Toronto – Insiden kecelakaan pesawat Delta Air Lines yang terjadi pada Senin (17/2/2025) di Bandara Internasional Toronto Pearson, Kanada, telah memicu gelombang tuntutan dari para penumpang yang terlibat. Pesawat dengan nomor penerbangan 4819 yang membawa 76 penumpang dan empat awak pesawat terbalik saat mendarat akibat angin kencang.
Dalam insiden tersebut, sebanyak 18 orang mengalami luka-luka dan segera dilarikan ke rumah sakit. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini. Namun, para penumpang yang selamat kini menuntut kompensasi dari maskapai Delta Air Lines atas kerugian yang mereka alami.
Delta Air Lines telah menawarkan kompensasi sebesar 30.000 dollar AS (sekitar Rp 490 juta) kepada setiap penumpang yang terlibat dalam insiden tersebut.
Meskipun demikian, kompensasi ini tetap tidak mempengaruhi hak hukum penumpang untuk menuntut maskapai lebih lanjut.
Kurang dari dua hari setelah Delta Air Lines menawarkan kompensasi tersebut kepada setiap penumpang yang berada di dalam penerbangan yang mengalami kecelakaan dan terbalik di Toronto pada Senin sore, perusahaan tersebut menghadapi dua gugatan pertama terkait insiden itu.
Dalam salah satu dari dua gugatan yang diajukan pada hari Jumat, seorang penumpang mengatakan bahwa ia dalam keadaan “tergantung terbalik” dan “terkena bahan bakar jet” yang menyebabkan “tekanan emosional yang parah dan penderitaan mental.” Ia juga mengatakan bahwa ia mengalami “cedera signifikan pada kepala, leher, punggung, lutut, dan wajah.”
Gugatan lainnya, yang diajukan atas nama seorang wanita dari Minneapolis yang berada di dalam penerbangan, menuduh bahwa ia menderita “cedera tubuh dan mental yang ekstrem.” Gugatan tersebut juga menuduh awak penerbangan gagal menjalankan “prosedur paling mendasar untuk pendekatan pendaratan” di bandara.
Penyelidikan atas kecelakaan ini sedang berlangsung, Dewan Keselamatan Transportasi Kanada bekerja sama dengan Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA), Delta Air Lines, dan Mitsubishi, yang membeli lini pesawat CRJ dari Bombardier pada 2019. Penyelidik akan memeriksa landasan pacu sebelum lokasi tersebut dibersihkan dan diserahkan kembali ke bandara untuk beroperasi.
CEO Delta Air Lines, Ed Bastian, menegaskan bahwa pilot yang menerbangkan pesawat tersebut sangat berpengalaman dalam kondisi bersalju. Ia juga memuji tindakan cepat awak pesawat dalam mengevakuasi penumpang setelah kecelakaan terjadi.
Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan penerbangan yang melibatkan maskapai asal Amerika Serikat dalam beberapa waktu belakangan ini. Sejumlah pelaku industri penerbangan di AS pun menuntut adanya langkah darurat guna menanggapi kejadian memilukan ini.