Jakarta – Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, angkat bicara terkait viralnya proses pengundian grup Liga 4 Nasional 2024/2025 yang menuai sorotan publik. Erick menilai pelaksanaan drawing tersebut tidak profesional dan mencederai semangat fair play, serta meminta agar proses pengundian ulang segera dilakukan.
Kontroversi bermula dari video yang beredar luas di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Video itu memperlihatkan Ketua Umum Asprov PSSI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dessy Arfianto, sedang memimpin proses pengundian untuk Grup N Liga 4. Dalam grup tersebut, Persewangi Banyuwangi ditetapkan sebagai tuan rumah dan akan bersaing dengan tiga tim lain: Papua Tengah-1, Jawa Timur-4, dan Jawa Barat-2.
Namun, jalannya prosesi drawing memunculkan tanda tanya dari warganet. Dua hal menjadi sorotan utama. Pertama, posisi tangan Dessy Arfianto yang membuka kertas undian terlalu rendah hingga tak terlihat jelas di kamera. Kedua, bentuk kertas yang dikeluarkan dari bola undian dinilai tidak wajar—terlihat sangat panjang dan mulus, sementara bola undian berukuran kecil.
Kecurigaan atas kejanggalan tersebut memicu reaksi keras dari publik. Banyak yang menilai proses drawing berpotensi tidak fair dan mendesak PSSI untuk menindaklanjuti.
Menanggapi hal itu, PSSI menyatakan keprihatinan mendalam. Erick Thohir menegaskan bahwa proses kompetisi, termasuk pengundian, harus dilaksanakan dengan prinsip integritas dan transparansi.
“Kami menyesalkan pelaksanaan drawing Liga 4 yang berlangsung secara tidak profesional dan tidak transparan. Jangan pernah main-main dengan kompetisi Liga!” kata Erick Thohir dalam pernyataan resmi di Jakarta, Jumat (11/4/2025).
Erick menambahkan, demi menjunjung tinggi prinsip fair play, PSSI mendesak agar dilakukan pengundian ulang dengan prosedur yang terbuka dan melibatkan seluruh pihak terkait.
“Demi menjunjung fair play dan integritas kompetisi, kami mendesak agar dilakukan drawing ulang dengan prosedur yang jelas, adil, dan melibatkan semua pihak,” tegasnya.
PSSI menegaskan bahwa Liga 4, meski berada di level bawah dalam piramida kompetisi nasional, tetap merupakan bagian penting dari ekosistem sepak bola Tanah Air. Karena itu, setiap tahap penyelenggaraan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Selain mendorong drawing ulang, federasi juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan pengundian tersebut, guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Reaksi Netizen: Sorotan Tajam terhadap Proses Drawing
Kontroversi ini memicu berbagai reaksi dari netizen di platform media sosial. Banyak yang menyoroti kejanggalan dalam proses pengundian dan mempertanyakan transparansi serta profesionalisme panitia.
Salah satu pengguna media sosial dengan akun @MafiaWasit mengomentari, “Buka kertasnya kenapa harus ke bawah banget sih pak?”
“Pengurus bola main sulap. Giliran pesulap jadi stafsus,” tulis @perupadata di X.
Sementara itu, akun @DengkekPak membandingkan proses drawing itu dengan proses drawing Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang diadakan FIFA, “Beda jauuuhh.” ucapnya sambil menyertakan cuplikan drawing yang disiarkan oleh RCTI.
Komentar-komentar ini mencerminkan kekhawatiran publik terhadap integritas dan transparansi dalam penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Indonesia.