Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Serangan Udara Israel Hantam Rumah Sakit Lapangan di Gaza, Seorang Tenaga Medis Tewas

badge-check


					Kuwaiti Field Hospital Perbesar

Kuwaiti Field Hospital

Deir Al-Balah – Sebuah serangan udara Israel menghantam gerbang utara Rumah Sakit Lapangan Kuwait di wilayah Muwasi, Jalur Gaza, Selasa (15/4/2025) waktu setempat. Serangan tersebut menewaskan seorang tenaga medis dan melukai sedikitnya 10 orang lainnya, termasuk dua pasien yang kini dalam kondisi kritis.

Direktur rumah sakit menyampaikan bahwa semua korban merupakan pasien dan staf medis. Lokasi rumah sakit tersebut berada di dekat kamp-kamp pengungsian yang menampung ratusan ribu warga Palestina yang melarikan diri dari wilayah lain akibat intensitas serangan.

Hingga laporan ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terkait serangan tersebut. Namun, dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, IDF kerap menyebut bahwa rumah sakit kerap digunakan oleh Hamas sebagai lokasi persembunyian atau pusat kendali. Tuduhan ini dibantah oleh Hamas dan para staf medis di Gaza, yang menyebut serangan-serangan itu sebagai bentuk pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan.

Serangan terbaru ini terjadi hanya tiga hari setelah rumah sakit besar terakhir yang masih memberikan layanan darurat di Gaza, Al-Ahli Hospital, dihantam serangan yang menyebabkan fasilitas tersebut tidak dapat beroperasi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengecam keras serangan terhadap fasilitas medis.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam pernyataan resminya menyebut bahwa “rumah sakit, tenaga medis, dan pasien harus dilindungi” sesuai hukum kemanusiaan internasional. Ia menambahkan bahwa blokade bantuan kemanusiaan harus segera dihentikan dan mendesak dilakukannya gencatan senjata.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyampaikan seruan serupa, menegaskan bahwa fasilitas kesehatan dan warga sipil yang terluka wajib dihormati dan dilindungi, sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa.

Sementara itu, Pemerintah Israel belum mengonfirmasi proposal baru yang dikabarkan telah diajukan kepada Hamas dalam upaya mencapai gencatan senjata. Beberapa media internasional melaporkan bahwa Israel menawarkan gencatan senjata selama 45 hari sebagai imbalan atas pembebasan sandera. Namun, Hamas menolak tawaran tersebut jika tidak disertai komitmen Israel untuk mengakhiri perang secara keseluruhan dan menarik pasukan dari Gaza.

Konflik kembali meningkat sejak Israel menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dinegosiasikan bersama Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar. Serangan balasan Israel, yang disebut sebagai upaya menekan Hamas agar menyetujui persyaratan baru, telah menewaskan lebih dari 51.000 orang di Gaza, menurut data Kementerian Kesehatan setempat. Laporan itu mencatat bahwa lebih dari separuh korban adalah perempuan dan anak-anak.

Israel menyebut telah menewaskan sekitar 20.000 militan Hamas dalam operasinya, meski belum memberikan bukti rinci.

Kementerian Kesehatan Gaza, yang berada di bawah administrasi Hamas namun dijalankan oleh tenaga medis profesional, tidak membedakan secara eksplisit antara warga sipil dan kombatan dalam laporan korban, tetapi datanya dianggap kredibel oleh sejumlah lembaga PBB dan organisasi hak asasi manusia.

Hingga kini, lebih dari 90 persen dari dua juta penduduk Gaza telah mengungsi, dengan banyak wilayah mengalami kerusakan parah akibat pertempuran.

Perang ini dipicu oleh serangan yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang diculik ke Gaza. Pemerintah Israel menyatakan bahwa hingga kini 59 orang masih menjadi sandera, dengan 24 di antaranya diyakini masih hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional