Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Israel Ratakan Ribuan Bangunan Gaza, Pakar: Kejahatan Perang

badge-check


					(foto: pchrgaza.org) Perbesar

(foto: pchrgaza.org)

Tel al-Sultan – Militer Israel telah ratakan ribuan bangunan di Gaza sejak membatalkan perjanjian gencatan senjata dengan Hamas pada Maret lalu. Penghancuran itu meluas ke seluruh kota dan permukiman padat yang menjadi rumah bagi puluhan ribu warga sipil.

Citra satelit terbaru memperlihatkan kerusakan masif di sejumlah wilayah yang kini diklaim Israel sebagai area “di bawah kendali operasional”. Banyak dari kehancuran itu terjadi melalui penghancuran terencana, baik terhadap bangunan yang sudah rusak maupun yang tampak masih utuh.

Rekaman video menunjukkan ledakan-ledakan besar menyemburkan debu dan puing saat pasukan Israel melakukan penghancuran terkontrol terhadap gedung bertingkat, sekolah, dan infrastruktur lainnya.

Sejumlah pakar hukum internasional menilai, tindakan ini berpotensi melanggar Konvensi Jenewa, yang melarang penghancuran properti sipil oleh kekuatan pendudukan.

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa mereka beroperasi sesuai hukum internasional. Israel mengklaim Hamas menyembunyikan “aset militer” di kawasan sipil dan penghancuran hanya dilakukan atas dasar “keperluan militer mendesak”.

Rafah, Kota yang Lenyap

Kota Rafah, dekat perbatasan Mesir, menjadi salah satu wilayah paling parah terdampak. Dalam beberapa minggu terakhir, Israel dan kontraktor sipilnya telah meratakan sebagian besar wilayah ini.

Analisis dari akademisi Corey Scher dan Jamon Van Den Hoek menyebut kehancuran terbesar sejak April terjadi di Rafah. Ledakan terkendali, buldoser, dan ekskavator menghancurkan seluruh blok kota.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz bahkan mengumumkan rencana membangun “kota kemanusiaan” di atas puing-puing Rafah, yang akan menampung hingga 600.000 warga Palestina. Rencana ini mendapat kecaman luas. Mantan PM Israel Ehud Olmert menyebutnya dapat “diartikan sebagai kamp konsentrasi.”

Rumah Sakit dan Masjid Pun Rata

Di lingkungan Tel al-Sultan, kawasan paling padat di Rafah yang memiliki rumah sakit bersalin satu-satunya dan pusat anak-anak terlantar, hampir seluruh bangunan telah lenyap pada pertengahan Juli. Satu-dua bangunan, termasuk rumah sakit, masih berdiri.

Penghancuran juga berlangsung di lingkungan Saudi yang berdekatan, tempat masjid terbesar Rafah dan beberapa sekolah pernah berdiri.

Rekaman video menunjukkan tank Israel melintas di jalan-jalan Rafah dengan alat berat bekerja di sisi jalan.

Wilayah Tel al-Sultan. (foto: BBC)

Petak Tanah Pertanian Jadi Zona Kosong

Desa pertanian Khuza’a, sekitar 1,5 km dari perbatasan Israel, juga menjadi sasaran. Sebelum perang, desa ini terkenal dengan hasil pertaniannya seperti tomat, gandum, dan zaitun. Sekitar 1.200 bangunan telah dihancurkan oleh IDF, yang menyebutnya sebagai bagian dari “infrastruktur teror” Hamas.

Di kota tetangga Abasan al-Kabira, dengan populasi praperang sekitar 27.000 jiwa, puluhan hektar bangunan rata dalam waktu 38 hari antara akhir Mei dan awal Juli.

Israel juga membangun koridor keamanan baru yang membagi bagian timur dan barat Khan Younis — termasuk Khuza’a dan Abasan al-Kabira — serta menghancurkan bangunan di sepanjang jalur tersebut.

Abasan al-Kabira, sekitar 27.000 orang menghuni wilayah ini sebelum perang. (foto: BBC)

Zona Penyangga dan Tuduhan Kejahatan Perang

Beberapa analis menduga Israel mencoba membentuk zona penyangga permanen dengan menghancurkan bangunan jauh di dalam wilayah Gaza, seperti di Qizan Abu Rashwan yang berjarak 7 km dari perbatasan.

Qizan Abu Rashwan, sebuah permukiman pertanian sekitar 7 km dari perbatasan Israel.

BBC melaporkan, IDF tidak bisa memberikan penjelasan spesifik atas apa alasan militer melakukan penghancuran bangunan-bangunan di setiap lokasi. Namun, mereka mengulangi klaim bahwa Hamas menyembunyikan senjata di wilayah sipil.

Ahli hukum internasional dari Diakonia International Humanitarian Law Centre, Eitan Diamond, menyebut penghancuran properti sipil tidak bisa dibenarkan hanya karena spekulasi atas penggunaan di masa depan.

“Penghancuran karena kekhawatiran akan penggunaan masa depan bertentangan dengan hukum humaniter internasional,” ujar Diamond.

Profesor Janina Dill dari Oxford Institute for Ethics, Law & Armed Conflict menegaskan bahwa kekuatan pendudukan seharusnya mengelola wilayah demi kesejahteraan penduduk, bukan menghancurkannya hingga tak layak huni.

Namun, suara pembelaan tetap muncul. Profesor Eitan Shamir dari BESA Center menyebut banyak bangunan yang dihancurkan sudah rusak berat dan bisa membahayakan warga yang kembali. Ia juga menyinggung potensi serangan ulang dari kelompok militan dari bangunan yang masih berdiri.

D9 dan Kontraktor Demolisi

Tidak ada tanda-tanda bahwa penghancuran akan berhenti. Media Israel melaporkan IDF menerima puluhan buldoser D9 buatan AS. BBC juga menemukan iklan perekrutan operator ekskavator di grup Facebook Israel sejak Mei.

Sebagian iklan menyebut lokasi proyek, seperti “Koridor Philadelphi” dan “Poros Morag”, wilayah yang kini dalam penguasaan IDF.

Analis hukum Adil Haque dari Rutgers Law School menyebut aksi penghancuran ini bisa jadi bagian dari upaya menciptakan zona kontrol permanen Israel di Gaza.

Sementara itu, Presiden Jerusalem Institute for Strategy and Security, Efraim Inbar, menyebut penghancuran mungkin bertujuan memicu eksodus massal warga Gaza.

Pernyataan PM Israel Benjamin Netanyahu dalam pertemuan tertutup dengan anggota parlemen memperkuat anggapan ini. Ia mengatakan IDF “menghancurkan lebih banyak rumah” agar warga Palestina tidak punya tempat untuk kembali.

“Saya Sudah Tidak Punya Rumah”

Bagi warga Gaza seperti Moataz Yousef Ahmed Al-Absi, dari Tel al-Sultan, kehancuran ini bersifat pribadi.

“Saya baru pindah ke rumah itu setahun sebelum perang. Saya sangat bahagia dan penuh harapan,” katanya. “Sekarang, semuanya telah hancur. Saya tidak punya rumah. Tidak punya tempat berteduh.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional