Jakarta – Suparta, Direktur Utama PT Refined Bangka Tin (RBT) dan terpidana dalam kasus mega korupsi tata niaga timah, dilaporkan meninggal dunia pada Senin, 28 April 2025, di RSUD Cibinong. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Harli Siregar.
“Benar. Suparta dinyatakan meninggal dunia pada Senin (28/4/2025) di RSUD Cibinong,” ujar Harli melalui pesan singkat. Ia menambahkan bahwa penyebab pasti kematian belum diketahui, namun dalam surat kematian disebutkan bahwa Suparta meninggal karena sakit.
Saat ini, pihak kejaksaan tengah melakukan proses serah terima jenazah kepada keluarga untuk pemakaman.
Profil dan Kasus Hukum Suparta
Suparta merupakan salah satu dari dua puluhan terpidana dalam kasus korupsi penambangan timah ilegal di wilayah izin usaha pertambangan (IUP) PT Timah Tbk di Bangka Belitung. Kasus ini menyebabkan kerugian negara sebesar Rp300 triliun sepanjang 2016–2021.
Pada 23 Desember 2024, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan vonis 8 tahun penjara kepada Suparta, disertai denda Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan, serta kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp4,57 triliun.
Namun, pada 13 Februari 2025, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memperberat hukuman Suparta menjadi 19 tahun penjara, dengan denda dan uang pengganti yang tetap sama. Jika tidak mampu membayar uang pengganti dalam waktu satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, harta bendanya akan disita dan dilelang. Apabila hasil lelang tidak mencukupi, Suparta akan menjalani tambahan pidana penjara selama 10 tahun.
Kuasa Hukum Suparta: PT. Timah Juga Menikmati
Tim kuasa hukum Suparta, Andi Ahmad, sebelumnya menyatakan keberatan atas putusan pengadilan, khususnya terkait perhitungan kerugian negara. Menurut mereka, majelis tidak memperhitungkan biaya operasional dalam menghasilkan bijih timah. Ia berpendapat bahwa hasil dari produksi timah juga dinikmati oleh PT Timah Tbk.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak keluarga mengenai rencana pemakaman Suparta.
Kasus korupsi timah ini menjadi salah satu skandal terbesar dalam sejarah pertambangan Indonesia, dengan melibatkan sejumlah pejabat dan pengusaha terkemuka. Meninggalnya Suparta menambah daftar panjang kontroversi dalam penegakan hukum kasus ini.