Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Trump Desak Ukraina Akui Pendudukan Crimea, Zelenskiy Menolak: Ketegangan AS-Ukraina Memuncak

badge-check


					Trump Desak Ukraina Akui Pendudukan Crimea, Zelenskiy Menolak: Ketegangan AS-Ukraina Memuncak Perbesar

Washington/London – Upaya Amerika Serikat mendamaikan perang Rusia-Ukraina kembali memicu ketegangan, kali ini antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy. Dalam perkembangan terbaru pada Rabu (23/4/2025), Trump mendesak Ukraina agar menerima proposal perdamaian yang mencakup pengakuan pendudukan Rusia atas Crimea, sebuah syarat yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Kyiv.

Wakil Presiden AS JD Vance, yang sedang melakukan kunjungan ke India, menegaskan bahwa Washington tengah kehilangan kesabaran. Ia menyebut bahwa saatnya telah tiba bagi Rusia dan Ukraina untuk menyetujui usulan perdamaian dari AS, atau “AS akan mundur dari proses ini.”

“Cara satu-satunya untuk menghentikan pertumpahan darah adalah dengan membekukan garis wilayah di posisi saat ini dan memulai proses diplomatik jangka panjang,” ujar Vance.

Sumber diplomatik Barat yang mengetahui isi proposal menyatakan bahwa rencana itu juga mencakup pengakuan resmi atas aneksasi Crimea oleh Rusia, yang dilakukan sejak 2014 dan dikecam luas oleh masyarakat internasional.

Zelenskiy Tegas Tolak: “Melanggar Konstitusi Kami”

Presiden Zelenskiy membalas dengan pernyataan keras. Dalam konferensi pers di Kyiv, ia menyebut bahwa Ukraina tidak akan pernah menyerahkan Crimea, menegaskan hal itu “bertentangan dengan konstitusi” negaranya.

Trump menyebut penolakan itu sebagai “pernyataan yang memperkeruh suasana” dan menuduh Zelenskiy menghambat proses perdamaian. Melalui Truth Social, Trump menulis bahwa Crimea “sudah hilang sejak lama” dan “tidak perlu dibicarakan lagi.”

Meskipun pembicaraan trilateral di London berlangsung dengan suasana panas, Zelenskiy berharap kerja sama ke depan dapat menciptakan solusi damai. Ia bahkan menyertakan kembali Crimea Declaration 2018 dari Mike Pompeo, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dalam pemerintahan Trump, sebagai penegasan bahwa AS pernah menolak aneksasi Rusia atas wilayah itu.

Ketegangan AS dan Sekutu Eropa

Upaya Trump memediasi perdamaian mendapat respons beragam dari sekutu Eropa. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan membatalkan kehadiran dalam pertemuan multilateral yang dijadwalkan bersama perwakilan Ukraina, Inggris, Prancis, dan Jerma, sebuah sinyal adanya perbedaan pandangan antara Washington dan sekutunya.

Sementara itu, Keith Kellogg, utusan khusus Trump untuk Ukraina, menyatakan bahwa pembicaraan dengan Kepala Staf Zelenskiy, Andriy Yermak, berlangsung positif dan menegaskan pentingnya segera “menghentikan pembunuhan dan mewujudkan perdamaian.”

Proposal AS dilaporkan juga memuat sejumlah konsesi besar kepada Rusia, termasuk penerimaan kontrol Rusia atas 20% wilayah Ukraina yang dikuasainya saat ini, pembatalan aspirasi Ukraina bergabung dengan NATO, serta penghapusan sanksi Barat terhadap Moskow.

Pertemuan dengan Putin, Babak Baru?

Pekan ini, utusan Trump, Steve Witkoff, dijadwalkan kembali bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow, yang akan menjadi pertemuan keempat mereka sejak awal tahun.

Ketika Trump berjanji akan mengakhiri perang dalam 24 jam jika kembali menjabat presiden, negara-negara Eropa kini berada dalam posisi sulit: mempertahankan dukungan terhadap Kyiv, sambil menjaga hubungan strategis dengan Washington.

Pernyataan bersama Inggris, Prancis, dan Jerman menyebutkan bahwa “kemajuan signifikan telah dicapai” untuk menyatukan posisi bersama. “Semua pihak sepakat melanjutkan koordinasi erat dan menantikan putaran pembicaraan berikutnya,” bunyi pernyataan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional