Sana’a – Sedikitnya 68 migran asal Afrika dilaporkan tewas setelah Amerika Serikat serang sebuah pusat penahanan di wilayah Yaman barat laut yang dikuasai kelompok Houthi, Minggu (27/4/2025) waktu setempat.
Saluran televisi Al Masirah, yang dikelola Houthi, melaporkan bahwa selain korban tewas, 47 migran lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar dalam kondisi kritis. Tayangan yang disiarkan memperlihatkan jasad para korban tertutup reruntuhan bangunan yang hancur.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari militer Amerika Serikat terkait insiden tersebut. Namun, serangan itu terjadi beberapa jam setelah Komando Pusat AS (Centcom) mengumumkan telah melancarkan lebih dari 800 serangan terhadap target-target Houthi sejak Presiden Donald Trump memerintahkan intensifikasi operasi militer pada 15 Maret lalu.
Menurut Centcom, serangan tersebut telah “menewaskan ratusan pejuang Houthi dan sejumlah pemimpin senior,” termasuk pejabat yang terlibat dalam program rudal dan drone. Sementara itu, otoritas Houthi mengklaim serangan udara AS banyak menewaskan warga sipil.
Pusat penahanan migran di Saada yang menjadi sasaran diketahui menampung 115 migran Afrika. Meski dilanda konflik berkepanjangan selama 11 tahun, Yaman tetap menjadi jalur transit bagi ribuan migran dari Tanduk Afrika yang berharap menyeberang ke Arab Saudi untuk mencari penghidupan.
Namun, perjalanan tersebut kerap berujung tragis. Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), para migran rentan terhadap eksploitasi, kekerasan, dan kondisi hidup yang berbahaya di tengah zona konflik aktif. Sepanjang 2024, IOM mencatat hampir 60.900 migran tiba di Yaman, banyak di antaranya tanpa bekal memadai untuk bertahan hidup.
Tudingan Pelanggaran Hak Asasi
Sebelumnya, pihak Houthi di Yaman juga menuduh Amerika Serikat melakukan “kejahatan perang” usai serang terminal minyak Ras Isa di pesisir Laut Merah, yang menewaskan sedikitnya 74 orang. Pemerintah Houthi menegaskan fasilitas tersebut adalah instalasi sipil.
Sebaliknya, Centcom menyatakan bahwa serangan ke Ras Isa bertujuan melemahkan kemampuan Houthi dalam mengoperasikan terminal serta mengurangi sumber pendapatan mereka untuk aktivitas teror.
Ketegangan antara AS dan Houthi meningkat setelah Presiden Trump, yang baru menjabat kembali pada Januari lalu, menetapkan Houthi sebagai “Organisasi Teroris Asing” — status yang sebelumnya dicabut oleh pemerintahan Biden dengan alasan kemanusiaan.
Konflik Berkepanjangan
Kelompok Houthi dalam beberapa bulan terakhir melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal dagang di Laut Merah dan Teluk Aden. Mereka mengklaim serangan tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina dalam konflik Israel-Hamas, meski banyak klaim mereka yang terbukti tidak akurat.
Konflik di Yaman sendiri telah menewaskan lebih dari 150.000 orang dan menyebabkan bencana kemanusiaan besar, dengan hampir 5 juta orang mengungsi dan setengah dari populasi negara itu membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Centcom dalam pernyataannya menegaskan operasi militer terhadap Houthi akan terus dilanjutkan “hingga tujuan tercapai,” yakni memulihkan kebebasan navigasi dan memperkuat efek jera terhadap ancaman di kawasan tersebut.