Washington – Miliarder Elon Musk mengakui bahwa ia menyesal atas sejumlah pernyataan tajamnya terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam unggahan di platform X, yang juga dimilikinya, Musk menulis bahwa beberapa komentarnya “telah melampaui batas”.
Pernyataan itu muncul menyusul wawancara Trump dengan New York Post, Rabu (11/6/2025), di mana sang presiden menyebut dirinya “sedikit kecewa” atas keretakan hubungan dengan Musk, namun menekankan bahwa “tidak ada dendam pribadi”.
“Saya rasa dia sangat menyesali apa yang telah dia katakan,” ujar Trump, merujuk pada serangan verbal Musk di media sosial beberapa waktu lalu.
Dari Kawan Menjadi Lawan
Ketegangan antara keduanya bermula setelah Musk mundur dari peran simboliknya dalam pemerintahan dan secara terbuka mengecam rancangan undang-undang pajak Trump, yang disebutnya sebagai “kekejian yang menjijikkan”.
RUU tersebut, yang mencakup pemotongan pajak besar dan peningkatan belanja pertahanan, telah disahkan oleh DPR AS bulan lalu dan kini tengah dibahas di Senat.
Musk mengajak warga AS untuk menghubungi wakil rakyat mereka dan “menghentikan RUU ini.” Ia mengklaim bahwa kebijakan tersebut dapat “menyebabkan resesi pada paruh kedua tahun ini.”
Namun, salah satu pernyataan Musk yang paling kontroversial adalah tudingan tanpa buktinya, bahwa nama Trump muncul dalam berkas pemerintah yang belum dipublikasikan terkait kasus Jeffrey Epstein. Epstein adalah pelaku kejahatan seksual yang telah meninggal dunia. Gedung Putih dengan tegas membantah tudingan tersebut.
Sebagai tanggapan, Trump menyebut Musk telah “kehilangan akal sehat” dan mengancam akan membatalkan kontrak-kontrak pemerintah dengan perusahaan-perusahaan milik Musk yang nilainya diperkirakan mencapai 38 miliar dolar AS, termasuk untuk SpaceX.
“Saya pikir itu sangat buruk, karena dia tidak menghormati. Anda tidak bisa merendahkan jabatan Presiden,” kata Trump dalam wawancara dengan NBC, Minggu (8/6).
Jejak Digital yang Dihapus
Musk tampaknya telah menghapus sejumlah unggahannya selama akhir pekan, termasuk yang berisi seruan agar Trump dimakzulkan. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan yang telah menjadi perhatian publik dan media selama beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, Musk diketahui merupakan penyumbang terbesar dalam kampanye pencalonan Trump untuk Pilpres 2024. Ia bahkan disebut-sebut sebagai “tangan kanan” presiden dalam kebijakan efisiensi pemerintahan, lewat perannya di Department of Government Efficiency (DOGE), sebelum akhirnya mengundurkan diri setelah 129 hari menjabat.
Respon Beragam dari Tokoh Politik
Perseteruan dua tokoh berpengaruh ini menarik perhatian luas, termasuk dari kalangan internal Partai Republik. Mantan penasihat Trump, Steve Bannon, bahkan menyerukan agar Musk dideportasi, mengingat latar belakang kelahirannya di Afrika Selatan.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance berharap keduanya dapat berdamai. “Saya harap Elon bisa kembali ke lingkaran dalam. Tapi mengingat ia sudah ‘meledakkan jembatan’, itu akan sulit,” ujarnya.
Mayoritas tokoh Republik mendorong agar Musk dan Trump melakukan rekonsiliasi. Sementara politisi Demokrat lebih memilih menonton perkembangan ini dari pinggir arena, menunggu dampak politik yang mungkin timbul.