Washington – Lebih dari 1.000 barista Starbucks di 75 gerai di Amerika Serikat melakukan aksi mogok kerja sejak Minggu (11/5/2025) waktu setempat, memprotes aturan seragam baru yang diberlakukan perusahaan. Informasi ini disampaikan oleh serikat pekerja Starbucks Workers United, Rabu (14/5/2025) waktu setempat.
Starbucks mulai menerapkan aturan seragam baru pada Senin (12/5/2025). Aturan tersebut mewajibkan para pegawai di gerai milik perusahaan maupun yang berlisensi di AS dan Kanada untuk mengenakan atasan berwarna hitam polos serta bawahan berupa celana khaki, hitam, atau denim biru.
Padahal, dalam aturan sebelumnya, karyawan diperbolehkan mengenakan pakaian berwarna gelap lain maupun bermotif.
Manajemen Starbucks menyatakan, kebijakan ini bertujuan menonjolkan identitas apron hijau khas Starbucks dan menciptakan kesan yang lebih akrab dan hangat bagi pelanggan.
Ditentang Serikat Pekerja
Namun, kebijakan ini ditentang oleh serikat pekerja yang menilai keputusan tersebut seharusnya dibicarakan melalui perundingan bersama.
“Starbucks telah kehilangan arah. Alih-alih mendengarkan suara barista yang membentuk pengalaman Starbucks itu sendiri, mereka malah fokus pada hal-hal yang keliru, seperti penerapan aturan seragam yang membatasi,” ujar Paige Summers, supervisor shift Starbucks di Hanover, Maryland.
Ia menambahkan, pelanggan lebih peduli terhadap waktu tunggu pesanan ketimbang warna pakaian pegawai.
Serikat pekerja juga menyoroti adanya penjualan pakaian bermerek Starbucks melalui situs internal perusahaan yang kini justru dilarang untuk dipakai saat bekerja.
Starbucks menyebut bahwa setiap karyawan akan diberikan dua kaus hitam secara gratis sebagai bagian dari implementasi aturan baru.
Starbucks: Mogok Kerja Barista Tidak Berdampak
Meski demikian, Starbucks menyatakan pada hari Rabu bahwa aksi mogok hanya berdampak terbatas pada 10.000 gerai milik perusahaan di AS. Berdasarkan perhitungan serikat pekerja sendiri, kurang dari 1% pekerja Starbucks berpartisipasi dalam aksi tersebut. Kemudian, di beberapa lokasi, mogok hanya menyebabkan penutupan gerai selama kurang dari satu jam.
“Akan jauh lebih produktif jika serikat pekerja menggunakan energi mereka untuk kembali ke meja perundingan. Dibanding memprotes aturan mengenakan kaus hitam di tempat kerja,” kata Starbucks dalam pernyataan resminya.
Starbucks Workers United telah menginisiasi gerakan serikat pekerja sejak 2021, namun hingga kini belum mencapai kesepakatan kontrak kerja dengan manajemen. Kedua pihak diketahui kembali ke meja perundingan pada Februari 2024, namun belum menghasilkan kesepakatan final.
Serikat tersebut juga menyatakan telah mengajukan keluhan ke Dewan Hubungan Perburuhan Nasional AS (NLRB). Keluhan itu berisi tuduhan bahwa Starbucks melanggar kewajiban untuk melakukan negosiasi atas aturan baru tersebut.












