Washington, D.C. – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (waktu setempat) mengumumkan kebijakan tarif baru sebesar 19% untuk barang-barang asal Filipina. Kebijakan itu terbit menyusul kunjungan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. ke Gedung Putih, di mana Trump menyebutnya sebagai “kunjungan yang indah.”
Melalui pernyataan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa kesepakatan dagang tersebut akan membuat barang-barang dari AS masuk ke pasar Filipina tanpa dikenakan tarif alias nol persen. Sementara itu, barang Filipina akan dikenakan tarif impor sebesar 19% di Amerika Serikat.
“Ini adalah kunjungan yang indah, dan kami menyelesaikan Kesepakatan Dagang kami, di mana Filipina membuka pasarnya untuk Amerika Serikat dan tarifnya menjadi NOL. Filipina akan membayar tarif sebesar 19%,” tulis Trump, menyebut Marcos sebagai “negosiator yang sangat baik dan tangguh.”
Tarif baru itu masih lebih tinggi dari yang Presiden AS Donald Trump umumkan pada April 2025, yaitu 17 persen. Akan tetapi, tarif itu sedikit lebih rendah dari ancaman tarif 20 persen, pada awal bulan ini. Tarif ini juga menyamai angka tarif untuk Indonesia, dan lebih rendah daripada tarif 20% untuk Vietnam.
Komitmen Militer dan Ekonomi
Dalam pertemuan di Oval Office, kedua pemimpin juga menyinggung kerja sama pertahanan, meski tanpa rincian lebih lanjut. Trump menyebut Filipina sebagai sekutu penting, dan menyatakan hubungan kedua negara akan menginjak usia ke-80 tahun pada 2026.
Marcos menjadi pemimpin Asia Tenggara pertama yang berkunjung ke Washington sejak Trump menjabat kembali. Dalam pernyataannya, ia menyebut Amerika Serikat sebagai “sekutu terkuat, terdekat, dan paling dapat diandalkan.”
“Perubahan satu persen mungkin tampak kecil, tetapi dalam konteks nyata, ini adalah pencapaian besar,” ujar Marcos.
Dubes Filipina untuk AS, Jose Manuel Romualdez, juga menyambut baik kesepakatan tersebut. “Ini adalah kesepakatan yang sedang berkembang, dan dapat terus ditingkatkan ke depannya,” ujarnya.
Imbal Dagang dan Sektor Otomotif
Trump menyatakan bahwa nilai kesepakatan dagang ini akan “semakin besar” seiring waktu. Tahun lalu, defisit perdagangan AS dengan Filipina hampir menyentuh USD 5 miliar dari total perdagangan bilateral sebesar USD 23,5 miliar — naik 21,8% dari tahun sebelumnya.
Untuk mengurangi ketimpangan tersebut, Marcos menyebut Filipina akan meningkatkan impor dari Amerika Serikat. Salah satunya adalah sektor otomotif, di mana Filipina berjanji untuk menghapus tarif atas mobil-mobil buatan AS.
“Kami akan membuka pasar tersebut dan tidak lagi mengenakan tarif untuk mobil Amerika,” kata Marcos.
Filipina juga berencana memperbesar impor produk pertanian seperti kedelai dan gandum, serta produk obat-obatan dari Amerika Serikat.
Reaksi dan Konteks Regional
Trump telah mengubah lanskap perdagangan global dengan menerapkan tarif sebesar 10% kepada hampir seluruh mitra dagang sejak April, dengan tambahan tarif besar lainnya yang akan berlaku mulai Agustus. Kebijakan ini juga berdampak pada negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Vietnam.
Trump juga sempat menegaskan bahwa Filipina kini telah menjauh dari pengaruh Beijing sejak kemenangannya dalam pemilu AS November tahun lalu.
“Negara itu sebelumnya condong ke China, tapi kami membalikkan arah dengan sangat cepat,” pungkasnya.
Sementara itu, di luar Gedung Putih, sekelompok demonstran menyuarakan protes atas kunjungan Marcos. Mereka menuntut perhatian dari presiden Filipina terhadap aspirasi diaspora Filipina dan buruh migran yang terdampak penggerebekan imigrasi di AS.