Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

“Mobil Bekas Nol Kilometer”, Trik China Raup Untung Besar

badge-check


					Sebuah mobil Xiaomi SU7 Ultra bekas terparkir di dealer mobil bekas di Beijing, China, pada 6 Juni 2025. (foto: REUTERS/Tingshu Wang) Perbesar

Sebuah mobil Xiaomi SU7 Ultra bekas terparkir di dealer mobil bekas di Beijing, China, pada 6 Juni 2025. (foto: REUTERS/Tingshu Wang)

Beijing – Dunia tengah menyoroti industri otomotif China setelah terungkapnya praktik penjualan “mobil bekas nol kilometer”. Mobil-mobil ini sejatinya belum pernah digunakan, namun dicatat sebagai mobil bekas dan diekspor ke berbagai negara seperti Rusia, Asia Tengah, hingga Timur Tengah.

Investigasi Reuters mengungkap bahwa model bisnis ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan dukungan pemerintah daerah dan menjadi semacam “jalan pintas” untuk menyiasati persaingan harga ketat di dalam negeri serta meningkatkan angka ekspor dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Trik Statistik dalam Skema “Mobil Bekas”

Mobil-mobil yang baru keluar dari pabrik langsung didaftarkan dengan pelat nomor di China, kemudian dikirim dan dijual ke luar negeri. Dengan cara ini, pabrikan bisa mencatatkan unit sebagai terjual, dan pemerintah daerah dapat mencatat peningkatan produk domestik bruto (PDB).

“Ini adalah dampak dari perang harga yang sudah berlangsung hampir empat tahun. Para produsen menjadi nekat demi mencatatkan penjualan apa pun,” ujar Tu Le, pendiri lembaga konsultan otomotif Sino Auto Insights yang berbasis di Michigan, AS.

Pemerintah Daerah Mendukung, Pemerintah Pusat Mengkritik

Praktik ini baru menarik perhatian nasional setelah Great Wall Motor mengkritik penjualan mobil bekas nol kilometer di dalam negeri pada bulan Mei. Pada 10 Juni, surat kabar People’s Daily ikut mengecam penjualan mobil bekas nol kilometer di pasar domestik. Media itu menyerukan tindakan tegas untuk menghentikan peredaran mobil bekas nol kilometer di pasar domestik, karena dianggap menurunkan harga dan merusak tatanan pasar.

Namun ironisnya, di sisi lain, pemerintah daerah justru mendorong ekspor mobil jenis ini. Sedikitnya 20 wilayah di China, termasuk provinsi pengekspor besar seperti Guangdong dan Sichuan, telah membuat kebijakan mendukung ekspor mobil bekas nol kilometer. Kebijakan itu mulai dari kemudahan izin, insentif pajak, hingga investasi infrastruktur.

Ekonomi Terpacu, Reputasi Terancam

Di kota Shenzhen, pemerintah lokal bahkan menargetkan ekspor 400.000 unit kendaraan per tahun, sebagian di antaranya adalah mobil bekas nol kilometer. Sementara kota Guangzhou menciptakan kuota tambahan untuk registrasi mobil, khusus untuk ekspor jenis ini.

Di sisi lain, para analis memperingatkan dampak jangka panjang. “Investor asing akan mulai mempertanyakan data penjualan pabrikan China. Mana yang benar-benar terjual, mana yang manipulasi?” kata Xing Lei, analis dari AutoXing yang berbasis di Massachusetts, AS.

Ketua Changan Auto, Zhu Huarong, juga menilai praktik ini dapat merusak reputasi global merek China. “Ini bisa merusak citra industri otomotif China secara menyeluruh,” ujarnya dalam sebuah konferensi industri baru-baru ini.

Tuduhan Dumping dan Respons Internasional

Strategi tersebut hanyalah salah satu tanda bahwa industri otomotif Tiongkok—yang terbesar di dunia—membiarkan produksi melampaui permintaan. Kondisi ini memicu perang harga berkepanjangan di dalam negeri dan mendorong tuduhan praktik “dumping” otomotif di luar negeri.

Sejumlah negara mulai bereaksi. Rusia pada 2023 telah melarang impor mobil bekas nol kilometer dari merek yang telah memiliki distributor resmi di negara itu. Larangan ini termasuk merek China seperti Chery, Changan, dan Geely.

Sementara itu, negara-negara lain seperti Yordania mulai menyempurnakan definisi “mobil bekas,” dengan menambahkan kriteria masa minimum penggunaan mobil.

Pasar Semakin Ketat, Keuntungan Mulai Menyusut

Praktik ini awalnya mendatangkan keuntungan besar. Perusahaan seperti Huanyu Auto di Chongqing bisa meraup keuntungan hingga 10.000 yuan (Rp 22 juta 800) per unit mobil listrik yang terjual ke Asia Tengah. Namun kini, persaingan kian ketat seiring masuknya pemain baru, termasuk pedagang kecil dan penjual daring.

“Mereka dulunya jual vas bunga atau anggur, sekarang jual mobil. Ini sudah tidak masuk akal lagi,” kata William Ng dari Huanyu Auto.

Dengan tekanan dari pemerintah pusat, resistensi dari negara tujuan ekspor, serta pasar yang semakin jenuh, masa depan dari “mobil bekas nol kilometer” tampaknya berada di ujung tanduk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional