MOSKOW, 22 Agustus 2025 – Presiden Rusia Vladimir Putin mengajukan sejumlah syarat untuk mengakhiri perang di Ukraina dengan damai. Tiga sumber yang mengetahui langsung pembicaraan di lingkaran Kremlin menyebut bahwa Putin mengajukan sejumlah tuntutan kepada Ukraina. Ia meminta Ukraina menyerahkan wilayah Donbas, tidak bergabung dengan NATO, bersikap netral, serta tidak mengizinkan keberadaan pasukan Barat di wilayahnya.
Pertemuan antara Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berlangsung di Anchorage, Alaska, Jumat (15/8), menjadi pertemuan puncak Rusia-AS pertama dalam lebih dari empat tahun terakhir. Hampir seluruh sesi pertemuan tertutup selama tiga jam itu diisi dengan pembahasan kemungkinan kompromi damai untuk Ukraina.
Usai pertemuan, Putin hanya menyatakan bahwa pertemuan tersebut diharapkan membuka jalan menuju perdamaian. Baik ia maupun Trump tidak merinci hasil pembicaraan.
Usulan Baru Rusia
Menurut sumber, usulan terbaru Putin merupakan penyesuaian dari tuntutan yang pernah disampaikan pada Juni 2024. Saat itu, Moskow menuntut Ukraina menyerahkan empat wilayah: Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia. Kyiv menolak syarat tersebut karena dinilai setara dengan menyerah total.
Dalam usulan terbaru, Rusia tetap menuntut Ukraina menarik diri dari wilayah Donbas yang masih dikuasai Kyiv. Sebagai gantinya, Moskow berjanji tidak melanjutkan pertempuran di garis depan Zaporizhzhia dan Kherson.
Selain itu, Rusia juga siap melepaskan sebagian kecil wilayah di Kharkiv, Sumy, dan Dnipropetrovsk yang saat ini berada di bawah kendalinya. Namun, Putin tetap menginginkan jaminan tertulis bahwa Ukraina tidak akan masuk NATO serta pembatasan terhadap kekuatan militer Kyiv.
Sikap Ukraina dan Barat
Pemerintah Ukraina belum memberikan komentar resmi atas laporan tersebut. Presiden Volodymyr Zelensky sebelumnya menegaskan bahwa Donbas merupakan “benteng” yang menahan laju Rusia ke wilayah lain, sehingga mustahil ditinggalkan.
“Jika hanya soal menarik diri dari timur, kami tidak bisa melakukannya. Itu menyangkut kelangsungan hidup negara,” kata Zelensky.
Ia juga menegaskan bahwa keinginan bergabung dengan NATO adalah amanat konstitusi dan bukan keputusan Rusia.
Gedung Putih dan NATO belum menanggapi proposal Rusia. Sementara itu, sejumlah pemimpin Eropa, termasuk dari Inggris, Prancis, dan Jerman, menyatakan skeptis bahwa Putin sungguh-sungguh ingin mengakhiri perang.
Trump Klaim Jadi “Mediator Damai”
Trump, yang beberapa kali menyebut ingin dikenang sebagai “presiden pendamai”, mengatakan telah menyiapkan pertemuan lanjutan antara Putin dan Zelensky. Ia bahkan membuka kemungkinan digelarnya pertemuan tiga pihak bersama AS.
“Saya percaya Putin ingin mengakhirinya. Saya yakin kita akan menemukan solusinya,” ujar Trump di Washington, Senin (18/8).
Namun, para pengamat menilai, tuntutan Rusia tetap sulit diterima Kyiv. Samuel Charap, analis kebijakan Rusia di RAND Corporation, menilai permintaan agar Ukraina menarik diri dari Donbas “sudah pasti tidak bisa diterima, baik secara politik maupun strategis.”
Lebih dari tiga tahun setelah invasi penuh Rusia pada 2022, perang di Ukraina telah menewaskan dan melukai ratusan ribu orang, serta membuat Moskow menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina.