Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Nissan Umumkan PHK 11.000 Karyawan Global, Tutup Tujuh Pabrik

badge-check


					Nissan Umumkan PHK 11.000 Karyawan Global, Tutup Tujuh Pabrik Perbesar

Tokyo – Produsen otomotif asal Jepang, Nissan Motor Co, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 11.000 karyawan secara global serta penutupan tujuh pabrik sebagai bagian dari upaya restrukturisasi besar-besaran di tengah penurunan penjualan yang signifikan.

Langkah ini menambah jumlah total PHK yang telah diumumkan Nissan sepanjang setahun terakhir menjadi sekitar 20.000 orang. Angka tersebut mencakup sekitar 15 persen dari total tenaga kerjanya yang mencapai 133.500 karyawan di seluruh dunia.

“Kami tengah menghadapi tahun yang penuh tantangan. Biaya yang meningkat dan ketidakpastian ekonomi global menjadi panggilan untuk berbenah,” ujar CEO Nissan, Ivan Espinosa, dalam konferensi pers di Tokyo, Selasa (14/5/2025).

Espinosa menyatakan bahwa dua pertiga dari PHK terbaru berasal dari sektor manufaktur. Sedangkan sisanya adalah bagian penjualan, administrasi, penelitian, hingga tenaga kontrak.

Penurunan Kinerja Global

Penurunan penjualan di dua pasar utama—Amerika Serikat dan China—telah memberikan tekanan besar pada kinerja keuangan Nissan. Di China, penjualan anjlok 12 persen. Hal ini diperburuk oleh persaingan ketat dengan produsen lokal seperti BYD yang semakin mendominasi pasar kendaraan listrik (EV).

Sementara di Amerika Serikat, meskipun penjualan ritel Nissan sedikit meningkat, tekanan inflasi dan suku bunga tinggi telah menurunkan minat masyarakat untuk membeli kendaraan baru. Hal ini diperparah oleh kebijakan tarif impor dari pemerintahan Presiden Donald Trump, yang turut menambah beban operasional.

Tahun fiskal lalu, Nissan mencatatkan kerugian sebesar 670 miliar yen atau sekitar 4,5 miliar dollar AS. Espinosa menyebut angka tersebut sebagai “peringatan keras” bagi perusahaan.

Gagal Merger, Investasi Dipangkas

Restrukturisasi Nissan juga dipicu oleh gagalnya rencana merger dengan dua rival domestik, Honda dan Mitsubishi, yang diumumkan batal pada Februari lalu. Merger tersebut sedianya akan menciptakan entitas otomotif raksasa senilai 60 miliar dollar AS. Selain itu, merger ini akan menjadikan perusahaan tersebut sebagai produsen kendaraan terbesar keempat di dunia berdasarkan volume penjualan.

Kegagalan merger itu turut mengakhiri masa jabatan CEO sebelumnya, Makoto Uchida. Ia kemudian digantikan oleh Espinosa, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Perencanaan dan pimpinan divisi motorsport.

Selain PHK dan penutupan pabrik, Nissan juga menghentikan rencana pembangunan pabrik baterai dan kendaraan listrik di Jepang sebagai bentuk penghematan investasi.

Dampak PHK terhadap Pabrik Nissan di Inggris

Belum diketahui apakah pabrik Nissan di Sunderland, Inggris, yang mempekerjakan sekitar 6.000 orang, akan terdampak oleh kebijakan pemangkasan ini. Pemerintah Inggris menyatakan akan “berkoordinasi secara intensif” dengan pihak Nissan terkait rencana restrukturisasi tersebut.

“Pabrik ini sangat vital bagi perekonomian wilayah timur laut Inggris,” kata juru bicara Kementerian Bisnis dan Perdagangan Inggris dalam pernyataan resmi.

Masa Depan Nissan Paska Gelombang PHK

Nissan belum merilis proyeksi pendapatan untuk tahun fiskal mendatang, mengutip ketidakpastian akibat kebijakan tarif di Amerika Serikat. Meski demikian, perusahaan memperkirakan laba akan stagnan, bahkan sebelum dampak tarif dihitung.

Di tengah gelombang PHK dan penyesuaian besar-besaran ini, Nissan dihadapkan pada tantangan besar untuk tetap kompetitif di industri otomotif global yang semakin didominasi teknologi ramah lingkungan dan pemain baru dari China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional