Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Serangan Udara Israel Hantam Rumah Sakit Lapangan di Gaza, Seorang Tenaga Medis Tewas

badge-check


					Kuwaiti Field Hospital Perbesar

Kuwaiti Field Hospital

Deir Al-Balah – Sebuah serangan udara Israel menghantam gerbang utara Rumah Sakit Lapangan Kuwait di wilayah Muwasi, Jalur Gaza, Selasa (15/4/2025) waktu setempat. Serangan tersebut menewaskan seorang tenaga medis dan melukai sedikitnya 10 orang lainnya, termasuk dua pasien yang kini dalam kondisi kritis.

Direktur rumah sakit menyampaikan bahwa semua korban merupakan pasien dan staf medis. Lokasi rumah sakit tersebut berada di dekat kamp-kamp pengungsian yang menampung ratusan ribu warga Palestina yang melarikan diri dari wilayah lain akibat intensitas serangan.

Hingga laporan ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terkait serangan tersebut. Namun, dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, IDF kerap menyebut bahwa rumah sakit kerap digunakan oleh Hamas sebagai lokasi persembunyian atau pusat kendali. Tuduhan ini dibantah oleh Hamas dan para staf medis di Gaza, yang menyebut serangan-serangan itu sebagai bentuk pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan.

Serangan terbaru ini terjadi hanya tiga hari setelah rumah sakit besar terakhir yang masih memberikan layanan darurat di Gaza, Al-Ahli Hospital, dihantam serangan yang menyebabkan fasilitas tersebut tidak dapat beroperasi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengecam keras serangan terhadap fasilitas medis.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam pernyataan resminya menyebut bahwa “rumah sakit, tenaga medis, dan pasien harus dilindungi” sesuai hukum kemanusiaan internasional. Ia menambahkan bahwa blokade bantuan kemanusiaan harus segera dihentikan dan mendesak dilakukannya gencatan senjata.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyampaikan seruan serupa, menegaskan bahwa fasilitas kesehatan dan warga sipil yang terluka wajib dihormati dan dilindungi, sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa.

Sementara itu, Pemerintah Israel belum mengonfirmasi proposal baru yang dikabarkan telah diajukan kepada Hamas dalam upaya mencapai gencatan senjata. Beberapa media internasional melaporkan bahwa Israel menawarkan gencatan senjata selama 45 hari sebagai imbalan atas pembebasan sandera. Namun, Hamas menolak tawaran tersebut jika tidak disertai komitmen Israel untuk mengakhiri perang secara keseluruhan dan menarik pasukan dari Gaza.

Konflik kembali meningkat sejak Israel menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dinegosiasikan bersama Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar. Serangan balasan Israel, yang disebut sebagai upaya menekan Hamas agar menyetujui persyaratan baru, telah menewaskan lebih dari 51.000 orang di Gaza, menurut data Kementerian Kesehatan setempat. Laporan itu mencatat bahwa lebih dari separuh korban adalah perempuan dan anak-anak.

Israel menyebut telah menewaskan sekitar 20.000 militan Hamas dalam operasinya, meski belum memberikan bukti rinci.

Kementerian Kesehatan Gaza, yang berada di bawah administrasi Hamas namun dijalankan oleh tenaga medis profesional, tidak membedakan secara eksplisit antara warga sipil dan kombatan dalam laporan korban, tetapi datanya dianggap kredibel oleh sejumlah lembaga PBB dan organisasi hak asasi manusia.

Hingga kini, lebih dari 90 persen dari dua juta penduduk Gaza telah mengungsi, dengan banyak wilayah mengalami kerusakan parah akibat pertempuran.

Perang ini dipicu oleh serangan yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang diculik ke Gaza. Pemerintah Israel menyatakan bahwa hingga kini 59 orang masih menjadi sandera, dengan 24 di antaranya diyakini masih hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional