Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Wakil Presiden AS JD Vance Kritik Denmark Soal Keamanan Greenland, Picu Ketegangan Diplomatik

badge-check


					Wakil Presiden AS JD Vance, didampingi oleh Menteri Energi Chris Wright dan Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz, berbicara di Pangkalan Luar Angkasa Pituffik milik militer AS di Greenland Perbesar

Wakil Presiden AS JD Vance, didampingi oleh Menteri Energi Chris Wright dan Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz, berbicara di Pangkalan Luar Angkasa Pituffik milik militer AS di Greenland

Nuuk – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, pada Jumat waktu setempat (28/3/2025) menuding Denmark tidak cukup menjaga keamanan Greenland dari ancaman Rusia dan China. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat memberikan perlindungan lebih baik bagi wilayah semi-otonom tersebut.

Dalam kunjungannya ke pangkalan militer AS di Pituffik, wilayah utara Greenland, Vance menegaskan bahwa meskipun AS tidak memiliki rencana untuk memperluas kehadiran militer secara langsung, mereka akan berinvestasi dalam sumber daya tambahan, termasuk kapal perang dan kapal pemecah es.

“Denmark belum mengimbangi kebutuhan untuk menjaga pangkalan ini, pasukan kami, dan, menurut saya, rakyat Greenland dari berbagai ancaman agresif, terutama dari Rusia dan China,” ujar Vance tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Tanggapan Keras dari Denmark dan Greenland

Pernyataan Vance memicu reaksi keras dari Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, yang menyebut pernyataan itu tidak adil. “Selama bertahun-tahun, kami telah berdiri berdampingan dengan Amerika Serikat dalam berbagai situasi sulit. Oleh karena itu, tuduhan ini tidak mencerminkan kenyataan,” kata Frederiksen.

Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, mengakui bahwa negaranya belum berbuat cukup banyak tetapi juga menyoroti bahwa AS juga belum banyak berkontribusi dibandingkan era Perang Dingin, di mana terdapat 17 instalasi militer AS di Greenland dengan lebih dari 10.000 tentara.

Dari pihak Greenland, Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen menilai kunjungan Vance sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap kedaulatan wilayahnya. Nielsen menegaskan bahwa meskipun Greenland tetap menjalin hubungan dengan Denmark, keputusan mengenai masa depannya harus datang dari rakyatnya sendiri.

Ambisi AS atas Greenland

Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan pentingnya Greenland bagi keamanan internasional. “Kami membutuhkan Greenland untuk memastikan perdamaian dunia. Ini bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Trump juga menyoroti aktivitas Rusia dan China di wilayah perairan Greenland, dengan menyatakan bahwa AS tidak bisa bergantung pada Denmark untuk menangani ancaman tersebut.

Iring-iringan kendaraan Wakil Presiden AS JD Vance melintasi Pangkalan Luar Angkasa Pituffik milik militer AS di Greenland.

Kunjungan Vance dan Kepentingan AS

Dalam kunjungannya, Vance ditemani oleh istrinya, Usha Vance, Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz, dan Menteri Energi Chris Wright. Pangkalan Pituffik, yang berada 1.200 km di utara Lingkar Arktik, merupakan lokasi strategis bagi sistem peringatan rudal balistik AS.

Di bawah perjanjian tahun 1951, AS memiliki hak untuk mengunjungi pangkalan ini kapan saja dengan pemberitahuan kepada Greenland dan Kopenhagen.

Selain faktor keamanan, AS juga memiliki kepentingan ekonomi di Greenland. Pulau ini memiliki cadangan mineral langka yang diperkirakan dapat memainkan peran penting dalam ekonomi masa depan AS.

Namun, hingga kini, investasi AS di sektor pertambangan Greenland masih sangat terbatas, dengan perusahaan dari Australia, Kanada, dan Inggris mendominasi industri tersebut.

Reaksi Rakyat Greenland

Di tengah kunjungan Vance, muncul protes dari warga Greenland yang menolak campur tangan AS. Demonstran dengan mengenakan topi bertuliskan “Make America Go Away” dan membawa spanduk “Yankees Go Home” menggelar aksi di Nuuk.

Pada Kamis waktu setempat (27/3/2025), penduduk setempat juga menanam bendera Greenland di salju disertai papan bertuliskan “Our Land. Our Future” dalam bahasa Inggris, menegaskan keinginan mereka untuk tetap berdaulat.

Ke Mana Arah Hubungan AS-Greenland?

Meskipun langkah militer tidak dianggap sebagai opsi utama, analis politik Arktik, Andreas Oesthagen, menilai bahwa Trump dan Vance kemungkinan akan terus menekan Greenland melalui pernyataan politik, kunjungan diplomatik, dan instrumen ekonomi.

Dengan mayoritas warga Greenland yang menolak ide menjadi bagian dari Amerika Serikat, masa depan hubungan antara AS, Denmark, dan Greenland masih belum jelas. Namun, satu hal yang pasti, persaingan geopolitik di kawasan Arktik semakin memanas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional