Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Ribuan Warga AS Turun ke Jalan, Protes Ancaman terhadap Demokrasi di Era Trump

badge-check


					Ribuan Warga AS Turun ke Jalan, Protes Ancaman terhadap Demokrasi di Era Trump Perbesar

Washington – Gelombang protes menentang pemerintahan Presiden Donald Trump kembali menggema di berbagai kota besar dan kecil di Amerika Serikat, Sabtu (19/4/2025) waktu setempat. Ribuan warga memadati jalan-jalan dengan satu suara: menolak apa yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap nilai-nilai demokrasi dan hak-hak sipil di negara itu.

Dari jantung kota New York hingga pantai barat San Francisco, massa menyuarakan keprihatinan mereka atas kebijakan imigrasi, pemangkasan layanan publik, hingga indikasi “kekuasaan tiranik” dari pemimpin tertinggi negara tersebut.

Mengenang Perlawanan Kolonial

Di Massachusetts, tepatnya dalam peringatan peristiwa sejarah “the shot heard ’round the world” — awal mula Perang Revolusi Amerika pada 19 April 1775 — ratusan orang berkumpul untuk menyuarakan kegelisahan mereka. Thomas Bassford (80), pensiunan tukang batu dari Maine, datang bersama keluarga untuk memberi pelajaran langsung kepada cucu-cucunya tentang arti perjuangan kemerdekaan.

“Ini masa yang sangat berbahaya bagi kebebasan di Amerika. Kami harus berdiri dan melawan,” ujarnya dengan nada penuh keyakinan.

Semangat perlawanan terhadap kekuasaan absolut juga terasa kuat di Anchorage, Alaska. Seorang aktor sejarah mengenakan kostum kolonial sambil mengangkat papan bertuliskan “No Kings”, sementara di sebelahnya terlihat poster besar bertuliskan, “The Feudal Age is OVER.”

Lautan Massa di Berbagai Kota

Di Denver, ratusan orang memadati gedung Capitol Negara Bagian Colorado, membawa spanduk yang menyuarakan solidaritas dengan imigran dan seruan “Hands Off!” kepada pemerintah. Di Portland, ribuan pengunjuk rasa membanjiri pusat kota, sementara di San Francisco, ratusan orang menulis pesan besar di pasir pantai: “Impeach & Remove”, lengkap dengan bendera AS yang dibalik sebagai simbol darurat.

Beberapa aksi bahkan menyasar figur-figur berpengaruh di pemerintahan Trump. Di sejumlah dealer mobil Tesla, aksi protes digelar untuk mengecam Elon Musk, penasihat Trump yang dinilai mendukung pengurangan drastis struktur birokrasi pemerintahan.

Namun tak hanya demonstrasi, sebagian kelompok menggelar aksi sosial seperti penggalangan makanan, diskusi publik, hingga kegiatan sukarela di tempat penampungan.

Kekhawatiran Atas Masa Depan Negeri

Bob Fasick (76), pensiunan pegawai federal dari Springfield, Virginia, turut hadir dalam unjuk rasa di dekat Gedung Putih. Ia mengungkapkan kecemasannya terhadap upaya pemerintah membatasi hak proses hukum, pengurangan dana jaminan sosial, serta kebijakan diskriminatif terhadap kelompok rentan.

“Saya tidak bisa hanya duduk diam dan membiarkan ini terjadi. Dunia yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita tidak layak ditinggali jika kita tidak berbuat apa-apa,” tegasnya.

Di Columbia, South Carolina, ratusan orang membawa papan bertuliskan pesan-pesan kuat seperti “Fight Fiercely, Harvard, Fight,” mengkritik tindakan pemerintah terhadap institusi akademik.

Melawan Ketidakadilan dan “Pemerintahan Raja”

Di Manhattan, massa bergerak dari Perpustakaan Umum New York menuju Trump Tower, menyanyikan yel-yel “No fear, no hate, no ICE in our state” — menolak keras deportasi imigran oleh ICE (Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS).

Marshall Green, warga New Jersey, mengecam penggunaan Undang-undang Alien Enemies Act tahun 1798 oleh Presiden Trump untuk mengusir imigran yang dituduh terkait geng Venezuela. “Ini manipulasi hukum. Kita tidak sedang berperang. Semua orang berhak atas proses hukum,” katanya.

Melinda Charles dari Connecticut juga angkat suara. Ia menyebut kekuasaan eksekutif Trump sebagai bentuk penyalahgunaan wewenang. “Negara ini punya tiga cabang pemerintahan yang setara. Tapi yang terjadi sekarang adalah eksekutif menjadi terlalu kuat. Ini tak masuk akal,” katanya.

Seruan untuk Perubahan

Para penyelenggara aksi menyatakan bahwa gerakan ini bukan sekadar protes, tetapi seruan kolektif untuk melindungi demokrasi Amerika. Mereka menolak pelanggaran konstitusi, kebijakan anti-imigran, serta pemangkasan sistem sosial yang selama ini menjadi sandaran jutaan warga.

Pesan yang ingin disampaikan jelas: ketika suara rakyat mulai dikesampingkan, maka jalanan akan menjadi panggung perjuangan baru untuk menjaga semangat demokrasi tetap menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional