ELMEDIA, 30 September 2025 – Di tengah kekacauan yang kerap melekat pada nama Sex Pistols, sering kali terlupakan bahwa band asal Inggris ini sebenarnya meninggalkan sejarah dan warisan musik yang tak terbantahkan. Dengan hanya merilis satu album studio dan empat single resmi, mereka bukan sekadar band kontroversial, melainkan penggerak utama lahirnya punk sebagai gerakan musik sekaligus budaya.
Terbentuk pada awal 1970-an oleh Steve Jones dan Paul Cook, cikal bakal band ini semula bernama The Strand sebelum kemudian berevolusi menjadi Sex Pistols. Perubahan terbesar datang ketika John Lydon—yang kemudian dikenal sebagai Johnny Rotten—bergabung pada 1975. Dengan gaya eksentrik, tatapan tajam akibat penyakit meningitis di masa kecil, serta T-shirt bertuliskan “I HATE Pink Floyd”, Rotten menjadi ikon vokalis yang memberi identitas berbeda bagi band ini.
“Anarchy in the UK” dan “God Save The Queen”
Di bawah kendali manajer Malcolm McLaren, Sex Pistols segera melesat ke panggung publik. Penampilan mereka di acara Today Show pada Desember 1976, yang berujung hujan makian di televisi langsung, membuat nama mereka mendominasi pemberitaan media Inggris. Punk pun resmi dikenal publik luas, bukan hanya sebagai musik, tetapi juga simbol perlawanan generasi muda terhadap kemapanan.
Single “Anarchy in the UK” dan “God Save The Queen” menandai momen penting dalam perjalanan band ini. Lagu terakhir bahkan sempat menjadi polemik nasional pada perayaan 25 tahun Ratu Elizabeth II, dengan lirik yang dianggap melecehkan monarki. Walau dicegah masuk ke tangga lagu nomor satu, publik tahu bahwa Sex Pistols berhasil mengguncang fondasi budaya Inggris pada saat itu.
Perpecahan, Tragedi Sid Vicious, dan Akhir Era
Namun, kebangkitan cepat itu diiringi kehancuran yang sama cepatnya. Perseteruan internal, gaya hidup destruktif, dan Sid Vicious—yang lebih dikenal karena kontroversinya daripada permainan bassnya—membawa Sex Pistols ke jurang perpecahan. Konser mereka di Winterland Ballroom, San Francisco, pada Januari 1978 menjadi panggung terakhir sebelum band resmi bubar.
Tragedi semakin pekat ketika Nancy Spungen, kekasih Sid Vicious, ditemukan tewas pada Oktober 1978. Sid sendiri meninggal akibat overdosis beberapa bulan kemudian, pada usia 21 tahun. Dengan itu, Sex Pistols kian lekat dengan citra “sex, drugs, and rock and roll” yang tragis.
Warisan “Never Mind The Bollocks”
Meski demikian, warisan mereka terus hidup. Album Never Mind the Bollocks, Here’s the Sex Pistols kini adalah salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah musik modern. Generasi demi generasi musisi terinspirasi oleh energi mentah, lirik penuh amarah, dan keberanian mereka menantang norma.
Kembalinya band ini di era 1990-an lewat tur Filthy Lucre membuktikan bahwa nama Sex Pistols masih relevan. Bahkan ketika dunia musik sudah berubah drastis, mereka tetap tampil di depan ribuan penggemar yang haus akan legenda.
Video Klip “Anarchy in the UK”
Dalam video klip “Anarchy in the UK”, aura pemberontakan khas Sex Pistols tampil tanpa kompromi. Salah satu detail yang menegaskan sikap antikonvensional mereka adalah penempatan Johnny Rotten, sang vokalis, justru di belakang drummer.
Posisi yang terbalik dari pakem band pada umumnya ini bukan sekadar pilihan estetika, melainkan simbol penolakan terhadap aturan dan tatanan mapan dalam musik. Dengan energi mentah, dan tata letak yang kacau namun penuh makna, Sex Pistols menunjukkan bahwa punk bukan hanya soal suara bising, tetapi juga pernyataan keras untuk membongkar kebiasaan lama dan membangun identitas baru.
Video Klip itu menjadi simbol paling telanjang dari sikap anti-sistem Sex Pistols. Vokalis yang seharusnya dielu-elukan, justru “dibuang” ke belakang panggung. Kamera yang goyah, ekspresi sinis Rotten, dan energi liar para personel adalah deklarasi perang terhadap industri musik yang rapi dan penuh aturan.
Bagi publik Inggris saat itu, adegan tersebut bukan hanya gangguan estetika, melainkan penghinaan terhadap norma hiburan mapan. Di situlah letak genius sekaligus provokasi Sex Pistols: menjadikan kekacauan sebagai pesan, dan menjadikan anarki sebagai estetika baru.
Sex Pistols dan Dampaknya pada Budaya Pop Dunia
Lebih dari sekadar band, Sex Pistols adalah pernyataan politik, sosial, dan budaya. Mereka membuka mata banyak orang bahwa musik bisa menjadi senjata melawan stagnasi. “Anarchy in the UK” bukan hanya lagu, melainkan manifesto sebuah generasi.
Kini, setelah hampir lima dekade, Sex Pistols tetap dikenang bukan karena kesempurnaan musikalitasnya, melainkan karena keberanian mereka menantang arus utama. Tanpa Sex Pistols, wajah budaya populer modern mungkin tidak akan pernah sama.












