Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Konklaf Pertama Belum Hasilkan Paus Baru, Asap Hitam Membumbung

badge-check


					Layar raksasa menampilkan seorang anggota klerus menutup pintu Kapel Sistina, pada hari pertama konklaf untuk memilih paus baru, di Roma, Italia, pada 7 Mei 2025. Perbesar

Layar raksasa menampilkan seorang anggota klerus menutup pintu Kapel Sistina, pada hari pertama konklaf untuk memilih paus baru, di Roma, Italia, pada 7 Mei 2025.

Vatikan – Asap hitam membubung dari cerobong Kapel Sistina pada Rabu (7/5/2025) malam waktu setempat, menandai belum tercapainya keputusan dalam konklaf pertama para kardinal untuk memilih Paus baru menggantikan mendiang Paus Fransiskus.

Ribuan umat berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Roma, menanti dengan harap-harap cemas kemunculan asap dari cerobong sempit di atap Kapel Sistina. Namun, harapan akan kabar gembira tertunda, sebab yang terlihat justru asap hitam—tanda belum terpilihnya pemimpin baru Gereja Katolik.

Warna asap tersebut menjadi satu-satunya sinyal kepada dunia luar mengenai hasil sidang tertutup para kardinal. Jika Paus baru telah dipilih, asap putih akan muncul. Namun, sebagaimana telah diperkirakan, keputusan belum dapat diambil pada hari pertama konklaf. Tradisi modern memang jarang menghasilkan Paus dalam pemungutan suara perdana.

Pemungutan suara dimulai sekitar pukul 16.30 waktu Vatikan. Namun, asap baru terlihat lebih dari tiga jam kemudian, lebih lama dibandingkan konklaf tahun 2013 yang memilih Paus Fransiskus dan memunculkan asap dalam dua jam.

Konklaf kali ini diikuti oleh 133 kardinal berusia di bawah 80 tahun dari 70 negara. Ini mencerminkan peningkatan representasi global Gereja Katolik yang menjadi warisan Paus Fransiskus. Mereka dijadwalkan menginap di Domus Sanctae Marthae, wisma tamu Vatikan, untuk melanjutkan diskusi informal sebelum melanjutkan proses pemilihan pada Kamis pagi.

Asap hitam mengepul dari cerobong Kapel Sistina, menandakan belum ada keputusan untuk memilih paus baru, di Vatikan, pada 7 Mei 2025.

Asap hitam mengepul dari cerobong Kapel Sistina, menandakan belum ada keputusan untuk memilih paus baru, Vatikan (7/5/2025).

Target Satu Nama, Dua Pertiga Suara

Dalam proses konklaf, para kardinal harus mencapai konsensus dua pertiga suara. Dalam hal ini, minimal 89 suara untuk menentukan satu nama sebagai Paus. Pada hari-hari selanjutnya, mereka akan melakukan dua sesi pemungutan suara pada pagi dan sore hari hingga tercapai hasil.

Meski belum ada kandidat yang menonjol, beberapa nama disebut sebagai favorit, di antaranya Kardinal Pietro Parolin dari Italia dan Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina. Namun, jika keduanya tidak mampu menghimpun dukungan mayoritas, pergeseran suara ke kandidat lain sangat mungkin terjadi. Kandidat lain yang mencuat termasuk Kardinal Jean-Marc Aveline (Prancis), Peter Erdo (Hongaria), Robert Prevost (AS), serta Pierbattista Pizzaballa (Italia).

Sejumlah kardinal mengisyaratkan keinginan agar proses ini rampung sebelum akhir pekan, sebagai simbol bahwa Gereja tetap bersatu usai masa kepemimpinan Fransiskus yang cukup membelah pendapat internal.

Seruan Persatuan

Dalam homili menjelang konklaf, Kardinal senior Giovanni Battista Re yang berusia 91 tahun dan tidak ikut memilih menyerukan agar para pemilih mengesampingkan kepentingan pribadi. Ia menekankan pentingnya mengutamakan “kebaikan Gereja dan umat manusia”. Ia juga menekankan pentingnya persatuan dalam keberagaman.

Isu-isu yang menjadi perhatian para pemilih termasuk arah kebijakan Gereja ke depan. Sebagian menginginkan kesinambungan visi Paus Fransiskus yang progresif, terbuka terhadap kelompok LGBT, kaum miskin, serta dialog antaragama. Namun, ada pula suara-suara yang ingin kembali pada tradisi yang lebih konservatif dan terprediksi.

Prosesi menuju Kapel Sistina berlangsung khidmat, diiringi lantunan nyanyian Gregorian dan alunan organ. Para kardinal mengucap sumpah setia untuk menjaga kerahasiaan konklaf. Setelah itu, perintah Latin “Extra omnes!” menggema, mengusir seluruh orang yang tidak berkepentingan dari ruang pemilihan.

Meskipun sesi pemungutan suara harus steril dari diskusi, praktik di masa lalu menunjukkan bahwa lobi dan perbincangan informal tetap terjadi selama waktu istirahat dan makan bersama. Pada momen-momen tersebut, nama-nama calon potensial dapat naik dan turun dalam hitungan detik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional