Teheran – Jumlah korban jiwa akibat ledakan besar yang mengguncang Pelabuhan Bandar Abbas, Iran, terus bertambah. Hingga Minggu (27/4/2025), sedikitnya 28 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 700 orang mengalami luka-luka, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran.
Ledakan terjadi pada Sabtu (26/4/2025) di bagian Shahid Rajaee, kawasan kontainer terbesar di negara tersebut. Ledakan tersebut menghancurkan jendela dalam radius beberapa kilometer, merobek lembaran logam kontainer, serta merusak barang-barang yang tersimpan di dalamnya.
Sejumlah petugas pemadam kebakaran masih berupaya memadamkan sisa-sisa api hingga Minggu sore. Kepala Bulan Sabit Merah Iran menyatakan bahwa api telah berhasil dipadamkan hingga 90 persen. Aktivitas di bagian pelabuhan yang tidak terdampak dikabarkan telah kembali beroperasi.
Penyebab Ledakan Pelabuhan Iran Masih Diselidiki
Penyebab ledakan hingga kini belum dapat dipastikan. Sejumlah laporan awal menduga keberadaan bahan kimia di pelabuhan berkontribusi pada besarnya ledakan. Namun, Kementerian Pertahanan Iran membantah spekulasi media internasional yang mengaitkan kejadian ini dengan bahan bakar padat untuk rudal.
“Informasi yang beredar tersebut sejalan dengan operasi perang psikologis musuh,” ujar juru bicara kementerian kepada televisi pemerintah. Ia menegaskan bahwa area yang terdampak tidak menyimpan muatan militer.
Meski demikian, laporan Associated Press mengutip pernyataan firma keamanan Inggris, Ambrey, yang menyebutkan bahwa pada Maret lalu, pelabuhan tersebut menerima kiriman natrium perklorat—bahan kimia yang digunakan dalam pendorong rudal balistik—yang penyimpanannya jika tidak tepat dapat menyebabkan ledakan.
Media Financial Times sebelumnya juga melaporkan adanya pengiriman besar natrium perklorat dari Tiongkok ke Iran, cukup untuk mengisi hingga 260 rudal jarak menengah. Pengiriman tersebut disebut-sebut sebagai bagian dari upaya Iran untuk memperkuat persediaan militernya setelah ketegangan dengan Israel pada tahun 2024.
Peringatan Sejak Awal
Dalam keterangannya, juru bicara Organisasi Manajemen Krisis Iran mengungkapkan bahwa sebelumnya telah ada peringatan mengenai potensi risiko keselamatan di Pelabuhan Shahid Rajaee, khususnya terkait penyimpanan bahan kimia.
Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, meminta publik untuk menahan diri dari spekulasi sebelum hasil investigasi resmi diumumkan.
Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan fatal yang melibatkan infrastruktur energi dan industri di Iran dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, Iran pernah mengalami kebakaran kilang minyak, ledakan gas di tambang batu bara, serta kecelakaan di pelabuhan Bandar Abbas yang menewaskan satu pekerja pada 2023.
Sejumlah insiden strategis lain di Iran sebelumnya juga sempat dikaitkan dengan aksi sabotase oleh Israel, yang diketahui kerap menyerang fasilitas terkait program nuklir Iran.