Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Ditahan di Den Haag, Duterte Jadi Calon Wali Kota di Filipina

badge-check


					Foto mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang sedang ditahan ICC di Den Haag, terpampang di billboard di jalanan Davao, Filipina Perbesar

Foto mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang sedang ditahan ICC di Den Haag, terpampang di billboard di jalanan Davao, Filipina

Davao City – Mantan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, yang kini mendekam dalam tahanan di Den Haag menanti proses persidangan atas kejahatan terhadap kemanusiaan, masih menjadi tokoh yang tak tergoyahkan di kampung halamannya, Davao City. Meski dibelit kasus internasional, Duterte tetap mencalonkan diri sebagai Wali Kota dalam pemilu paruh waktu, Senin (12/5/2025) mendatang—dan diprediksi kuat akan menang.

Di sebuah warung kopi sederhana di sudut kota, wajah Duterte terpampang di spanduk, disandingkan dengan slogan dukungan. “Saya melihat sendiri apa yang sudah ia lakukan. Dari memberantas bandar narkoba sampai membangun kota ini,” ujar Jennifer Maumbas (28), pegawai warung tersebut. “Apapun yang terjadi, kami tetap solid bersama Duterte.”

Ditahan di Den Haag Sejak Maret

Duterte ditangkap pada Maret lalu atas permintaan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang menyelidiki kebijakan “perang melawan narkoba” semasa pemerintahannya (2016–2022). Kebijakan yang diklaim aparat menewaskan 6.000 orang ini dituding oleh kelompok HAM sebagai aksi brutal dengan korban jauh lebih banyak. Namun, di Davao—kota berpenduduk 1,8 juta orang tempat Duterte pernah menjabat wali kota selama dua dekade—ia tetap dielu-elukan.

Penangkapannya menjadi pukulan telak bagi keluarga Duterte yang dikenal sebagai dinasti politik kuat di wilayah selatan Filipina. Meski begitu, para pengamat menilai kekuatan keluarga ini mulai melemah di panggung nasional.

“Nama Duterte memiliki status mitos di Davao, tapi tidak berlaku sama di seluruh Filipina,” ujar Ederson Tapia, pengamat administrasi publik dari Universitas Makati. Menurutnya, kemenangan di kota ini belum tentu cukup untuk mengusung kampanye nasional, apalagi ketika Wakil Presiden Sara Duterte—putri Rodrigo—juga sedang menghadapi tuntutan pemakzulan.

Sara yang semula berpasangan dengan Presiden Ferdinand Marcos Jr dalam pemilu 2022 kini menjadi lawan politik. Retaknya aliansi dua keluarga besar ini disebabkan perebutan pengaruh dan arah kebijakan yang saling bertolak belakang.

Taruhan Politik Menuju 2028

Konstelasi ini menjadikan pemilu mendatang bukan sekadar ajang demokrasi lokal. Lebih dari 18.000 jabatan publik akan diperebutkan, termasuk 317 kursi DPR dan 12 kursi Senat. Perebutan Senat sangat krusial karena memiliki kewenangan menjadi juri dalam proses pemakzulan.

Para kandidat dari kubu Marcos tampak mendominasi survei, meskipun simpati terhadap Duterte meningkat pasca-penangkapannya. Meski demikian, dukungan di Davao tetap solid.

“Kami sampai menangis tiga hari saat menyaksikan penangkapannya di televisi,” kata Joel Sagosoy Valles, pemilik warung makan yang dindingnya penuh foto-foto Duterte.

Kemenangan pada 12 Mei nanti bisa menjadi batu loncatan bagi Sara Duterte dalam mengamankan basis dukungan menjelang Pilpres 2028. Namun, jika Rodrigo Duterte menang, ia tak dapat dilantik karena status hukumnya. Jabatan kemungkinan besar akan jatuh ke tangan wakil wali kota terpilih, yang disebut-sebut adalah putra bungsunya, Sebastian.

Di antara gegap gempita dukungan, suara-suara kritis tetap muncul. “Kami butuh perubahan,” ujar Arlene Noyney (50), yang lebih memilih Karlo Nograles—mantan menteri kabinet dan rival politik Duterte dari keluarga politik lain.

“Saya hanya ingin kedamaian. Tanpa perkelahian, tanpa pembunuhan,” katanya lirih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tragedi Rio de Janeiro: Operasi Polisi Tewaskan 121 Orang

31 Oktober 2025 - 08:32 WIB

Operasi polisi di Rio de Janeiro menewaskan 121 orang, menjadikannya yang paling mematikan dalam sejarah Brasil.

Pencurian Mahkota Kerajaan di Louvre Prancis, Pakar Sebut Barang Curian Akan Hilang Selamanya

22 Oktober 2025 - 09:22 WIB

Pencurian mahkota Kerajaan di Louvre jadi aib nasional Prancis. Polisi buru geng spesialis perhiasan lintas Eropa.

Industri Film Dunia Tetap Melaju di Tengah Ancaman Tarif Trump

19 Oktober 2025 - 10:29 WIB

Ancaman tarif 100 persen dari Donald Trump tak hentikan produksi global seperti Star Wars: Starfighter. Industri film tetap melaju.

Aksi ‘No Kings’ di AS, Ribuan Warga Protes Kebijakan Trump

19 Oktober 2025 - 07:59 WIB

Ribuan warga AS turun ke jalan dalam aksi No Kings memprotes kebijakan Donald Trump yang dinilai mengancam demokrasi dan kebebasan sipil.

Tercatat Sejarah: Trump Umumkan Perang Gaza Berakhir

14 Oktober 2025 - 08:34 WIB

Hamas bebaskan sandera terakhir, Trump nyatakan perang Gaza berakhir. Dunia sambut babak baru perdamaian Timur Tengah.
Trending di Internasional