Banyuwangi – Warga Desa Gladag memiliki cara tersendiri dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain menggelar doa bersama dan sholawat, ada satu tradisi unik yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat, yakni Sembur Utik atau saling berebut alat rumah tangga yang dibagikan secara simbolis setelah acara inti selesai.
Tradisi ini sudah turun-temurun sejak puluhan tahun lalu. Jika di banyak daerah Maulid identik dengan pembagian berkat makanan, di Gladag justru perlengkapan rumah tangga seperti piring, gayung, ember, hingga alat dapur yang menjadi rebutan. Warga percaya, benda-benda tersebut membawa berkah karena dibagikan pada momentum Maulid.
Suasana kian meriah ketika panitia mulai melempar alat-alat rumah tangga ke arah jamaah. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur untuk mendapatkan bagian. Tawa riang dan sorak-sorai mewarnai jalannya acara, menciptakan kebersamaan yang jarang ditemui di hari-hari biasa.
Kepala Desa Gladag, A. Chaidir Sidqi menyampaikan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk rasa syukur sekaligus sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Alat rumah tangga yang sederhana ini menjadi simbol keberkahan. Dipercaya, kalau membeli barang di bulan Maulid ini akan awet dan tahan lama. Semoga kebersamaan ini terus terjaga,” ujarnya saat peringatan Maulid Nabi di Balai Desa Gladag, Minggu (28/09/2025).
Dengan semangat kebersamaan dan nuansa religius, Sembur Utik di Desa Gladag menjadi warisan budaya lokal yang patut dilestarikan. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya nilai berbagi dan kebersamaan di momen peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.












