Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Pasien Kolera Tewas Saat Berjalan ke Klinik Akibat Pemotongan Bantuan AS

badge-check


					Warga Sudan Andalkan Bantuan Kemanusiaan Perbesar

Warga Sudan Andalkan Bantuan Kemanusiaan

Nairobi  – Delapan warga Sudan Selatan, termasuk lima anak-anak, dilaporkan meninggal dunia dalam perjalanan selama tiga jam menuju fasilitas kesehatan akibat kolera. Lembaga kemanusiaan Save the Children menyatakan, tragedi ini terjadi menyusul pemotongan bantuan oleh Amerika Serikat yang menyebabkan ditutupnya layanan kesehatan lokal di wilayah tersebut.

Kematian ini merupakan dampak langsung dari kebijakan pemotongan bantuan luar negeri yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump sejak mulai menjabat pada 20 Januari. Pemerintah AS menyatakan pemotongan ini dilakukan untuk meninjau kembali apakah bantuan yang diberikan sejalan dengan agenda “America First” yang diusung Trump.

Namun, para ahli memperingatkan bahwa penghentian bantuan ini, termasuk pembatalan lebih dari 90 persen kontrak Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), dapat mengancam nyawa jutaan orang dalam beberapa tahun ke depan. Penyakit seperti kolera, malaria, HIV/AIDS, hingga tuberkulosis dikhawatirkan akan semakin sulit dikendalikan di negara-negara miskin.

Klinik Ditutup, Pasien Tak Tertolong

Menurut Save the Children, organisasi ini sebelumnya mendukung 27 fasilitas kesehatan di Negara Bagian Jonglei, Sudan Selatan bagian timur. Namun setelah pemotongan bantuan AS, tujuh fasilitas terpaksa ditutup sepenuhnya, sementara 20 lainnya hanya beroperasi secara terbatas.

Bantuan logistik berupa layanan transportasi ke rumah sakit yang didanai oleh AS juga ikut dihentikan. Akibatnya, delapan orang yang terinfeksi kolera, termasuk tiga balita, harus berjalan kaki dalam suhu mencapai 40 derajat Celsius untuk mencapai pusat kesehatan terdekat. Mereka akhirnya meninggal dalam perjalanan.

“Seharusnya ada kemarahan moral secara global atas kenyataan bahwa keputusan yang dibuat oleh orang-orang berkuasa di negara lain telah menyebabkan kematian anak-anak hanya dalam hitungan minggu,” ujar Christopher Nyamandi, Direktur Save the Children untuk Sudan Selatan.

Dana Kemanusiaan Menyusut, Ancaman Meluas

Selain AS, beberapa negara donor lainnya juga secara perlahan mengurangi bantuannya, memperburuk respons kemanusiaan di Sudan Selatan. Save the Children memperkirakan hanya akan mampu menggelontorkan 30 juta dolar AS untuk program bantuan tahun ini—turun drastis dari 50 juta dolar AS pada 2024.

Lebih dari sepertiga dari 12 juta penduduk Sudan Selatan telah mengungsi akibat konflik dan bencana alam. PBB memperingatkan bahwa negara ini berada di ambang perang saudara baru setelah bentrokan bersenjata meletus pada Februari di wilayah timur laut.

Wabah kolera sendiri telah diumumkan sejak Oktober tahun lalu. Hingga Maret lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 22.000 kasus dan ratusan kematian akibat penyakit yang menyebar lewat air ini.

Kebijakan yang Mengorbankan Nyawa

Hingga saat ini, Departemen Luar Negeri AS belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut. Namun kritik terus mengalir dari berbagai kalangan yang menilai bahwa keputusan penghentian bantuan tanpa mekanisme transisi telah menimbulkan konsekuensi tragis.

“Kematian delapan orang ini bukan sekadar angka—ini adalah simbol nyata dari dampak nyata kebijakan yang abai pada nilai-nilai kemanusiaan,” ujar seorang analis kemanusiaan di Nairobi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional