Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Badan Nuklir PBB Sebut Iran Masih Mampu Membuat Bom Nuklir

badge-check


					Badan Nuklir PBB Sebut Iran Masih Mampu Membuat Bom Nuklir Perbesar

Wina – Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan bahwa Iran memiliki kapasitas untuk kembali memperkaya uranium untuk membuat bom nuklir dalam waktu “hanya beberapa bulan”, meskipun fasilitas nuklir negara itu baru saja menjadi sasaran serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel.

Grossi menyatakan pernyataan itu pada Sabtu (28/6/2025). Hal ini sekaligus membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa situs nuklir Iran telah “hancur total”.

“Terus terang, tidak bisa dikatakan bahwa semuanya telah lenyap dan tidak ada apa-apa lagi di sana,” kata Grossi.

Serangan Militer dan Kerusakan

Israel terlebih dahulu menggempur sejumlah fasilitas nuklir dan militer Iran pada 13 Juni lalu, dengan alasan bahwa Iran telah mendekati ambang pembangunan senjata nuklir. Beberapa hari kemudian, Amerika Serikat bergabung dalam serangan tersebut dan menjatuhkan bom ke tiga fasilitas utama: Fordo, Natanz, dan Isfahan.

Namun hingga kini, tingkat kerusakan fasilitas-fasilitas itu masih simpang siur. Grossi mengungkapkan bahwa meski terjadi kerusakan signifikan, Iran masih memiliki “kapasitas industri dan teknologi” untuk kembali memulai pengayaan uranium.

“Dalam hitungan bulan, mereka bisa saja kembali menjalankan beberapa rangkaian sentrifugal dan memproduksi uranium yang diperkaya,” ujarnya.

Sebuah laporan awal Pentagon yang bocor pekan ini juga mendukung pernyataan Grossi, menyebut bahwa serangan AS kemungkinan hanya menunda program nuklir Iran selama beberapa bulan.

Ketegangan Politik dan Diplomasi Terhambat

Hubungan Iran dan IAEA yang selama ini sudah renggang, kian memburuk setelah parlemen Iran pada Rabu (25/6/2025) memutuskan untuk menangguhkan kerja sama dengan badan pengawas nuklir PBB tersebut. Parlemen menuduh IAEA berpihak kepada Israel dan Amerika Serikat.

Iran bahkan menolak permintaan IAEA untuk menginspeksi fasilitas yang rusak. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui platform X menyebut permintaan Grossi untuk mengunjungi lokasi yang dibom sebagai “tidak masuk akal dan mungkin memiliki niat jahat”.

Meski demikian, Grossi tetap menyatakan komitmennya untuk berdialog. “Saya harus duduk bersama Iran dan membicarakan ini, karena pada akhirnya, semua ini harus berujung pada solusi jangka panjang yang hanya bisa dicapai melalui jalur diplomatik,” ujarnya.

Iran dan Kesepakatan Nuklir

Berdasarkan kesepakatan nuklir tahun 2015 dengan negara-negara besar dunia, Iran tidak boleh memperkaya uranium melebihi kadar 3,67 persen. Batas ini merupakan tingkat yang dibutuhkan untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir komersial. Kesepakatan itu juga melarang Iran untuk melakukan pengayaan apa pun di fasilitas Fordo selama 15 tahun.

Namun, pada 2018, Presiden Trump menarik Amerika Serikat dari perjanjian tersebut dan kembali menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Iran. Sebagai balasan, Teheran secara bertahap melanggar batas-batas dalam kesepakatan itu, termasuk melanjutkan pengayaan di Fordo mulai 2021.

Menurut laporan IAEA, hingga tahun lalu Iran telah mengumpulkan cukup uranium yang diperkaya hingga 60% untuk bisa membuat hingga sembilan bom nuklir. Meski begitu, Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan untuk kepentingan sipil.

Situasi Terkini

Saat ini, Iran dan Israel telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata, namun suasana tetap tegang. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Abdolrahim Mousavi, pada Minggu (29/6/2025) menyatakan bahwa Teheran ragu Israel akan mematuhi kesepakatan tersebut.

“Kami tidak memulai perang, tetapi kami telah merespons agresor dengan seluruh kekuatan kami,” ujarnya melalui siaran televisi pemerintah. “Dan karena kami meragukan kepatuhan musuh terhadap komitmen termasuk gencatan senjata, kami siap merespons dengan kekuatan jika diserang lagi.”

Sementara itu, Trump menegaskan bahwa ia “sepenuhnya” akan mempertimbangkan serangan militer lanjutan terhadap Iran jika intelijen menunjukkan Iran kembali memperkaya uranium ke tingkat yang mengkhawatirkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional