan sektor pariwisata sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi negara.
Di bawah kepemimpinan Kagame, Rwanda telah menjalin kerja sama sponsor dengan sejumlah klub sepak bola besar Eropa. Selain itu, negara ini juga mengembangkan kemitraan bola basket dengan NBA serta sukses menjadi tuan rumah kejuaraan dunia balap sepeda.
Berbagai upaya tersebut merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat citra Rwanda di mata internasional. Negara itu masih kerap dikaitkan dengan genosida 1994 yang menewaskan ratusan ribu orang.
Penyelenggaraan F1 diharapkan meningkatkan perhatian dunia terhadap Rwanda sekaligus menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja.
“Negara kami akan menjadi sorotan dunia. Hal ini akan membawa investasi dan menciptakan lapangan kerja, terutama bagi kaum muda,” kata Betty Mukamurenzi, mahasiswa teknologi informasi di Kigali.
Pengusaha James Ruzindana menilai kehadiran wisatawan internasional juga akan mendorong pelaku usaha lokal meningkatkan kualitas produk dan layanan mereka.
Meski demikian, rencana tersebut berpotensi kembali menyoroti catatan hak asasi manusia Rwanda. Langkah ini juga dapat memicu kritik mengenai sportswashing, yakni penggunaan ajang olahraga demi memperbaiki citra negara di tengah kontroversi politik maupun isu pelanggaran HAM.
Sejumlah kelompok HAM menuduh pemerintahan Kagame menggunakan cara-cara represif untuk mempertahankan kekuasaan. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menuduh Rwanda mendukung kelompok pemberontak di negara tetangganya, Kongo. Pemerintah Kongo sebelumnya turut mengkritik aktivitas sponsor olahraga Rwanda.
Afrika Selatan Masih Berambisi Gelar F1
Sebelum Rwanda dikonfirmasi sebagai tuan rumah, sejumlah proyek telah diusulkan untuk membawa kembali F1 ke Afrika. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat rencana untuk tiga lokasi potensial di Afrika Selatan dan satu lokasi di Maroko.
Menteri Olahraga, Seni, dan Kebudayaan Afrika Selatan Gayton McKenzie menyampaikan ucapan selamat kepada Rwanda pekan lalu, bahkan sebelum keputusan tersebut diumumkan secara resmi.
Namun, ia menegaskan Afrika Selatan masih berpeluang menjadi tuan rumah F1.
“Kami turut senang untuk Rwanda dan F1 mereka pada 2030-an. Mereka telah mengupayakannya lebih lama daripada Afrika Selatan dan pantas mendapatkannya,” tulis McKenzie di platform X.
Ia juga mencontohkan Italia yang pernah memiliki dua balapan F1 dalam satu musim. Menurut dia, tidak ada alasan satu benua dengan 55 negara hanya memiliki satu tuan rumah F1.
Hingga pengumuman pada Selasa, pernyataan resmi F1 tidak menyebutkan rencana penyelenggaraan balapan di Afrika Selatan.
Sejarah F1 di Afrika
Formula 1 terakhir kali menggelar balapan di Afrika pada Grand Prix Afrika Selatan 1993 di Sirkuit Kyalami. Sebelumnya, penyelenggaraan F1 di negara tersebut kerap menuai kritik akibat kebijakan apartheid. Pada 1985, sejumlah tim bahkan memboikot balapan di tengah sanksi internasional terhadap Afrika Selatan.
Selain Afrika Selatan, Maroko pernah menjadi tuan rumah Grand Prix pada 1958. Setelah lebih dari tiga dekade tanpa balapan F1 di Afrika, Rwanda kini bersiap membawa kejuaraan tersebut kembali ke benua itu pada awal dekade 2030-an.
















