Beijing – Militer China mengecam pelayaran kapal perang Inggris HMS Spey di Selat Taiwan sebagai tindakan provokatif yang disengaja dan dinilai mengganggu stabilitas kawasan. Pelayaran ini merupakan yang pertama oleh kapal perang Inggris di jalur perairan sensitif tersebut sejak empat tahun terakhir.
Dalam pernyataan resminya, juru bicara Angkatan Laut China menyebut langkah Inggris sebagai “distorsi prinsip hukum internasional” dan “upaya menyesatkan opini publik”.
“Tindakan ini adalah provokasi yang disengaja, merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” tegas juru bicara tersebut.
Menurut militer China, kapal HMS Spey dipantau ketat sepanjang pelayarannya. Beijing menegaskan pasukannya akan “menentang dengan tegas segala bentuk ancaman dan provokasi”.
Inggris: Sesuai Hukum Internasional
Pemerintah Inggris melalui Angkatan Laut Kerajaan (Royal Navy) membantah tudingan China. Mereka menyatakan bahwa mereka telah merencanakan pelayaran HMS Spey sejak lama dan melaksanakannya sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional.
Pelayaran ini bertepatan dengan kedatangan gugus tempur kapal induk Inggris yang dipimpin oleh HMS Prince of Wales ke kawasan Indo-Pasifik dalam misi delapan bulan. Setidaknya, sekitar 4.000 personel militer Inggris akan terlibat dalam berbagai operasi militer dan kunjungan ke 30 negara. Kegiatan ini mencakup latihan bersama dengan Amerika Serikat, India, Singapura, dan Malaysia.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut pengiriman gugus tempur ini sebagai salah satu pengerahan militer terbesar Inggris di abad ini.
“Ini adalah pesan kekuatan bagi pihak yang memusuhi kami, dan pesan persatuan kepada para sekutu kami,” kata Starmer.
Taiwan Apresiasi Inggris
Kementerian Luar Negeri Taiwan menyambut baik langkah Inggris, menyebutnya sebagai kontribusi penting terhadap kebebasan navigasi di Selat Taiwan.
Sebagai catatan, Amerika Serikat secara rutin melakukan patroli kebebasan navigasi di kawasan tersebut. Inggris terakhir kali melintasi Selat Taiwan pada tahun 2021 melalui kapal perang HMS Richmond, yang saat itu juga mendapat kritik keras dari Beijing.
HMS Spey sendiri merupakan salah satu dari dua kapal perang Inggris yang berpatroli secara permanen di kawasan Indo-Pasifik.
Ketegangan Meningkat
Pelayaran kali ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan lintas selat setelah Presiden Taiwan Lai Ching-te yang terkenal berseberangan dengan Beijing resmi menjabat tahun ini. Lai bahkan menyebut China sebagai “kekuatan asing yang bermusuhan” dan telah meluncurkan kebijakan untuk melawan pengaruh Beijing di Taiwan.
Akibatnya, China merespon dengan meningkatkan intensitas latihan militernya, termasuk simulasi serangan terhadap pelabuhan dan fasilitas energi Taiwan pada April lalu.
China selama ini mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, meskipun pulau itu memiliki pemerintahan mandiri dan menolak klaim reunifikasi dari Beijing.