WASHINGTON, 17 Agustus 2025 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan agar Ukraina segera membuat kesepakatan damai dengan Rusia, meski harus menyerahkan wilayah Donetsk yang menjadi target utama Moskow. Hal itu disampaikan usai pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, Jumat (15/8).
Trump mengatakan Rusia adalah “kekuatan besar” dan Ukraina harus realistis dalam menimbang langkah perdamaian. “Rusia adalah kekuatan yang sangat besar, dan mereka bukan…,” ujarnya, menegaskan bahwa perdamaian lebih penting ketimbang sekadar gencatan senjata.
Putin Tuntut Penyerahan Donetsk
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, Putin menawarkan penghentian sebagian besar garis depan asalkan Kyiv bersedia menyerahkan seluruh wilayah Donetsk. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menolak keras permintaan itu.
Saat ini, Rusia sudah menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk tiga perempat provinsi Donetsk yang pertama kali mereka masuki sejak 2014.
Zelenskiy menegaskan bahwa tanpa penghentian tembak-menembak, tidak mungkin membangun perdamaian yang adil dan berkelanjutan. “Mengakhiri pertumpahan darah adalah langkah utama menuju perdamaian,” tulisnya di X. Meski demikian, ia tetap dijadwalkan bertemu Trump di Washington pada Senin mendatang.
Pertemuan itu kemungkinan akan menghadirkan kembali memori pahit saat Zelenskiy bersitegang dengan Trump dan Wakil Presiden JD Vance di Oval Office, Februari lalu. Trump bahkan membuka kemungkinan menggelar pertemuan tiga pihak dengan Putin.
Sikap Eropa: Dukung Ukraina, Tekan Rusia
Sementara itu, para pemimpin Eropa menyambut baik upaya diplomasi Trump, tetapi menegaskan tetap mendukung penuh Ukraina. Jerman menyatakan kemungkinan turut hadir di Washington, sementara Inggris berjanji menambah sanksi terhadap Rusia bila perang berlanjut.
“Jaminan keamanan bagi Ukraina harus sekuat baja,” demikian pernyataan bersama pemimpin Eropa. Mereka menolak tuntutan Moskow agar Ukraina menutup pintu menuju keanggotaan NATO.
Pertemuan dengan Trump memberi keuntungan simbolis bagi Putin, yang sejak invasi besar-besaran Februari 2022 terisolasi dari forum Barat. “Trump menggelar karpet merah untuk Putin, tapi tak mendapat imbalan apa pun,” kritik Wolfgang Ischinger, mantan Duta Besar Jerman untuk AS.
Putin juga menegaskan bahwa keamanan Ukraina harus “terjamin”, meski tetap bersikeras pada tuntutan lama: larangan Kyiv masuk NATO.
Korban Terus Bertambah
Sejak invasi penuh pada 2022, perang Rusia–Ukraina telah menjadi konflik paling mematikan di Eropa dalam 80 tahun terakhir. Lebih dari satu juta orang dari kedua belah pihak tewas atau terluka, termasuk ribuan warga sipil Ukraina.
Meski diplomasi digelar di level tertinggi, pertempuran masih berlanjut. Serangan udara timbal balik Rusia dan Ukraina kembali terjadi pada Sabtu dini hari.