CHICAGO, 4 Oktober 2025 – Beberapa kampus di Amerika Serikat (AS) menghadapi krisis mahasiswa internasional setelah kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump memperketat izin visa pelajar. Salah satunya adalah DePaul University di Chicago yang mengumumkan akan segera melakukan pemangkasan anggaran. Pihak kampus mengambil keputusan itu setelah jumlah mahasiswa internasional yang mendaftar pada semester gugur tahun ini anjlok hingga 30 persen.
Presiden DePaul, Robert Manuel, dalam memo kepada dosen dan staf pada Rabu (1/10) menyebutkan jumlah pemangkasan anggarannya masih dalam pembahasan. Namun, opsi yang muncul meliputi pembekuan rekrutmen tenaga kerja, pemotongan gaji eksekutif, hingga pembatasan belanja non-prioritas.
“Jumlah mahasiswa internasional baru di tingkat pascasarjana turun lebih tajam lagi, hampir 62 persen,” tulis Manuel. Daripada tahun lalu, total pendaftar asing berkurang 755 orang. Pada 2024, DePaul tercatat memiliki sekitar 21.000 mahasiswa, dengan 2.500 di antaranya berasal dari luar negeri.
Manuel menegaskan penurunan tersebut dipicu sulitnya pengurusan visa serta berkurangnya minat pelajar asing untuk belajar di AS akibat perubahan kebijakan federal.
Kebijakan Federal Menjadi Pemicu
DePaul bukan satu-satunya kampus yang menghadapi masalah serupa. Setidaknya 35 perguruan tinggi lain telah mengumumkan pemotongan anggaran. Johns Hopkins University, misalnya, memangkas lebih dari 2.000 pegawai setelah pemerintah mengurangi dana riset sebesar 800 juta dollar AS. Northwestern University dan University of Southern California juga melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap ratusan staf.
Pemerintahan Trump sangat ketat pada visa mahasiswa. Selain pengetatan persyaratan, beberapa visa dicabut, dan pemohon baru harus menyerahkan akses media sosial sebagai bagian dari pemeriksaan latar belakang.
Pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), Tricia McLaughlin, menegaskan hak pemerintah untuk mengawasi mahasiswa asing. “Jika Anda datang dengan visa, Anda adalah tamu di negeri ini. Bertindaklah seperti tamu. Kalau terlibat tindakan anti-Amerika, jangan heran bila visa Anda dicabut,” ujarnya.
Dampak Ekonomi dan Akademik
Data dari NAFSA: Association of International Educators memperkirakan sekitar 1,2 juta mahasiswa asing belajar di AS pada 2024–2025. Namun, jumlah itu diprediksi merosot hingga 15 persen tahun ini, yang berpotensi menggerus perekonomian AS sekitar 7 miliar dollar AS.
Penurunan jumlah mahasiswa asing, terutama di program pascasarjana, menjadi pukulan ganda. Selain biaya kuliah mereka yang relatif lebih tinggi, sebagian besar tidak bergantung pada bantuan finansial universitas sehingga menjadi sumber pendapatan penting.
“Kami semua khawatir dengan keselamatan komunitas akademik, kebebasan akademis, dan tantangan finansial baru akibat perubahan pendanaan federal maupun proses visa,” tulis Manuel dalam memo. “Situasi ini begitu berat hingga kadang membuat kami sulit mengenali wajah pendidikan tinggi Amerika yang dulu.”












