Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

AS dan Ukraina Sepakat Kelola Mineral Kritis, Perkuat Dukungan Perang Lawan Rusia

badge-check


					Trump dan Zelenskyy saat di Gedung Putih Februari lalu. Perbesar

Trump dan Zelenskyy saat di Gedung Putih Februari lalu.

Kyiv – Setelah berbulan-bulan bernegosiasi, Amerika Serikat dan Ukraina menandatangani perjanjian penting yang membuka akses bagi Washington terhadap mineral kritis dan sumber daya alam Ukraina. Kesepakatan ini diharapkan menjadi fondasi jangka panjang dukungan AS bagi pertahanan Kyiv dalam menghadapi invasi Rusia.

Pejabat Ukraina menyatakan versi kesepakatan yang ditandatangani pada Rabu (30/4/2025) ini jauh lebih menguntungkan dibanding draf sebelumnya. Draf lama dinilai menempatkan Ukraina hanya sebagai mitra junior dan memberi hak luar biasa bagi AS atas sumber daya negara tersebut.

“Kesepakatan ini memberikan kondisi saling menguntungkan. Amerika menyatakan komitmennya terhadap perdamaian jangka panjang di Ukraina dan mengakui kontribusi Ukraina terhadap keamanan global, khususnya setelah menyerahkan persenjataan nuklirnya,” kata Menteri Ekonomi Ukraina, Yulia Svyrydenko, melalui unggahan di Facebook.

Kesepakatan ini masih menunggu ratifikasi dari parlemen Ukraina.

Fokus pada Mineral Langka dan Dana Rekonstruksi

Dalam isi kesepakatan yang dirilis pemerintah Ukraina, disebutkan bahwa perjanjian mencakup akses ke 55 jenis mineral. Ini termasuk elemen tanah jarang (rare earth), serta sumber daya lain seperti minyak dan gas alam. Sumber daya yang saat ini menjadi pendapatan negara tidak termasuk dalam perjanjian.

Pemerintah Ukraina menekankan bahwa kepemilikan sumber daya sepenuhnya tetap berada di tangan negara, dan hanya pemerintah yang berwenang menentukan lokasi dan jenis ekstraksi.

Kesepakatan ini juga membentuk sebuah Dana Investasi Rekonstruksi yang akan dikelola bersama oleh AS dan Ukraina. Dimana pendanaannya akan didukung oleh Pemerintah AS melalui badan International Development Finance Corporation. Amerika Serikat juga akan berkontribusi langsung dalam bentuk pendanaan langsung, peralatan militer, dan sistem pertahanan udara.

Ukraina diwajibkan menyetorkan 50% dari keuntungan masa depan sumber daya milik negara ke dalam dana tersebut. Tidak ada keuntungan yang boleh diambil selama 10 tahun pertama.

Dari Ketegangan hingga Kesepakatan

Sebelumnya, pemerintahan Trump sempat mengusulkan perjanjian yang memberikan AS keuntungan hingga 500 miliar dolar AS dari eksploitasi mineral sebagai kompensasi atas bantuan perang. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menolak tegas proposal tersebut, menyebutnya “beban yang akan ditanggung 10 generasi Ukraina.”

Kini, dengan versi baru yang lebih adil, para pejabat Ukraina berharap kesepakatan ini menjadi solusi untuk mempertahankan dukungan strategis Washington.

“Perjanjian ini mengirim pesan tegas ke Rusia bahwa pemerintahan Trump berkomitmen pada proses perdamaian yang menjamin Ukraina bebas, berdaulat, dan sejahtera,” ujar Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menandatangani perjanjian tersebut dari pihak Washington.

Potensi Sumber Daya Ukraina Masih Terpendam

Ukraina dikenal memiliki cadangan besar titanium, lithium, dan uranium, namun sebagian besar belum tergarap. Faktor seperti kebijakan ketat, keterbatasan data geologi, serta dampak perang membuat potensi ini belum dimaksimalkan.

Saat ini, sekitar 40% dari sumber daya logam Ukraina berada di wilayah yang diduduki Rusia. Oleh karena itu, kesepakatan ini juga dipandang sebagai langkah strategis untuk mempercepat eksplorasi sebelum wilayah yang dikuasai Moskow bertambah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional