Washington – Andy Byron dan karyawannya, Kristin Cabot, terciduk selingkuh saat sedang menonton konser Coldplay pada Rabu (16/7/2025) di Massachusetts. CEO perusahaan teknologi itu, kemudian resmi mengundurkan diri setelah terekam kamera dan videonya menjadi viral di media sosial.
Dalam pernyataan melalui LinkedIn pada Sabtu (19/7/2025), Astronomer Inc. menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap nilai-nilai dan budaya kerja yang telah dipegang sejak awal pendirian.
“Pemimpin kami diharapkan menjadi panutan dalam perilaku dan akuntabilitas. Baru-baru ini, standar tersebut tidak terpenuhi,” tulis manajemen Astronomer Inc.
Sebelumnya, pada Jumat (18/7/2025), perusahaan yang berbasis di Cincinnati, Amerika Serikat, itu mengumumkan bahwa Byron telah dinonaktifkan sementara dari jabatannya, seiring dengan dilakukannya penyelidikan internal oleh dewan direksi. Seorang juru bicara perusahaan kemudian mengonfirmasi kepada pihak media bahwa pria dalam video tersebut adalah Andy Byron. Sedangkan perempuan yang bersamanya adalah Chief People Officer perusahaan, Kristin Cabot.
Terciduk di Tengah Lagu “Jumbotron Song”
Video yang viral itu memperlihatkan momen keduanya muncul di layar jumbotron Gillette Stadium di Foxborough, Massachusetts, saat konser sedang berlangsung. Saat itu, vokalis Coldplay, Chris Martin, sedang melantunkan “Jumbotron Song,” dan meminta kamera untuk mencari penonton sebagai bahan improvisasi lagu.
“Oh, lihat pasangan ini,” ujar Chris Martin kepada penonton. Namun, pasangan itu dengan cepat berusaha bersembunyi. “Ayo, tidak apa-apa kok.”
“Mereka sedang berselingkuh atau sangat pemalu,” sambung Martin kala itu, sambil menyanyikan bait singkat tentang pasangan di layar.
Komentar sang vokalis menjadi pemantik penyelidikan netizen yang kemudian berhasil mengidentifikasi dua orang dalam video tersebut. Tak butuh waktu lama hingga informasi pribadi keduanya menyebar luas di internet.
Sebagai langkah lanjutan, Astronomer Inc. menunjuk salah satu pendiri sekaligus Chief Product Officer perusahaan, Pete DeJoy, sebagai CEO sementara hingga perusahaan menemukan pengganti permanen.
Dampak Dunia Digital dan Privasi
Peristiwa ini menyoroti kembali betapa tipisnya batas antara ruang publik dan privasi di era digital. Meski sebagian besar venue konser — termasuk Gillette Stadium — telah menginformasikan bahwa penonton dapat direkam saat acara berlangsung, dampak dari penyebaran video tetap dapat memicu konsekuensi serius, terutama bagi tokoh publik atau pimpinan perusahaan.
Alison Taylor, pengajar di New York University, menilai bahwa kasus ini menyentuh sensitivitas publik terhadap perilaku para pemimpin yang dianggap melanggar norma atau etika yang seharusnya mereka junjung. “Sebenarnya, mereka mungkin akan lolos jika tidak memberikan reaksi mencolok,” kata Taylor.
Sementara itu, Mary Angela Bock dari University of Texas menyampaikan keprihatinan atas kemudahan pelacakan identitas seseorang melalui video, seiring dengan berkembangnya kecanggihan kecerdasan buatan dan biometrik.
“Internet kini bukan hanya tempat berinteraksi, tapi juga sistem pengawasan raksasa,” ungkapnya.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa setiap momen di ruang publik dapat direkam, diunggah, dan menyebar tanpa kendali. Dampak sosial dan profesional yang ditimbulkan pun tidak selalu bisa diprediksi. Terlebih bagi figur-figur yang memegang peran penting dalam organisasi atau perusahaan.












