Moskow – Presiden Rusia Vladimir Putin bertekad untuk terus melanjutkan perang di Ukraina hingga negara-negara Barat bersedia bernegosiasi sesuai syarat Moskow. Tiga sumber yang dekat dengan Kremlin menyebutkan bahwa ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait sanksi dan batas waktu perdamaian tidak menggoyahkan tekad pemimpin Rusia tersebut.
Putin, yang melancarkan invasi besar ke Ukraina pada Februari 2022, percaya bahwa kekuatan militer dan ketahanan ekonomi Rusia cukup kuat untuk menghadapi tekanan tambahan dari negara-negara Barat, termasuk kemungkinan tarif ekspor baru dari AS.
“Putin merasa belum ada pihak Barat, termasuk Amerika Serikat, yang sungguh-sungguh membahas detail perdamaian dengannya. Karena itu, dia akan terus maju sampai mendapatkan apa yang diinginkan,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.
Trump Frustrasi, Sanksi Mengancam
Pada Senin (14/7/2025), Presiden Trump mengungkapkan kekecewaannya atas kegagalan Putin menyetujui gencatan senjata. Ia pun mengumumkan gelombang baru pengiriman senjata ke Ukraina, termasuk sistem rudal Patriot, serta ancaman sanksi tambahan jika tidak tercapai kesepakatan damai dalam 50 hari ke depan.
Trump, yang kembali menjabat setelah menang pilpres AS awal tahun ini, telah enam kali berbicara lewat sambungan telepon dengan Putin. Meski ada komunikasi, tiga sumber di Kremlin menyebutkan bahwa diskusi substantif mengenai perdamaian belum pernah benar-benar terjadi.
“Putin menghargai relasi dengan Trump dan menganggap pembicaraan dengan utusan khusus AS Steve Witkoff cukup baik. Namun, bagi Putin, kepentingan Rusia tetap di atas segalanya,” kata sumber kedua.
Syarat Damai ala Moskow
Menurut ketiga sumber tersebut, Putin hanya bersedia berunding jika syarat-syarat utama Rusia terpenuhi, yakni:
- Perjanjian tertulis bahwa NATO tidak akan lagi meluas ke timur
- Netralitas Ukraina serta pembatasan kekuatan militernya
- Perlindungan bagi penutur bahasa Rusia di Ukraina
- Pengakuan atas wilayah yang kini dikuasai Rusia
Putin bahkan bersedia membahas jaminan keamanan bagi Ukraina yang melibatkan kekuatan besar dunia. Namun, konsep tersebut belum memiliki bentuk konkret.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa negaranya tak akan pernah mengakui kedaulatan Rusia atas wilayah yang diduduki dan tetap berhak menentukan arah geopolitik, termasuk keanggotaan NATO.
Ambisi Teritorial Bisa Meluas
Rusia kini menguasai hampir 20 persen wilayah Ukraina, termasuk seluruh Krimea, Luhansk, serta sebagian besar Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kherson. Dalam tiga bulan terakhir, pasukan Rusia merebut tambahan wilayah seluas 1.415 km².
“Selera bertambah seiring makan,” kata salah satu sumber, merujuk pada potensi ambisi teritorial yang makin meluas. Dua sumber lainnya menyebut bahwa jika Ukraina runtuh, Rusia bisa memperluas target ke wilayah Dnipropetrovsk, Sumy, dan Kharkiv.
Zelensky dan jenderal-jenderalnya mengakui bahwa jumlah pasukan Rusia melebihi Ukraina. Namun mereka menyebut pertahanan Kyiv tetap kuat dan dapat menyebabkan kerugian besar bagi Rusia.
Ekonomi Perang Rusia Tangguh
Meskipun terkena sanksi dan biaya besar akibat konflik, ekonomi Rusia menunjukkan daya tahan. Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia tahun lalu tumbuh 4,3%, dan diperkirakan melambat ke 2,5% pada 2025.
Putin yakin bahwa bahkan jika AS menerapkan tarif 100 persen atau menjatuhkan sanksi sekunder pada negara pembeli minyak Rusia seperti India dan China, Rusia tetap bisa menemukan celah untuk menjual ke pasar global.
“Trump tak punya pengaruh besar terhadap Putin. Bahkan jika pembeli utama minyak Rusia ditekan, Moskow tetap bisa menjualnya,” ungkap sumber ketiga.
Ketegangan Meningkat, Ancaman Nuklir Mengintai
Putin memandang perang ini sebagai momen penting untuk memutus dominasi Barat dan menolak perluasan NATO yang dianggap mengancam wilayah pengaruh Rusia.
Meski Trump menyebut Putin sebagai “pria tangguh, bukan pembunuh”, ia tetap menekan dengan berbagai kebijakan keras. Namun, Putin tampaknya masih bermanuver untuk tidak membuat Trump terlalu marah demi menjaga komunikasi tetap terbuka.
Salah satu sumber menyimpulkan, “Krisis ini kemungkinan akan makin memanas dalam beberapa bulan ke depan. Dan, perang ini belum akan berakhir.”












