Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Taliban Larang Buku Karya Perempuan di Universitas Afghanistan

badge-check


					Seorang wanita Afghanistan saat menghadiri peresmian perpustakaan perempuan di Kabul, Afghanistan, pada 24 Agustus 2022. (foto: REUTERS/Ali Khara) Perbesar

Seorang wanita Afghanistan saat menghadiri peresmian perpustakaan perempuan di Kabul, Afghanistan, pada 24 Agustus 2022. (foto: REUTERS/Ali Khara)

KABUL, 19 September 2025 – Pemerintah Taliban memperketat aturan pendidikan tinggi di Afghanistan, larang ratusan buku, termasuk karya-karya yang ditulis oleh perempuan. Keputusan itu juga disertai pelarangan pengajaran 18 mata kuliah yang dinilai bertentangan dengan prinsip syariat versi Taliban.

Sedikitnya 680 judul buku dinyatakan bermasalah, 140 di antaranya ditulis oleh penulis perempuan. Salah satunya adalah Safety in the Chemical Laboratory. Komite peninjau buku menyebut, seluruh karya perempuan tidak lagi diperkenankan diajarkan di universitas.

“Semua buku yang ditulis oleh perempuan tidak boleh dipakai untuk mengajar,” ujar salah satu anggota komite peninjau kepada BBC Afghan.

Selain itu, enam dari 18 mata kuliah yang dilarang berkaitan langsung dengan perempuan, seperti Gender and Development, Peran Perempuan dalam Komunikasi, serta Sosiologi Perempuan.

Alasan Taliban

Dalam surat resmi yang ditandatangani Ziaur Rahman Aryubi, Wakil Direktur Akademik Kementerian Pendidikan Tinggi Taliban, keputusan ini disebut sebagai hasil kajian para “ulama dan pakar agama”. Taliban menegaskan kebijakan tersebut sejalan dengan interpretasi mereka atas budaya Afghanistan dan hukum Islam.

Pelarangan juga menyasar karya penulis Iran maupun buku terbitan Iran. Sebanyak 310 judul dalam daftar berasal dari penulis atau penerbit Iran. “Langkah ini untuk mencegah infiltrasi konten Iran ke dalam kurikulum Afghanistan,” kata seorang anggota panel.

Dampak pada Pendidikan

Larangan ini mempertebal pembatasan akses pendidikan bagi perempuan yang sudah berlangsung sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021. Perempuan dilarang menempuh pendidikan di atas kelas enam. Jalan terakhir untuk pelatihan vokasi pun ditutup pada akhir 2024 ketika program kebidanan dihentikan tanpa pengumuman resmi.

“Ketika perempuan tidak diberi hak untuk belajar, maka penindasan terhadap ide, pandangan, dan tulisan mereka menjadi hal yang wajar,” ujar Zakia Adeli. Ia adalah mantan Wakil Menteri Kehakiman sebelum Taliban berkuasa, sekaligus salah satu penulis yang karyanya masuk daftar hitam.

Lebih jauh, sejumlah akademisi menyampaikan kekhawatiran. Seorang profesor universitas di Kabul mengatakan, hilangnya buku-buku karya Iran maupun perempuan akan menciptakan kekosongan serius dalam dunia akademik. “Buku-buku terjemahan dari Iran menjadi jembatan utama universitas Afghanistan dengan komunitas akademik global. Larangan ini menciptakan kekosongan besar,” ujarnya.

Hingga kini, banyak dosen terpaksa menulis ulang materi perkuliahan sendiri dengan menyesuaikan aturan Taliban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tragedi Rio de Janeiro: Operasi Polisi Tewaskan 121 Orang

31 Oktober 2025 - 08:32 WIB

Operasi polisi di Rio de Janeiro menewaskan 121 orang, menjadikannya yang paling mematikan dalam sejarah Brasil.

Pencurian Mahkota Kerajaan di Louvre Prancis, Pakar Sebut Barang Curian Akan Hilang Selamanya

22 Oktober 2025 - 09:22 WIB

Pencurian mahkota Kerajaan di Louvre jadi aib nasional Prancis. Polisi buru geng spesialis perhiasan lintas Eropa.

Industri Film Dunia Tetap Melaju di Tengah Ancaman Tarif Trump

19 Oktober 2025 - 10:29 WIB

Ancaman tarif 100 persen dari Donald Trump tak hentikan produksi global seperti Star Wars: Starfighter. Industri film tetap melaju.

Aksi ‘No Kings’ di AS, Ribuan Warga Protes Kebijakan Trump

19 Oktober 2025 - 07:59 WIB

Ribuan warga AS turun ke jalan dalam aksi No Kings memprotes kebijakan Donald Trump yang dinilai mengancam demokrasi dan kebebasan sipil.

Tercatat Sejarah: Trump Umumkan Perang Gaza Berakhir

14 Oktober 2025 - 08:34 WIB

Hamas bebaskan sandera terakhir, Trump nyatakan perang Gaza berakhir. Dunia sambut babak baru perdamaian Timur Tengah.
Trending di Internasional