Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Hadapi Ancaman China, Taiwan Jalin Kerja Sama dengan Pemasok Drone Ukraina

badge-check


					Sebuah drone laut SeaShark 800, yang dikembangkan oleh Thunder Tiger, terlihat dalam sebuah acara pameran drone laut di Taiwan, pada 17 Juni 2025. (foto: REUTERS/Ann Wang) Perbesar

Sebuah drone laut SeaShark 800, yang dikembangkan oleh Thunder Tiger, terlihat dalam sebuah acara pameran drone laut di Taiwan, pada 17 Juni 2025. (foto: REUTERS/Ann Wang)

Suao, Taiwan – Pemerintah Taiwan menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi drone asal Amerika Serikat dan Jerman, Auterion, untuk memperkuat pertahanan negara melalui pengembangan sistem drone canggih. Perjanjian ini diumumkan pada Selasa (17/6/2025) dalam pameran drone laut yang diselenggarakan di Pelabuhan Suao.

Auterion, yang memasok perangkat lunak untuk drone militer Ukraina dalam perangnya melawan Rusia, menyatakan bahwa kini Taiwan akan menggunakan teknologi mereka. Negara tersebut berencana membangun armada drone tak berawak guna menangkis potensi agresi militer dari China.

“Kami membawa teknologi yang telah terbukti di medan perang Ukraina untuk mencegah agresi dan menghancurkan tank, aset laut, serta peralatan militer bernilai tinggi lainnya. Dengan membangun armada drone otonom dalam jumlah besar, Taiwan dapat memberikan efek deteren terhadap China,” kata CEO Auterion, Lorenz Meier.

Perjanjian ini mencakup kolaborasi dengan lembaga penelitian dan pengembangan Kementerian Pertahanan Taiwan, yakni National Chung-Shan Institute of Science and Technology, untuk mengembangkan sistem drone dan perangkat lunak swarm (berkelompok).

Fokus pada Perang Asimetris

Sebelumnya, dalam forum Shangri-La Dialogue di Singapura, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa ancaman China terhadap Taiwan semakin nyata. Hegseth menyerukan negara-negara Asia untuk meningkatkan belanja pertahanan demi mencegah konflik di kawasan Indo-Pasifik. Taiwan kini berfokus membangun strategi perang asimetris, yaitu menggunakan persenjataan mobile dan relatif murah seperti drone dan rudal yang terpasang pada kendaraan, namun tetap memiliki daya rusak tinggi.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Taiwan secara intensif mempelajari taktik Ukraina dalam menggunakan drone udara dan laut untuk menghadapi keunggulan jumlah pasukan musuh. Hal ini cukup relevan mengingat China juga memiliki keunggulan serupa terhadap Taiwan.

Auterion memproyeksikan bahwa kemitraan ini akan berlangsung dalam jangka panjang. Kolaborasi tersebut berpotensi menghasilkan jutaan unit drone dalam beberapa tahun mendatang, dengan nilai proyek mencapai ratusan juta dolar AS.

Program Drone Taiwan Dukung Demokrasi

Presiden National Chung-Shan Institute, Li Shih-chiang, menyampaikan apresiasinya terhadap lima perusahaan asing yang berpartisipasi dalam pameran drone di Suao. Ia juga menyampaikan dukungannya terhadap komitmen negara-negara demokratis.

“Saya yakin kalian akan segera disanksi oleh pemerintah China, tetapi jangan takut, karena kalian telah memilih berpihak pada demokrasi,” ujarnya.

Pameran tersebut menampilkan berbagai jenis drone laut tak berawak. Di antaranya terdapat drone kamikaze berkecepatan tinggi yang dilengkapi bahan peledak, serta drone kecil yang dirancang untuk misi pengintaian senyap.

China sendiri terus meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan selama lima tahun terakhir. Upaya tersebut mencakup latihan militer skala besar di sekitar wilayah pulau tersebut. Namun, pemerintah Taiwan menegaskan penolakannya terhadap klaim kedaulatan Beijing dan terus memperkuat sistem pertahanannya secara mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional