Davao, Filipina – Rodrigo Duterte, mantan Presiden Filipina yang kini mendekam di Penjara Den Haag karena kasus dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam perang narkoba yang ia pimpin, kembali terpilih sebagai Wali Kota Davao—kota asalnya sekaligus basis kekuatan politik keluarganya—berdasarkan hasil awal pemilu sela yang diumumkan Selasa (13/5/2025).
Meski berada ribuan kilometer jauhnya dan dalam tahanan Mahkamah Pidana Internasional (ICC), nama Duterte tetap tertera di surat suara karena belum divonis bersalah oleh pengadilan mana pun. Hasil sementara menunjukkan ia berhasil mengalahkan kandidat dari keluarga politik lokal yang lebih kecil. Kemenangan ini semakin mempertegas cengkeraman keluarga Duterte di kawasan selatan Filipina.
Putra bungsu Duterte, Sebastian, yang sebelumnya menjabat Wali Kota Davao, kini terpilih sebagai wakil wali kota. Sementara putra sulungnya, Paolo Duterte, mempertahankan kursi sebagai anggota kongres. Sejumlah cucu Duterte juga menang di tingkat pemerintahan lokal.
Duterte ditangkap dua bulan lalu di Bandara Manila dan segera diterbangkan ke Belanda atas permintaan ICC. Lembaga tersebut menuduhnya terlibat dalam ribuan kematian selama kebijakan “perang melawan narkoba” yang ia terapkan saat menjabat Presiden 2016–2022. Penangkapannya, yang disetujui Presiden Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr., menjadi pemicu utama retaknya hubungan politik antara dua dinasti besar di Filipina. Ketegangan antara keluarga Duterte dan Marcos kini semakin terlihat setelah peristiwa tersebut.
Pertarungan Dua Dinasti
Pemilu sela tahun ini yang mempertaruhkan lebih dari 18.000 posisi politik, mulai dari jabatan lokal hingga kursi senat, berubah menjadi medan pertempuran dua klan politik. Di satu sisi, kubu Duterte yang mencoba mempertahankan pengaruh mereka; di sisi lain, kubu Marcos yang berusaha mengonsolidasikan kekuasaan menjelang pemilihan presiden 2028.
Salah satu pertaruhan besar adalah nasib Sara Duterte, Wakil Presiden Filipina sekaligus putri Rodrigo Duterte. Sara kini menghadapi ancaman pemakzulan setelah mayoritas anggota DPR—yang didominasi sekutu Presiden Marcos—sepakat memproses pemecatan dirinya. Hasil pemilu senat sangat menentukan, karena Sara membutuhkan setidaknya sembilan suara senator untuk mencegah pemakzulannya di majelis tinggi.
Namun, perhitungan tidak resmi dari 68 persen suara menunjukkan hasil yang belum pasti. Hanya satu dari kandidat senat yang didukung langsung oleh Marcos, yakni mantan penyiar Erwin Tulfo, yang menempati lima besar. Sisanya diisi oleh dua loyalis Duterte—Ronald “Bato” dela Rosa dan Christopher “Bong” Go—serta dua kandidat independen.
Politik Keluarga dan Pertunjukan
Seperti biasa, pemilu diwarnai dengan semarak khas Filipina: kampanye bernuansa hiburan, nyanyian, tarian, serta pengaruh selebritas di media sosial. Di balik itu, warga masih menghadapi masalah nyata: korupsi, inflasi, dan infrastruktur yang tertinggal.
Pemilu ini juga tidak luput dari insiden teknis dan keamanan. Sejumlah mesin pemungutan suara dilaporkan mengalami kerusakan. Sementara antrean panjang terlihat di banyak tempat pemungutan suara di tengah suhu yang mencapai 33 derajat Celsius.
Meski demikian, bagi keluarga Duterte, hasil sejauh ini menunjukkan mereka belum kehilangan pijakan politik, terutama di Davao. Kota ini, yang dulu dikenal sebagai wilayah penuh kekerasan, menjadi simbol keberhasilan Duterte dalam menegakkan ketertiban melalui pendekatan tangan besi—sebuah warisan yang masih mengundang pujian sekaligus kritik tajam, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dengan kekuatan politik lokal yang tetap kuat, dan dukungan nasional yang masih terasa, keluarga Duterte tampaknya belum akan lengser dari panggung politik Filipina. Namun, konstelasi politik menjelang pemilu 2028 akan sangat ditentukan oleh bagaimana kasus ICC terhadap Duterte dan proses pemakzulan Sara akan berakhir.