Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Samai Indonesia, Produk Filipina Kena Tarif 19%

badge-check


					Samai Indonesia, Produk Filipina Kena Tarif 19% Perbesar

Washington, D.C. – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (waktu setempat) mengumumkan kebijakan tarif baru sebesar 19% untuk barang-barang asal Filipina. Kebijakan itu terbit menyusul kunjungan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. ke Gedung Putih, di mana Trump menyebutnya sebagai “kunjungan yang indah.”

Melalui pernyataan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa kesepakatan dagang tersebut akan membuat barang-barang dari AS masuk ke pasar Filipina tanpa dikenakan tarif alias nol persen. Sementara itu, barang Filipina akan dikenakan tarif impor sebesar 19% di Amerika Serikat.

“Ini adalah kunjungan yang indah, dan kami menyelesaikan Kesepakatan Dagang kami, di mana Filipina membuka pasarnya untuk Amerika Serikat dan tarifnya menjadi NOL. Filipina akan membayar tarif sebesar 19%,” tulis Trump, menyebut Marcos sebagai “negosiator yang sangat baik dan tangguh.”

Tarif baru itu masih lebih tinggi dari yang Presiden AS Donald Trump umumkan pada April 2025, yaitu 17 persen. Akan tetapi, tarif itu sedikit lebih rendah dari ancaman tarif 20 persen, pada awal bulan ini. Tarif ini juga menyamai angka tarif untuk Indonesia, dan lebih rendah daripada tarif 20% untuk Vietnam.

Komitmen Militer dan Ekonomi

Dalam pertemuan di Oval Office, kedua pemimpin juga menyinggung kerja sama pertahanan, meski tanpa rincian lebih lanjut. Trump menyebut Filipina sebagai sekutu penting, dan menyatakan hubungan kedua negara akan menginjak usia ke-80 tahun pada 2026.

Marcos menjadi pemimpin Asia Tenggara pertama yang berkunjung ke Washington sejak Trump menjabat kembali. Dalam pernyataannya, ia menyebut Amerika Serikat sebagai “sekutu terkuat, terdekat, dan paling dapat diandalkan.”

“Perubahan satu persen mungkin tampak kecil, tetapi dalam konteks nyata, ini adalah pencapaian besar,” ujar Marcos.

Dubes Filipina untuk AS, Jose Manuel Romualdez, juga menyambut baik kesepakatan tersebut. “Ini adalah kesepakatan yang sedang berkembang, dan dapat terus ditingkatkan ke depannya,” ujarnya.

Imbal Dagang dan Sektor Otomotif

Trump menyatakan bahwa nilai kesepakatan dagang ini akan “semakin besar” seiring waktu. Tahun lalu, defisit perdagangan AS dengan Filipina hampir menyentuh USD 5 miliar dari total perdagangan bilateral sebesar USD 23,5 miliar — naik 21,8% dari tahun sebelumnya.

Untuk mengurangi ketimpangan tersebut, Marcos menyebut Filipina akan meningkatkan impor dari Amerika Serikat. Salah satunya adalah sektor otomotif, di mana Filipina berjanji untuk menghapus tarif atas mobil-mobil buatan AS.

“Kami akan membuka pasar tersebut dan tidak lagi mengenakan tarif untuk mobil Amerika,” kata Marcos.

Filipina juga berencana memperbesar impor produk pertanian seperti kedelai dan gandum, serta produk obat-obatan dari Amerika Serikat.

Reaksi dan Konteks Regional

Trump telah mengubah lanskap perdagangan global dengan menerapkan tarif sebesar 10% kepada hampir seluruh mitra dagang sejak April, dengan tambahan tarif besar lainnya yang akan berlaku mulai Agustus. Kebijakan ini juga berdampak pada negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Vietnam.

Trump juga sempat menegaskan bahwa Filipina kini telah menjauh dari pengaruh Beijing sejak kemenangannya dalam pemilu AS November tahun lalu.

“Negara itu sebelumnya condong ke China, tapi kami membalikkan arah dengan sangat cepat,” pungkasnya.

Sementara itu, di luar Gedung Putih, sekelompok demonstran menyuarakan protes atas kunjungan Marcos. Mereka menuntut perhatian dari presiden Filipina terhadap aspirasi diaspora Filipina dan buruh migran yang terdampak penggerebekan imigrasi di AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional