Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

News

Terkena Kutu, Siswa di Jerman Dilarang Hadir di Sekolah hingga Sembuh

badge-check


					Terkena Kutu, Siswa di Jerman Dilarang Hadir di Sekolah hingga Sembuh Perbesar

Berlin – Seorang siswa sekolah dasar di kota Berlin dilarang mengikuti kegiatan belajar mengajar setelah ditemukan mengalami infestasi kutu rambut. Keputusan ini diambil merujuk pada Undang-Undang Perlindungan terhadap Infeksi Jerman atau Infektionsschutzgesetz (IFSG), yang mengatur ketat upaya pencegahan penyebaran penyakit menular di lingkungan sekolah. Guru yang mendeteksi gejala tersebut segera melaporkan kepada pihak sekolah, yang kemudian mengambil langkah sesuai protokol kesehatan yang berlaku.

Berdasarkan Pasal 34 IFSG, anak-anak yang menderita penyakit menular, termasuk infestasi kutu, tidak diperbolehkan masuk sekolah hingga dapat dibuktikan bahwa mereka tidak lagi menularkan penyakit tersebut. Dalam kasus ini, orang tua diminta membawa anak ke dokter atau apotek untuk mendapatkan perawatan medis yang sesuai. Setelah menjalani pengobatan, anak diperbolehkan kembali ke sekolah dengan syarat menunjukkan surat keterangan dari tenaga medis atau apoteker. Surat tersebut harus menyatakan bahwa anak telah bebas dari kutu dan tidak lagi berisiko menularkan kepada orang lain.

Infestasi kutu rambut dianggap sebagai salah satu gangguan kesehatan umum di kalangan anak-anak usia sekolah dasar. Penularannya terjadi dengan cepat melalui kontak langsung maupun berbagi barang pribadi. Meski tidak membahayakan secara serius, kutu bisa menyebabkan rasa gatal ekstrem, iritasi kulit, hingga gangguan konsentrasi belajar. Karena itu, pemerintah Jerman menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat, agar tidak berkembang menjadi wabah yang meluas. Sekolah-sekolah juga diberikan pedoman khusus untuk melakukan pemeriksaan rutin dan edukasi kepada siswa serta orang tua.

Meski kebijakan tersebut menuai pro dan kontra, terutama terkait kekhawatiran akan munculnya stigma sosial terhadap anak yang terinfeksi, pihak sekolah dan otoritas kesehatan menegaskan bahwa pendekatan yang diambil bersifat preventif dan non-diskriminatif. Beberapa organisasi perlindungan anak bahkan mengingatkan pentingnya komunikasi yang sensitif dari pihak sekolah kepada orang tua dan siswa. Pemerintah daerah menyediakan fasilitas layanan kesehatan masyarakat serta informasi seputar pencegahan kutu rambut. Dengan dukungan yang memadai, orang tua dapat menangani masalah ini tanpa rasa malu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jawa Timur Kondusif: Ibu Khofifah dan Mas Emil Fokus Melayani Program Pro Rakyat

26 Agustus 2025 - 11:52 WIB

Sri Mulyani Siapkan Anggaran untuk Badan Otorita Pantura dan Badan Industri Mineral

26 Agustus 2025 - 10:41 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani siapkan dana untuk Badan Otorita Pantura dan Badan Industri Mineral yang baru dilantik Presiden Prabowo.

Hotel Syariah di Mataram Dapat Tagihan Royalti karena Setel Murotal

25 Agustus 2025 - 10:04 WIB

Hotel Grand Madani Mataram kena tagihan royalti Rp 4,4 juta dari LMKN usai setel murotal. Manajemen tunggu aturan jelas sebelum bayar.

Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak

24 Agustus 2025 - 10:12 WIB

PT KAI tolak usulan DPR soal gerbong khusus perokok. Semua layanan kereta api tetap bebas asap rokok demi kenyamanan dan kesehatan penumpang.

Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

23 Agustus 2025 - 09:10 WIB

PT BMS Foods buka suara soal udang terkontaminasi radioaktif yang ditarik FDA. Ekspor ke Amerika ditangguhkan sementara.
Trending di News